Dari Modal Rp2 Juta hingga Tiga Gerai Ayam Geprek di Palembang

Dari Pinjaman Rp2 Juta hingga Tiga Gerai, Kisah Pengusaha Ayam Geprek di Palembang

PALEMBANG, SUMATERA SELATAN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 7 October 2026, Kisah seorang ibu rumah tangga di Palembang menunjukkan bahwa keterbatasan modal tidak selalu menjadi penghalang untuk memulai usaha. Dengan modal awal sebesar Rp2 juta, ia merintis bisnis ayam geprek yang kemudian berkembang hingga memiliki tiga gerai. Perjalanan tersebut bermula dari keberaniannya memanfaatkan peluang usaha di lingkungan sekitar, sekaligus mengelola kebutuhan keluarga dan kegiatan berjualan secara bersamaan.

Modal Rp2 juta itu diperoleh melalui program Kredit Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar). Dana tersebut digunakan untuk membeli berbagai peralatan penggorengan yang menjadi kebutuhan utama dalam proses produksi ayam geprek. Pembelian perlengkapan itu menjadi langkah awal untuk menjalankan usaha secara lebih teratur, mulai dari menyiapkan bahan makanan, mengolah ayam, hingga melayani pelanggan. Dari skala sederhana tersebut, usaha perlahan memperoleh kepercayaan konsumen dan berkembang mengikuti permintaan pasar.

Perkembangan usaha hingga mencapai tiga gerai memperlihatkan dampak modal produktif bagi pelaku usaha mikro. Selain membantu menyediakan peralatan, pembiayaan tersebut memberikan kesempatan kepada penerima untuk mengubah keterampilan memasak dan kebutuhan pasar menjadi sumber pendapatan. Usaha ayam geprek yang awalnya dijalankan dengan fasilitas terbatas kemudian tumbuh melalui pengelolaan yang konsisten, pelayanan kepada pelanggan, serta kemampuan melihat potensi kuliner yang cukup kuat di Palembang.

Kisah itu disampaikan Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Drajad Wibowo saat ditemui di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Rabu (7/10/2026). Ia menuturkan pengalaman tersebut sebagai gambaran bahwa akses pembiayaan dapat membuka peluang bagi keluarga untuk membangun usaha secara bertahap. Cerita tersebut juga menegaskan pentingnya pendampingan dan pemanfaatan dana sesuai tujuan agar modal yang diterima dapat mendukung keberlanjutan bisnis.

Setelah memperoleh pembiayaan, sang ibu tidak hanya menggunakan dana tersebut untuk memenuhi kebutuhan operasional, tetapi juga untuk memperkuat kemampuan dalam menjalankan usaha. Sebagian modal dimanfaatkan membeli peralatan yang mendukung proses produksi ayam geprek, sehingga pekerjaan dapat dilakukan dengan lebih praktis, rapi, dan konsisten. Peralatan yang memadai menjadi langkah penting karena peningkatan kapasitas usaha perlu diikuti oleh kemampuan menjaga kualitas makanan serta kecepatan pelayanan.

Di luar penggunaan modal, ia menyadari bahwa perkembangan usaha sangat bergantung pada kemauan untuk terus belajar. Karena itu, YouTube menjadi salah satu sumber pengetahuan yang rutin dimanfaatkan. Melalui berbagai video, ia mempelajari resep, cara mengolah bahan, teknik membuat sambal, hingga strategi sederhana untuk menarik dan mempertahankan pelanggan. Pengetahuan tersebut kemudian dicoba secara bertahap dalam kegiatan sehari-hari, disesuaikan dengan selera konsumen dan kondisi usahanya di Palembang.

Drajad menjelaskan, “Ibu itu memperoleh modal pertama Rp2 juta, kemudian rajin menonton YouTube dan belajar.” Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pembiayaan hanyalah salah satu bagian dari perjalanan membangun usaha. Modal memang membantu menyediakan peralatan dan mendukung kebutuhan awal, tetapi hasilnya menjadi lebih berarti ketika disertai inisiatif untuk meningkatkan keterampilan.

Proses belajar mandiri itu tidak berlangsung secara instan. Ia perlu mencoba resep berulang kali, mengevaluasi rasa, memperhatikan tanggapan pelanggan, serta mencari cara agar kegiatan produksi dan penjualan berjalan lebih efisien. Ketekunan dalam menjalani proses tersebut membuatnya semakin percaya diri untuk mengembangkan usaha. Setiap pengetahuan baru menjadi dasar untuk memperbaiki produk dan pelayanan, sementara pengalaman dari kegiatan operasional membantu menentukan strategi yang lebih sesuai.

Kombinasi pemanfaatan pembiayaan, pembelian peralatan, dan kemauan belajar secara mandiri akhirnya membentuk fondasi bagi pertumbuhan usahanya. Perjalanan ini memperlihatkan bahwa pengembangan bisnis tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya modal, tetapi juga oleh konsistensi, keterbukaan terhadap pengetahuan, dan kesediaan untuk terus beradaptasi.

Perkembangan usaha ayam geprek yang dirintis dengan modal Rp2 juta menunjukkan bahwa pertumbuhan bisnis dapat berlangsung secara bertahap ketika dikelola dengan konsisten. Dari usaha awal yang beroperasi dalam skala terbatas, sang ibu kini telah mengelola tiga gerai ayam geprek di Palembang. Penambahan gerai tersebut menjadi penanda meningkatnya kepercayaan pelanggan sekaligus kemampuan usaha dalam memenuhi permintaan yang semakin luas. Pengelolaan tidak hanya mencakup kegiatan memasak dan melayani pembeli, tetapi juga pengaturan bahan baku, tenaga kerja, keuangan, serta kualitas makanan di setiap lokasi.

Selain mengoperasikan tiga gerai, ia memperluas sumber pendapatan dengan menjadi vendor penyedia makanan untuk berbagai kegiatan rapat di instansi pemerintah. Layanan katering tersebut mencakup penyediaan makanan dalam jumlah tertentu sesuai kebutuhan kegiatan, dengan perhatian pada ketepatan waktu, kebersihan, dan konsistensi rasa. Menurut Drajad, keberadaan tiga gerai dan peran sebagai pemasok konsumsi bagi instansi pemerintah memperlihatkan bahwa usaha tersebut telah berkembang melampaui bisnis keluarga berskala kecil. Jaringan pelanggan yang beragam juga membantu menjaga kesinambungan pendapatan ketika permintaan dari salah satu kanal penjualan mengalami perubahan.

Peningkatan skala usaha memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan keluarga. Pendapatan yang lebih stabil memungkinkan keluarga memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus merencanakan pembiayaan pendidikan dengan lebih baik. Salah satu hasil yang paling berarti terlihat dari keberhasilan anaknya menyelesaikan studi dan meraih gelar sarjana ekonomi. Drajad menyebut kelulusan tersebut sebagai bagian penting dari perjalanan keluarga, karena pendidikan anak menjadi salah satu tujuan utama dari perjuangan menjalankan usaha. Dengan demikian, tiga gerai ayam geprek dan aktivitas sebagai vendor bukan hanya mencerminkan pencapaian komersial, melainkan juga menjadi sarana mobilitas sosial bagi keluarga. Usaha tersebut membuka peluang kerja, memperluas hubungan dengan pelanggan dan lembaga, serta mendukung cita-cita keluarga dalam membangun masa depan yang lebih baik.

Bagi Drajad, keberhasilan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah tidak semata-mata ditentukan oleh tersedianya pembiayaan. Modal memang menjadi pijakan awal, seperti yang terlihat dari perjalanan usaha ayam geprek yang dirintis dengan modal Rp2 juta hingga berkembang menjadi tiga gerai di Palembang. Namun, keberlanjutan usaha sangat dipengaruhi oleh pendampingan dan pemberdayaan yang dilakukan secara konsisten. Pelaku usaha perlu dibantu untuk memperbaiki manajemen, memahami kebutuhan pasar, menjaga standar pelayanan, serta meningkatkan kualitas produksi.

Pendampingan tersebut membuat pembiayaan tidak berhenti sebagai tambahan dana, melainkan menjadi bagian dari proses pengembangan kapasitas. Dengan bimbingan yang tepat, pelaku UMKM dapat mengelola arus kas, menyusun strategi pemasaran, memperbaiki kemasan, dan meningkatkan produktivitas. Pendekatan ini juga membantu masyarakat menghadapi berbagai hambatan setelah memperoleh kredit, sehingga peluang usaha untuk bertahan dan berkembang menjadi lebih besar.

Pemerintah berkomitmen memperluas pemberdayaan masyarakat, terutama kelompok ekonomi menengah ke bawah, melalui kombinasi kredit terjangkau, pendampingan, dan pengembangan usaha kelompok. Kebijakan tersebut diarahkan agar masyarakat tidak hanya menerima akses modal secara individual, tetapi juga memperoleh dukungan untuk membangun kegiatan ekonomi yang saling menguatkan. Kelompok usaha dapat menjadi sarana berbagi pengetahuan, menggabungkan sumber daya, memperluas jaringan pemasaran, dan meningkatkan posisi tawar dalam rantai pasok.

Dalam upaya memperluas akses itu, Presiden juga mengarahkan agar suku bunga kredit Mekaar bagi ibu-ibu diturunkan menjadi 8 persen. Kebijakan tersebut diharapkan meringankan beban pembiayaan sekaligus memberi ruang lebih besar bagi keluarga untuk mengembangkan usaha produktif. Drajad menyatakan, pertumbuhan kelompok ekonomi bawah ke depan akan lebih banyak didorong oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Sasaran penerimanya pun ditargetkan mencapai puluhan juta orang, bukan hanya belasan juta, sehingga manfaat pemberdayaan dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *