Luhut Dorong Penguatan Rumput Laut dan Hayati Indonesia Bernilai Tambah

Luhut Dorong Penguatan Rumput Laut dan Hayati Indonesia Bernilai Tambah

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 7 October 2026, Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menilai pengembangan rumput laut Indonesia memiliki landasan potensi yang kuat dan dapat dikembangkan menjadi sektor ekonomi bernilai tambah. Menurutnya, peluang tersebut bukan sekadar wacana, karena Indonesia mempunyai wilayah luas yang mendukung kegiatan budi daya serta sumber daya hayati yang dapat diolah secara berkelanjutan. Potensi ini menjadi salah satu dasar penting untuk mendorong penguatan industri berbasis kelautan dan meningkatkan kontribusinya terhadap perekonomian nasional.

Luhut menyampaikan pandangan tersebut dalam Indonesia International Sustainability Forum (ISF) yang berlangsung di Jakarta pada Rabu, 7 Oktober 2026. Dalam forum yang membahas agenda keberlanjutan itu, ia menekankan bahwa Indonesia memiliki sekitar 3 juta hektare wilayah yang dapat dimanfaatkan untuk budi daya rumput laut. Luasan tersebut menunjukkan adanya ruang pengembangan yang besar, baik untuk memperluas produksi maupun membangun rantai pengolahan setelah tahap panen.

Besarnya wilayah potensial itu juga membuka peluang bagi Indonesia untuk tidak berhenti pada penjualan rumput laut sebagai komoditas mentah. Dengan penguatan teknologi, investasi, tata kelola, dan kapasitas pelaku usaha, rumput laut dapat dikembangkan menjadi berbagai produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi. Pendekatan tersebut sejalan dengan kebutuhan untuk memperkuat industri domestik, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan manfaat yang diterima masyarakat pesisir.

Untuk menggambarkan besarnya peluang tersebut, Luhut menggunakan istilah “bukan kaleng-kaleng”. Ungkapan itu menegaskan bahwa potensi rumput laut Indonesia memiliki skala yang nyata dan layak menjadi perhatian strategis. Pemanfaatan sekitar 3 juta hektare wilayah budi daya secara terarah dapat menjadi pijakan bagi pengembangan komoditas yang lebih produktif, berkelanjutan, dan terhubung dengan industri pengolahan bernilai tambah.

Pemerintah menempatkan pembangunan pusat penelitian di Buleleng, Bali, dan Lombok, Nusa Tenggara Barat, sebagai langkah strategis untuk mengembangkan potensi rumput laut serta kekayaan hayati Indonesia. Kedua wilayah tersebut memiliki sumber daya laut yang besar dan selama ini dikenal sebagai sentra produksi rumput laut. Namun, pengembangan komoditas itu tidak cukup berhenti pada kegiatan budidaya dan penjualan bahan mentah. Melalui fasilitas penelitian, pemerintah ingin mendorong pengolahan yang menghasilkan produk bernilai tambah, memperluas pasar, serta memperkuat posisi Indonesia dalam rantai industri global.

Pusat riset tersebut diharapkan menjadi tempat untuk mengembangkan teknologi pengolahan, menguji berbagai inovasi, dan menghasilkan pengetahuan yang dapat diterapkan oleh pelaku usaha. Rumput laut dapat dimanfaatkan untuk pangan, kosmetik, farmasi, bahan kemasan, hingga berbagai produk industri. Dengan dukungan penelitian yang terarah, pemanfaatan komoditas itu dapat dilakukan secara lebih efisien, berkelanjutan, dan sesuai standar pasar. Keberadaan fasilitas di Buleleng dan Lombok juga berpotensi mempertemukan peneliti, pemerintah, masyarakat pesisir, serta investor dalam membangun ekosistem usaha yang lebih kuat.

Luhut menekankan bahwa peluang tersebut membutuhkan dukungan riset, teknologi, dan investasi berkelanjutan. Riset diperlukan untuk menemukan metode produksi dan pengolahan yang lebih baik, sedangkan teknologi membantu meningkatkan mutu serta skala industri. Pada saat yang sama, investasi menjadi faktor penting agar hasil penelitian dapat dikembangkan menjadi kegiatan komersial yang menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Sinergi ketiga unsur itu akan menentukan apakah kekayaan alam dapat diubah menjadi kekuatan ekonomi yang nyata.

Dalam menyampaikan besarnya peluang tersebut, Luhut menggunakan istilah “kaleng-kaleng” sebagai selorohan untuk membuat peserta tertawa. Ungkapan itu sekaligus menegaskan bahwa Indonesia memiliki kekayaan hayati yang istimewa dan sangat besar, tetapi belum digarap secara maksimal. Dengan pembangunan pusat penelitian di Buleleng dan Lombok, potensi tersebut diharapkan tidak lagi hanya menjadi sumber daya mentah, melainkan berkembang menjadi fondasi industri hayati nasional yang inovatif, kompetitif, dan berkelanjutan.

Selain rumput laut, Luhut menyoroti kemenyan sebagai salah satu kekayaan hayati Indonesia yang memiliki peluang besar untuk dikembangkan. Indonesia disebut menguasai sekitar 60 persen pasokan kemenyan dunia, sementara kawasan Danau Toba memiliki area hutan kemenyan seluas kurang lebih 30.000 hektare. Potensi tersebut tidak hanya penting sebagai komoditas mentah, tetapi juga sebagai dasar bagi pengembangan industri berbasis riset dan inovasi.

Menurut pandangan Luhut, kemenyan dan ribuan tanaman hayati lainnya dapat diolah menjadi produk farmasi bernilai tambah tinggi. Pengembangan itu memerlukan penelitian yang konsisten, pemetaan kandungan bioaktif, serta dukungan terhadap generasi muda Indonesia. Melalui riset anak muda, kekayaan alam dapat diarahkan untuk menghasilkan bahan baku obat, suplemen, kosmetik medis, dan berbagai produk kesehatan dengan standar yang lebih kompetitif. Pendekatan ini juga membuka peluang agar manfaat ekonomi tersebar kepada masyarakat di sekitar kawasan penghasil.

Potensi tersebut diperkuat oleh keberadaan pusat penelitian herbal di Sumatra Utara. Pusat ini mengoleksi 396 spesies herbal dan telah memverifikasi lebih dari 2.000 jenis tanaman. Koleksi serta data tersebut menjadi modal penting untuk mengidentifikasi tanaman yang berpotensi digunakan dalam pengembangan terapi dan produk kesehatan. Kegiatan penelitian juga didukung teknologi genome sequencing, dengan kapasitas komputasi yang mencapai hingga 400 petaflops. Kemampuan itu memungkinkan analisis genetik dilakukan secara lebih cepat dan mendalam, sehingga proses menemukan senyawa unggulan, memastikan mutu, serta mengembangkan produk berbasis tanaman dapat berlangsung lebih terarah. Dengan penguatan ekosistem penelitian, kemenyan dan tanaman herbal Indonesia berpeluang naik kelas dari sumber daya alam menjadi produk farmasi inovatif yang memiliki daya saing global.

Luhut mendorong pemanfaatan kecerdasan buatan untuk mempercepat penelitian berbasis bahan alam Indonesia. Teknologi tersebut dapat digunakan untuk menganalisis molekul yang terdapat dalam berbagai tanaman, sehingga peneliti lebih cepat mengidentifikasi kandungan berpotensi sebagai bahan obat. Pendekatan ini diharapkan mempersingkat tahapan riset, mulai dari pemetaan senyawa, pengujian awal, hingga penentuan kandidat yang layak dikembangkan lebih lanjut.

Menurutnya, perpaduan kekayaan sumber daya alam, talenta lokal, dan teknologi canggih dapat membuka peluang investasi baru. Indonesia tidak hanya memiliki keanekaragaman hayati, tetapi juga semakin banyak tenaga ahli yang mampu mengembangkan pemanfaatannya secara ilmiah dan komersial. Dengan dukungan infrastruktur riset serta pengolahan yang memadai, potensi tersebut dapat diarahkan menjadi produk farmasi dan bioteknologi bernilai tambah.

Luhut juga menekankan pentingnya menyatukan orang-orang pintar di Indonesia untuk memecahkan berbagai persoalan. Kolaborasi ilmuwan, pelaku industri, pemerintah, dan generasi muda dinilai diperlukan agar pengetahuan tidak berhenti di ruang penelitian. Kerja bersama dapat mempercepat penerapan temuan, memperkuat daya saing, dan membangun ekosistem inovasi yang berkelanjutan.

Ia mengajak investor global memperkuat ekosistem industri nasional melalui inovasi bersama. Ruang kerja sama itu mencakup pengembangan nikel, baterai, kendaraan listrik, pertanian, bioteknologi, dan rumput laut. Arah yang didorong adalah transformasi Indonesia dari pemasok bahan mentah menjadi negara penghasil produk bernilai tambah, dengan riset, teknologi, dan kemitraan sebagai penggerak utama pengembangan industri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *