JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 7 October 2026, Kementerian Pariwisata mendorong budaya ditempatkan sebagai unsur penting dalam pengembangan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan. Pariwisata tidak semata-mata diarahkan untuk meningkatkan jumlah kunjungan, melainkan juga untuk menghadirkan pengalaman yang bermakna bagi wisatawan sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat setempat. Dalam kerangka ini, budaya menjadi kekuatan yang membedakan suatu destinasi karena memuat sejarah, pengetahuan, nilai spiritual, serta cara hidup yang berkembang secara turun-temurun.
Pengembangan pariwisata berbasis budaya perlu dilakukan secara hati-hati agar tidak mengubah tradisi menjadi sekadar tontonan. Kelestarian upacara, norma, dan nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat harus menjadi pertimbangan utama. Masyarakat lokal perlu tetap memiliki ruang untuk menentukan bentuk pelaksanaan tradisi, sementara wisatawan diarahkan untuk menghormati aturan, kesakralan, dan tata krama yang berlaku. Pendekatan tersebut dapat menciptakan hubungan yang lebih seimbang kepentingan pariwisata dan perlindungan identitas budaya.
Salah satu contoh yang mencerminkan kekuatan tersebut adalah Upacara Tawur Agung Manca Wali Krama di Pura Hulundanu Batur, Desa Songan, Kintamani, Bali. Ritual yang berlangsung pada 12 Agustus hingga 6 Oktober 2026 ini merupakan upacara sepuluh tahunan yang memiliki makna spiritual dan sosial bagi masyarakat. Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menilai ritual tersebut menunjukkan kekuatan pariwisata berbasis budaya, karena daya tariknya tidak hanya terletak pada kemegahan prosesi, tetapi juga pada nilai, keyakinan, dan partisipasi masyarakat yang menjaganya.
Melalui pengalaman seperti itu, wisatawan tidak hanya menikmati keindahan alam Bali, tetapi juga berkesempatan memahami budaya yang hidup dan terus dipraktikkan. Interaksi dengan masyarakat, keramahan warga, serta penghormatan terhadap tradisi memperkaya perjalanan sekaligus membangun apresiasi terhadap keberagaman. Karena itu, pariwisata berkualitas harus tumbuh bersama masyarakat dan alam, bukan mengorbankan keduanya demi kepentingan jangka pendek.
Nilai Tri Hita Karana menjadi landasan penting dalam pelaksanaan berbagai upacara dan tradisi masyarakat Bali. Ajaran ini menekankan keselarasan hubungan manusia dan Tuhan, manusia dengan sesama, serta manusia dengan alam. Dalam setiap rangkaian upacara, hubungan tersebut tidak hanya tampak melalui doa dan persembahan, tetapi juga melalui cara masyarakat menjaga kesucian tempat, menghormati lingkungan, dan membangun kebersamaan. Tradisi menjadi gambaran nyata bahwa kehidupan spiritual, sosial, dan ekologis saling berkaitan.
Pelaksanaan upacara juga mencerminkan ketulusan bhakti yang diwariskan lintas generasi. Warga terlibat sesuai peran masing-masing, mulai dari menyiapkan sarana upacara, menjaga ketertiban, hingga melaksanakan prosesi secara bersama-sama. Semangat gotong royong ini memperkuat ikatan sosial sekaligus memastikan pengetahuan budaya tetap hidup. Anak-anak dan generasi muda belajar memahami makna tradisi melalui keterlibatan langsung, bukan semata-mata melalui penjelasan di ruang pendidikan.
Bagi wisatawan, budaya yang hidup memberikan pengalaman yang lebih bermakna ketika berpadu dengan daya tarik alam Bali. Keindahan danau, pegunungan, hutan, serta kawasan suci menjadi semakin bernilai ketika pengunjung dapat menyaksikan keramahan warga dan memahami nilai yang melandasi kehidupan setempat. Interaksi yang berlangsung secara hormat memungkinkan wisatawan menikmati Bali bukan hanya sebagai destinasi visual, melainkan sebagai ruang budaya yang memiliki kedalaman spiritual dan sosial. Pengalaman tersebut sekaligus mendorong penghargaan terhadap adat, tata krama, dan kelestarian lingkungan.
Widiyanti berharap tradisi terus dijalankan oleh generasi muda agar nilai-nilai luhur tidak terputus oleh perubahan zaman. Ia juga menekankan pentingnya menjaga kesucian kawasan Batur serta memelihara kerukunan dalam kehidupan bersama. Harapan ini menunjukkan bahwa pariwisata berkelanjutan memerlukan partisipasi masyarakat, penghormatan terhadap ruang sakral, dan kepedulian terhadap alam. Dengan demikian, budaya dan lingkungan dapat terus menjadi kekuatan utama yang mendukung kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkaya pengalaman setiap wisatawan.
Kawasan Batur merupakan salah satu ruang warisan alam yang memiliki kekayaan geologi, keanekaragaman hayati, serta kebudayaan yang saling berkaitan. Lanskap ini tidak hanya menawarkan keindahan Gunung Batur dan Danau Batur, tetapi juga menyimpan pengetahuan, tradisi, serta nilai spiritual yang diwariskan antargenerasi. Pada 2012, Batur ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark pertama di Indonesia dengan luas mencapai 36.640 hektare. Penetapan tersebut menegaskan pentingnya kawasan Batur sebagai ruang perlindungan alam sekaligus pusat pembelajaran mengenai hubungan manusia, lingkungan, dan kebudayaan.
Dalam pandangan teologis masyarakat Bali, Gunung Batur dan Danau Batur memiliki makna simbolis yang mendalam. Gunung Batur dipahami sebagai simbol purusa, yaitu unsur maskulin, prinsip ilahi, atau kekuatan yang memberi arah dan kehidupan. Sementara itu, Danau Batur dimaknai sebagai simbol pradana, yakni unsur feminin yang menerima, mengolah, dan memelihara kehidupan. Kesatuan purusa dan pradana menggambarkan prinsip keseimbangan yang menjadi dasar keharmonisan semesta. Pemaknaan tersebut menjadikan gunung dan danau bukan sekadar objek geografis, melainkan bagian penting dari tatanan sakral masyarakat.
Air yang berasal dari kawasan Batur mempunyai peran strategis bagi kehidupan masyarakat Bali. Danau, mata air, serta jaringan aliran air di sekitarnya menopang kebutuhan rumah tangga, pertanian, peternakan, dan berbagai aktivitas sosial. Air dipandang sebagai sumber kehidupan, kesuburan, kemakmuran, dan kesejahteraan. Karena itu, pemeliharaan kawasan Batur tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab menjaga kualitas air, hutan, tanah, dan keanekaragaman hayati yang mendukung keberlangsungan kehidupan.
Pelaksanaan Tawur Agung Manca Wali Krama memperkuat kesadaran kolektif mengenai pentingnya keseimbangan hubungan manusia, Tuhan, dan alam. Upacara ini mencerminkan upaya memulihkan harmoni melalui penghormatan terhadap kekuatan adikodrati sekaligus kepedulian terhadap lingkungan. Nilai tersebut relevan bagi pengembangan pariwisata berkelanjutan, karena kegiatan wisata di kawasan Batur perlu menghormati kesucian ruang, melindungi ekosistem, serta melibatkan masyarakat sebagai penjaga warisan alam dan budaya.
Kementerian Pariwisata menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi masyarakat dalam menjaga kesucian kawasan Gunung dan Danau Batur. Pendampingan tersebut tidak hanya berorientasi pada perlindungan lingkungan, tetapi juga pada penguatan nilai budaya, adat, dan spiritual yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat setempat. Kawasan Batur dipandang sebagai ruang hidup yang memiliki makna mendalam, sehingga pengembangannya sebagai destinasi wisata perlu dilakukan secara hati-hati, bertanggung jawab, dan selaras dengan kearifan lokal.
Dalam kunjungan kerjanya ke Batur UNESCO Global Geopark, Widiyanti melihat secara langsung berbagai upaya edukasi dan pelestarian warisan alam yang dijalankan di kawasan tersebut. Kegiatan edukasi menjadi sarana untuk meningkatkan pemahaman pengunjung dan generasi muda mengenai pentingnya menjaga ekosistem, menghormati kesucian tempat, serta merawat tradisi yang diwariskan antargenerasi. Pengalaman tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pelestarian dapat berjalan beriringan dengan pengembangan pariwisata yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Pada kesempatan itu, Widiyanti juga menerima penjelasan mengenai proses revalidasi Batur UNESCO Global Geopark. Kawasan ini telah berhasil mempertahankan status hijau selama empat kali, sebuah pencapaian yang mencerminkan konsistensi dalam mengelola warisan geologi, alam, dan budaya. Status tersebut menjadi pengakuan atas kerja bersama pemerintah, pengelola, komunitas adat, pelaku usaha, serta warga yang terus menjaga kualitas dan keberlanjutan kawasan.
Ke depan, kolaborasi berbagai pihak diharapkan semakin kuat agar pariwisata berbasis budaya dapat tumbuh tanpa mengurangi kesucian dan kelestarian Batur. Manfaat ekonomi yang dihasilkan perlu dirasakan secara adil melalui kesempatan usaha, peningkatan kapasitas masyarakat, dan perlindungan terhadap identitas lokal. Warisan tradisi, kesucian kawasan Batur, kerukunan, serta keharmonisan harus terus dijaga demi kerahayuan dan kesejahteraan Bali, sekaligus bagi seluruh umat di Indonesia.

