Sesak Napas di Tengah Kabut Asap, Driver Ojol Palembang Meninggal Dunia

Sesak Napas di Tengah Kabut Asap, Driver Ojol Palembang Meninggal Dunia

PALEMBANG, SUMATERA SELATAN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 6 October 2026, Hardiansyah, 41, seorang pengemudi ojek online yang tinggal di Lorong Mataram, RT 01/RW 01, Kelurahan Kemas Rindo, Kecamatan Kertapati, Palembang, meninggal dunia setelah mengalami sesak napas berat pada Jumat pagi, 2 Oktober 2026. Peristiwa tersebut terjadi ketika kabut asap menyelimuti sejumlah wilayah Palembang. Saat itu, Hardiansyah sedang bersiap untuk bekerja seperti biasa sebelum mengeluhkan kondisi tubuhnya kepada sang istri, Rika Yunita Sari, 39.

Menurut keterangan Rika, suaminya menyampaikan bahwa napasnya terasa sesak ketika hendak berangkat mencari penumpang. Rika kemudian mengerok tubuh Hardiansyah sesuai permintaannya. Namun, setelah itu kondisi pengemudi ojek online tersebut justru memburuk. Tubuh Hardiansyah disebut mulai membiru sehingga keluarga panik dan segera berupaya memberikan pertolongan. Mereka kemudian membawa Hardiansyah ke RSUD Bari Palembang untuk mendapatkan penanganan medis.

Meski telah dilarikan ke rumah sakit, nyawa Hardiansyah tidak tertolong. Ia dinyatakan meninggal dunia setelah tiba di RSUD Bari Palembang. Rika menuturkan, kondisi suaminya mengalami penurunan yang sangat cepat. Hardiansyah yang semula masih bersiap bekerja mendadak mengalami sesak berat, kemudian tubuhnya membiru, sebelum akhirnya meninggal. “Tidak sampai satu jam sejak mulai drop sampai meninggal,” kata Rika saat menceritakan kondisi terakhir suaminya.

Keluarga masih berduka atas kejadian tersebut. Hingga saat ini, informasi mengenai penyebab pasti meninggalnya Hardiansyah perlu menunggu keterangan medis dari pihak rumah sakit atau pemeriksaan lebih lanjut. Keluhan sesak napas yang dialaminya muncul di tengah perhatian warga terhadap kualitas udara dan kabut asap di Palembang. Namun, hubungan langsung paparan kabut asap dan kematian Hardiansyah belum dapat dipastikan tanpa hasil pemeriksaan resmi.

Hardiansyah diketahui memiliki riwayat asma sejak masih kecil. Namun, menurut keterangan istrinya, Rika, penyakit tersebut jarang kambuh dan selama ini tidak terlalu mengganggu aktivitas sehari-hari. Kondisinya mulai mengalami penurunan setelah kebakaran hutan dan lahan terjadi tidak jauh dari tempat tinggal mereka pada 15 September 2026. Sejak peristiwa itu, Hardiansyah lebih sering mengeluhkan sesak napas dan batuk.

Meski Palembang dikepung kabut asap, Hardiansyah tetap menjalankan pekerjaannya sebagai pengemudi ojek online seperti biasa. Untuk mengurangi paparan, ia berusaha mengenakan masker saat berada di luar rumah dan ketika membawa penumpang. Namun, perlindungan tersebut dinilai tidak sepenuhnya menghindarkannya dari asap, terutama karena sebagian besar waktu kerjanya dihabiskan di jalan. Rika menuturkan, suaminya kerap mengeluhkan banyaknya asap setelah pulang bekerja. Keluhan itu biasanya disertai rasa sesak dan batuk yang semakin sering muncul.

Menurut keluarga, perubahan kondisi Hardiansyah berlangsung setelah kualitas udara memburuk akibat kebakaran hutan dan lahan. Mereka menduga paparan asap tersebut berkaitan dengan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang dialaminya sebelum meninggal. Dugaan itu juga dikaitkan dengan riwayat asma yang dimiliki Hardiansyah, karena asap dapat memperberat gangguan pernapasan pada orang yang memiliki sensitivitas saluran napas. Meski demikian, hubungan paparan asap, ISPA, dan kematian Hardiansyah masih merupakan dugaan keluarga, bukan kesimpulan medis yang telah dipastikan. Penetapan penyebab kematian memerlukan pemeriksaan serta keterangan tenaga kesehatan atau pihak berwenang.

Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru meminta masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan penyebab meninggalnya Hardiansyah, pengemudi ojek online (ojol) di Palembang, tanpa didukung bukti yang valid. Pernyataan tersebut disampaikan untuk menjaga agar informasi mengenai kasus ini tidak berkembang menjadi dugaan yang belum terverifikasi, terutama ketika kondisi kabut asap sedang menjadi perhatian publik.

Deru menyatakan belum dapat memberikan banyak komentar mengenai kematian Hardiansyah karena penyebab pastinya harus diketahui melalui pemeriksaan medis secara menyeluruh. Menurut dia, keterangan mengenai kondisi kesehatan korban, riwayat penyakit, serta faktor lain yang mungkin berpengaruh perlu ditelusuri oleh pihak berwenang dan tenaga medis. Apabila diperlukan, autopsi dapat menjadi bagian dari proses untuk memperoleh kesimpulan yang lebih objektif dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sikap tersebut tidak berarti membenarkan ataupun menolak dugaan bahwa Hardiansyah meninggal akibat infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) atau paparan kabut asap. Dugaan itu tetap perlu diuji berdasarkan temuan medis, bukan hanya berdasarkan waktu kejadian atau kondisi lingkungan di sekitar korban. Penentuan sebab kematian harus mengacu pada pemeriksaan profesional, termasuk hasil pemeriksaan dokter dan, bila dilakukan, laporan autopsi.

Imbauan Gubernur Sumatera Selatan itu juga menjadi pengingat agar masyarakat dan berbagai pihak menunggu informasi resmi sebelum menyebarkan kesimpulan. Di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak kabut asap, perhatian terhadap kesehatan publik tetap penting, tetapi penyampaian informasi harus dilakukan secara hati-hati. Dengan demikian, keluarga korban memperoleh kepastian yang layak, sementara masyarakat mendapatkan penjelasan berdasarkan data medis yang jelas, bukan spekulasi.

Pemerintah daerah mengambil sejumlah langkah untuk merespons dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat, terutama meningkatnya risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru mengaku telah menginstruksikan seluruh bupati dan wali kota agar menyiagakan pelayanan puskesmas selama 24 jam. Kebijakan tersebut ditujukan bagi warga yang membutuhkan pemeriksaan dan penanganan segera, khususnya pasien dengan keluhan sesak napas, batuk, atau gangguan pernapasan lain yang diduga berkaitan dengan paparan asap.

Selain memperpanjang jam layanan, pemerintah juga memberlakukan pengobatan gratis bagi pasien ISPA. Fasilitas ini diharapkan dapat meringankan beban warga yang terdampak, sekaligus memastikan masyarakat tidak menunda pemeriksaan karena pertimbangan biaya. Pelayanan kesehatan yang mudah dijangkau menjadi penting dalam situasi kualitas udara menurun, sebab gangguan pernapasan dapat memburuk apabila tidak segera ditangani, terutama pada anak-anak, lansia, dan warga yang memiliki penyakit penyerta.

Di Kota Palembang, enam puskesmas disebut telah membuka layanan selama 24 jam. Keenam fasilitas tersebut adalah Puskesmas Pembina Plaju, Puskesmas Sukarami, Puskesmas Basuki Rahmat, Puskesmas Alang-Alang Lebar, Puskesmas Sei Selincah, dan Puskesmas Sematang Borang. Masyarakat yang mengalami gejala ISPA dapat memanfaatkan layanan tersebut untuk memperoleh pemeriksaan, konsultasi, serta pengobatan sesuai kebutuhan medis.

Pemerintah provinsi juga mengarahkan pemerintah daerah untuk memperbanyak posko kesehatan di wilayah dengan jumlah penduduk terbanyak. Posko tersebut diharapkan memudahkan pemantauan kondisi warga dan mempercepat akses pertolongan. Pemeriksaan rutin bagi masyarakat turut diminta untuk ditingkatkan, terutama di kawasan yang paling terdampak asap. Herman Deru menegaskan bahwa penanganan ISPA bukan hanya tugas tenaga medis atau pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kewaspadaan dan partisipasi seluruh masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *