DENPASAR, BALI — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 5 October 2026, Dinas Kesehatan Provinsi Bali meminta seluruh pemerintah kabupaten dan kota meningkatkan kewaspadaan dini terhadap kemungkinan penyebaran influenza tipe A. Imbauan tersebut disampaikan setelah ditemukan sembilan sampel positif influenza A dari pemeriksaan yang dilakukan melalui laboratorium rujukan nasional.
Secara keseluruhan, terdapat 113 sampel yang dikirim untuk menjalani pemeriksaan. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Bali, I Gusti Ayu Raka Susanti, menjelaskan bahwa pasien yang teridentifikasi positif influenza A telah sembuh. Meski demikian, temuan tersebut tetap menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk memperkuat pemantauan terhadap kasus bergejala serta meningkatkan kesiapsiagaan fasilitas kesehatan.
Sampel-sampel itu dikumpulkan dari pasien yang memenuhi kriteria influenza dan influenza berat. Pengumpulan dilakukan melalui dua fasilitas pelayanan kesehatan yang telah ditetapkan sebagai fasilitas sentinel surveilans influenza di Bali. Fasilitas sentinel berperan dalam mendeteksi pola penyakit secara berkala, sehingga perubahan jumlah maupun karakteristik kasus dapat segera diketahui.
Pemeriksaan tersebut menggunakan sistem surveilans influenza-like illness (ILI) dan severe acute respiratory infection (SARI). Surveilans ILI digunakan untuk memantau pasien dengan gejala influenza, sedangkan SARI mencakup kasus infeksi saluran pernapasan akut berat yang memerlukan perhatian lebih lanjut. Data dari kedua sistem itu membantu petugas kesehatan mengidentifikasi virus yang beredar dan menilai potensi peningkatan kasus.
Dinkes Bali mendorong kabupaten dan kota untuk memastikan pelaporan berjalan secara konsisten, terutama apabila ditemukan pasien dengan gejala influenza atau infeksi saluran pernapasan berat. Penguatan deteksi dini diperlukan agar setiap kasus dapat ditangani sesuai prosedur, sekaligus mendukung upaya pencegahan penularan di masyarakat. Masyarakat juga diharapkan segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala yang menetap atau memburuk, khususnya gangguan pernapasan.
Data yang disampaikan Dinas Kesehatan Bali menunjukkan bahwa infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) masih menjadi kondisi yang paling banyak ditemukan dalam kunjungan masyarakat ke berbagai fasilitas kesehatan. Kasus tersebut tercatat terutama di puskesmas, yang menjadi salah satu tempat masyarakat memperoleh pemeriksaan dan penanganan ketika mengalami keluhan pada saluran pernapasan.
Dominasi ISPA menggambarkan bahwa gangguan pernapasan masih menjadi perhatian dalam pelayanan kesehatan sehari-hari di Bali. Keluhan yang berkaitan dengan saluran pernapasan dapat muncul dengan tingkat keparahan yang beragam sehingga masyarakat tetap perlu memperhatikan kondisi tubuh dan mengikuti arahan tenaga kesehatan apabila mengalami gejala.
Di tengah banyaknya kasus ISPA, influenza tipe A juga masih terdeteksi di masyarakat. Dinas Kesehatan Bali meminta pemerintah kabupaten dan kota mewaspadai temuan tersebut agar pemantauan terhadap penyakit pernapasan dapat dilakukan secara lebih cermat. Kehadiran influenza tipe A tidak berarti seluruh pasien mengalami kondisi berat. Sebagian besar kasus influenza tipe A tergolong ringan dan dapat pulih tanpa memerlukan rawat inap.
Pasien dengan kondisi ringan dapat menjalani perawatan secara rawat jalan. Penyakit tersebut umumnya dapat sembuh sendiri, dengan tetap memperhatikan anjuran tenaga kesehatan dan perkembangan gejala yang dialami. Pemantauan diperlukan apabila kondisi pasien berubah atau keluhan menjadi lebih berat, sehingga penanganan dapat disesuaikan berdasarkan kebutuhan medis.
Dengan demikian, ISPA tetap menjadi gambaran utama kondisi penyakit pernapasan yang ditemukan dalam kunjungan ke fasilitas kesehatan, sementara influenza tipe A perlu tetap diwaspadai. Informasi mengenai sifat sebagian besar kasus yang ringan dapat membantu masyarakat memahami bahwa tidak semua infeksi memerlukan perawatan di rumah sakit, sekaligus mendorong kewaspadaan terhadap perubahan kondisi selama masa pemulihan.
Permintaan Dinas Kesehatan Bali agar kabupaten dan kota meningkatkan kewaspadaan tetap penting meskipun sebagian besar dari sembilan kasus Influenza A yang teridentifikasi menunjukkan gejala ringan. Infeksi influenza pada umumnya dapat pulih dengan perawatan yang tepat, tetapi perjalanannya tidak selalu sama pada setiap orang. Dalam kondisi tertentu, virus dapat berkembang menjadi penyakit yang lebih berat, terutama pada kelompok rentan seperti anak kecil, lanjut usia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit kronis atau daya tahan tubuh yang rendah.
Gejala yang memburuk perlu dikenali sejak dini. Penderita dapat mengalami demam, batuk, dan kelelahan yang berlanjut menjadi sesak napas. Influenza juga berpotensi memicu pneumonia atau radang paru, yakni kondisi ketika jaringan paru mengalami peradangan dan tubuh kesulitan memperoleh oksigen. Jika tidak ditangani secara cepat, komplikasi tersebut dapat menyebabkan gangguan pernapasan berat, memperburuk penyakit penyerta, bahkan berujung pada kematian. Karena itu, masyarakat dianjurkan mencari pertolongan medis apabila gejala semakin berat atau muncul tanda kesulitan bernapas.
Penularan Influenza A berlangsung melalui droplet atau partikel pernapasan yang keluar ketika orang terinfeksi batuk, bersin, atau berbicara, khususnya di ruang publik. Virus juga dapat berpindah melalui tangan atau permukaan benda yang terkontaminasi, kemudian masuk ketika seseorang menyentuh mata, hidung, atau mulut. Risiko meningkat di ruangan tertutup dengan ventilasi buruk dan kepadatan tinggi, termasuk sekolah, tempat penitipan anak, fasilitas kesehatan, serta lokasi yang memungkinkan kontak erat. Menjaga sirkulasi udara, mencuci tangan, menggunakan masker saat sakit, dan menghindari kerumunan ketika bergejala merupakan langkah penting untuk melindungi kelompok rentan.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Bali telah mengirimkan surat edaran kewaspadaan influenza kepada seluruh kabupaten dan kota di Bali. Edaran tersebut menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan perhatian terhadap perkembangan kasus serta memperkuat penyampaian informasi kepada masyarakat. Selanjutnya, pesan kewaspadaan diteruskan melalui promosi kesehatan, puskesmas, dan dinas kesehatan daerah agar edukasi mengenai influenza dapat menjangkau warga secara lebih luas dan teratur.
Masyarakat diimbau menjaga kondisi tubuh tetap sehat sebagai bagian dari upaya pencegahan. Penggunaan masker dapat dilakukan bila diperlukan, terutama ketika berada di tempat ramai, berinteraksi dengan banyak orang, atau saat kondisi kesehatan mulai menurun. Langkah tersebut perlu disertai perhatian terhadap gejala yang mungkin muncul, sehingga warga dapat mengambil tindakan secara tepat dan tidak meningkatkan risiko penularan kepada orang lain.
Warga yang mengalami demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, nyeri otot, atau kelelahan ekstrem dianjurkan mengurangi aktivitas di luar rumah. Pembatasan aktivitas sementara dapat membantu memberikan waktu bagi tubuh untuk pulih sekaligus mengurangi kemungkinan penyebaran infeksi di lingkungan sekitar. Selama beristirahat, masyarakat juga disarankan memperbanyak konsumsi air putih serta memenuhi kebutuhan gizi melalui makanan bergizi seimbang yang kaya sayur dan buah.
Kewaspadaan ini diperlukan karena peningkatan infeksi berpotensi mendorong kenaikan kunjungan pasien ke fasilitas pelayanan kesehatan. Dengan mengenali gejala, membatasi aktivitas ketika sakit, dan menerapkan kebiasaan pencegahan, masyarakat dapat membantu mengurangi tekanan terhadap layanan kesehatan. Puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan tetap menjadi tempat untuk memperoleh pemeriksaan serta penanganan apabila keluhan memburuk atau membutuhkan perhatian medis.

