Aksi Die-In Aktivis Pro-Palestina Warnai Pusat Kota Seoul

Aksi Die-In Aktivis Pro-Palestina Warnai Pusat Kota Seoul

DEPOK, JAWA BARAT — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 10 September 2026, Ratusan aktivis pro-Palestina menggelar aksi die-in di pusat kota Seoul, Korea Selatan, pada Sabtu, 3 Oktober 2026. Dalam aksi tersebut, para peserta berbaring berjajar di jalan untuk menyampaikan simbol solidaritas terhadap warga Palestina serta menggambarkan korban konflik yang berlangsung di Gaza.

Aksi die-in dilakukan dengan cara menempatkan tubuh peserta dalam posisi berbaring dan tidak bergerak di ruang publik. Pemandangan itu menjadi gambaran simbolik mengenai orang-orang yang kehilangan nyawa akibat kekerasan, sekaligus menghadirkan pesan kemanusiaan di tengah aktivitas kawasan pusat kota. Para peserta menggunakan kehadiran mereka di jalan untuk menarik perhatian masyarakat terhadap situasi di Gaza.

Berlangsungnya aksi di ruang terbuka membuat pesan tersebut terlihat langsung oleh orang-orang yang berada di sekitar lokasi. Barisan peserta yang terbaring membentuk gambaran kolektif tentang dampak konflik terhadap kehidupan manusia. Melalui tindakan yang bersifat simbolik itu, aktivis pro-Palestina menyuarakan kepedulian terhadap para korban dan menempatkan isu kemanusiaan Gaza dalam perhatian publik Seoul.

Peristiwa ini menjadi salah satu bentuk penyampaian solidaritas pro-Palestina di Korea Selatan. Alih-alih menyampaikan pesan hanya melalui pernyataan, para peserta menggunakan tubuh dan ruang jalan sebagai media untuk merepresentasikan penderitaan akibat konflik. Aksi tersebut berlangsung di pusat kota Seoul, dengan peserta berbaring secara berjajar sebagai simbol korban konflik di Gaza.

Rangkaian demonstrasi pro-Palestina di pusat kota Seoul tidak hanya ditandai oleh aksi die-in. Para peserta juga melakukan long march dengan berjalan melewati sejumlah kawasan di tengah kota. Pergerakan tersebut menjadi bagian penting dari kegiatan demonstrasi, karena menyatukan peserta dalam ruang publik dan membawa pesan solidaritas mereka ke beberapa titik yang dilalui.

Dalam rangkaian long march itu, Paviliun Lonceng Bosingak disebut sebagai salah satu lokasi yang dilewati peserta. Kehadiran massa di sekitar kawasan tersebut memperlihatkan bahwa aksi berlangsung melalui perpindahan dari satu ruang kota ke ruang lainnya, bukan hanya dengan berkumpul di satu tempat. Rute yang melintasi kawasan pusat kota juga membuat demonstrasi terlihat sebagai kegiatan yang berlangsung secara bergerak, berdampingan dengan aktivitas masyarakat dan lalu lintas perkotaan.

Setelah atau di sela-sela perjalanan tersebut, aksi die-in tetap menjadi bentuk penyampaian pesan yang menonjol. Dalam aksi ini, peserta berbaring di ruang publik sebagai simbol penderitaan dan kematian korban konflik, sekaligus sebagai seruan agar kekerasan terhadap warga sipil dihentikan. Die-in dan long march dengan demikian menjadi dua bentuk kegiatan yang saling melengkapi dalam demonstrasi tersebut. Long march menghadirkan mobilitas serta kehadiran kolektif di berbagai bagian pusat kota, sedangkan die-in menyampaikan pesan melalui tindakan simbolis yang dilakukan bersama-sama.

Gambaran ini menunjukkan bahwa demonstrasi di Seoul tersusun atas beberapa bentuk aksi, mulai dari berjalan melewati kawasan pusat kota hingga melakukan die-in di ruang publik. Paviliun Lonceng Bosingak menjadi salah satu penanda lokasi dalam rangkaian perjalanan itu. Tanpa menambahkan rincian mengenai rute, durasi, atau jumlah peserta, rangkaian tersebut dapat dipahami sebagai kegiatan demonstrasi yang menggabungkan aksi berjalan dan protes simbolis untuk menyuarakan dukungan terhadap Palestina.

Setelah menyelesaikan long march, para demonstran bergerak menuju kawasan di sekitar Kedutaan Besar Amerika Serikat di Seoul. Mereka kemudian berkumpul di area tersebut dan melanjutkan aksi secara bersama-sama. Kehadiran para peserta di dekat gedung perwakilan diplomatik itu menjadi bagian dari rangkaian demonstrasi pro-Palestina yang sebelumnya berlangsung melalui perjalanan panjang di pusat kota. Para aktivis membawa sikap dan tuntutan yang sama, lalu menyampaikannya melalui orasi serta aksi simbolik di ruang publik.

Di lokasi tersebut, para demonstran menyatakan penolakan terhadap dukungan militer Amerika Serikat kepada Israel. Mereka mempersoalkan bantuan dan dukungan yang dinilai turut berkaitan dengan keberlanjutan operasi militer Israel di Palestina. Pesan itu disampaikan melalui seruan, pernyataan, dan materi aksi yang dibawa peserta. Dalam penyampaiannya, para aktivis menempatkan Kedutaan Besar Amerika Serikat sebagai titik penyampaian protes karena lembaga tersebut mewakili pemerintah Amerika Serikat di Korea Selatan.

Selain menolak dukungan militer, peserta juga menyuarakan penolakan terhadap dukungan diplomatik Amerika Serikat kepada Israel. Mereka meminta agar dukungan tersebut dihentikan dan menyampaikan sikap solidaritas kepada rakyat Palestina. Aksi di sekitar kedutaan berlangsung sebagai kelanjutan dari long march, dengan para demonstran tetap berada dalam kelompok untuk menyampaikan pesan mereka. Pernyataan yang muncul berfokus pada hubungan Amerika Serikat dengan Israel serta keberatan para aktivis terhadap dukungan militer dan diplomatik yang diberikan. Tidak ada penarikan kesimpulan politik di luar tuntutan yang disampaikan dalam aksi tersebut.

Dalam aksi die-in yang berlangsung di pusat kota Seoul, para aktivis pro-Palestina menyampaikan sejumlah tuntutan terkait situasi di kawasan. Mereka menyerukan agar gencatan senjata segera diberlakukan, sebagai langkah untuk menghentikan kekerasan dan mencegah berlanjutnya operasi militer. Seruan tersebut menjadi salah satu pesan utama yang dibawa peserta aksi melalui penyampaian sikap dan aksi simbolik di ruang publik.

Selain meminta penghentian segera permusuhan, para aktivis mendesak pemerintah Korea Selatan untuk menghentikan investasi pada obligasi Israel. Menurut tuntutan yang disampaikan dalam aksi, keputusan tersebut dipandang sebagai bagian dari upaya mencegah dukungan finansial terhadap kebijakan dan operasi yang berkaitan dengan konflik. Desakan itu menempatkan kebijakan investasi pemerintah sebagai salah satu isu yang ingin mendapat perhatian publik.

Para peserta juga meminta agar aset militer Korea Selatan tidak dikerahkan untuk membantu operasi Amerika Serikat di kawasan. Tuntutan ini menekankan penolakan terhadap keterlibatan tidak langsung melalui penggunaan fasilitas atau sumber daya militer dalam operasi yang berlangsung di wilayah tersebut. Bagi para aktivis, sikap itu diperlukan untuk memastikan Korea Selatan tidak turut mendukung tindakan militer yang mereka persoalkan.

Dengan demikian, aksi di Seoul membawa tiga seruan utama: gencatan senjata segera, penghentian investasi pemerintah pada obligasi Israel, serta penolakan terhadap pengerahan aset militer untuk membantu operasi Amerika Serikat di kawasan. Tuntutan-tuntutan tersebut disampaikan sebagai sikap politik dan kemanusiaan para aktivis pro-Palestina, sekaligus sebagai permintaan agar pemerintah Korea Selatan mengambil kebijakan yang tidak memperkuat dukungan terhadap operasi militer terkait konflik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *