JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 7 October 2026, Penyakit jantung, termasuk penyempitan pembuluh darah, dapat berkembang secara perlahan tanpa menimbulkan gejala yang mudah dikenali. Kondisi ini membuat seseorang yang merasa sehat belum tentu terbebas dari risiko gangguan pada jantung dan sistem peredaran darah. Dalam sejumlah kasus, keluhan baru terasa ketika penyempitan sudah cukup mengganggu aliran darah atau saat jantung menghadapi beban yang lebih berat.
Karena itu, tidak munculnya nyeri dada, sesak napas, mudah lelah, maupun keluhan lain bukanlah jaminan bahwa kondisi jantung sepenuhnya baik. Risiko dapat tetap ada, terutama apabila seseorang memiliki faktor pemicu seperti tekanan darah tinggi, kadar kolesterol tidak terkendali, diabetes, kebiasaan merokok, kurang aktivitas fisik, pola makan yang tidak seimbang, atau riwayat penyakit jantung dalam keluarga.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah lulusan Universitas Padjadjaran, dr. dr. Vito A. Damay, SpJP(K), MKes, AIFO-K, FIHA, FICA, FASCC, mengingatkan masyarakat agar memahami faktor risiko tersebut. Menurutnya, upaya menjaga kesehatan jantung sebaiknya tidak menunggu sampai keluhan muncul. Pemeriksaan kesehatan secara berkala dan penerapan kebiasaan hidup yang lebih sehat diperlukan untuk membantu mengenali risiko lebih awal.
Pernyataan itu disampaikan di Jakarta pada Rabu. Pesan tersebut menegaskan pentingnya kewaspadaan, termasuk bagi orang yang merasa tidak memiliki masalah kesehatan. Perubahan gaya hidup dapat menjadi bagian penting dari pencegahan, seperti mengatur pola makan, meningkatkan aktivitas fisik sesuai kemampuan, menghindari rokok, serta memantau tekanan darah, gula darah, dan kolesterol.
Dengan memahami bahwa penyakit jantung bisa berlangsung diam-diam, masyarakat diharapkan tidak hanya bertindak setelah merasakan gangguan. Perhatian terhadap faktor risiko dan pemeriksaan yang sesuai dapat membantu seseorang mengambil langkah perlindungan lebih cepat, sekaligus mendorong pemeliharaan kesehatan jantung sebagai kebiasaan jangka panjang.
Penyempitan pembuluh darah tidak selalu langsung menimbulkan keluhan. Dokter menjelaskan, pada tingkat tertentu, kondisi ini dapat berlangsung tanpa tanda yang dirasakan oleh penderitanya. Penyempitan sekitar 30–40 persen, misalnya, masih mungkin tidak menyebabkan nyeri dada, sesak napas, cepat lelah, atau gejala lain yang dianggap mengganggu aktivitas sehari-hari. Karena itu, tidak adanya keluhan bukan berarti pembuluh darah sepenuhnya berada dalam kondisi baik.
Meski belum menimbulkan gejala, penyempitan tersebut tetap perlu diperhatikan. Kondisinya dapat berkembang seiring waktu dan berpotensi memicu serangan jantung. Proses yang berlangsung perlahan sering membuat seseorang tidak menyadari adanya perubahan pada tubuhnya. Ketika penyempitan semakin berat atau terjadi gangguan pada aliran darah, risiko masalah kardiovaskular dapat meningkat. Pemeriksaan dan evaluasi kesehatan menjadi penting, terutama bagi orang yang memiliki faktor risiko seperti tekanan darah tinggi, kadar kolesterol tidak terkendali, diabetes, kebiasaan merokok, atau riwayat penyakit jantung dalam keluarga.
Minimnya aktivitas fisik juga dapat membuat gejala tidak terasa. Seseorang yang jarang berjalan, berolahraga, atau melakukan kegiatan yang meningkatkan kerja jantung sebenarnya jarang menguji kemampuan tubuhnya. Akibatnya, tanda seperti mudah lelah, napas pendek, atau rasa tidak nyaman di dada mungkin tidak muncul dalam rutinitas yang ringan. Gejala baru dapat terlihat ketika tubuh menghadapi beban yang lebih besar, sementara penyempitan pembuluh darah sudah berkembang.
Kebiasaan duduk terlalu lama dan tidak banyak bergerak juga dapat menciptakan rasa aman yang keliru. Seseorang mungkin merasa tidak memiliki masalah hanya karena tidak merasakan keluhan. Padahal, ketiadaan gejala lebih banyak menunjukkan bahwa tubuh belum mengalami tuntutan fisik yang cukup untuk memunculkannya, bukan memastikan tidak ada gangguan. Oleh sebab itu, pola hidup aktif, jeda dari duduk berkepanjangan, serta pemeriksaan berkala diperlukan untuk membantu mengenali risiko lebih awal.
Dokter menekankan bahwa menjaga kesehatan jantung tidak cukup hanya dengan mengandalkan obat. Perubahan gaya hidup perlu menjadi bagian utama dalam mencegah dan mengendalikan penyempitan pembuluh darah. Langkah tersebut mencakup aktivitas fisik teratur, pola makan seimbang, tidur yang cukup, pengelolaan berat badan, serta kemampuan mengendalikan stres. Setiap faktor saling berkaitan, sehingga perbaikannya sebaiknya dilakukan secara bersamaan dan bertahap sesuai kondisi tubuh.
Olahraga dapat membantu tubuh mempertahankan kebugaran, memperbaiki fungsi jantung, dan memengaruhi kondisi kekakuan pembuluh darah. Aktivitas tidak harus langsung berintensitas tinggi. Berjalan kaki, bersepeda, berenang, atau melakukan latihan ringan secara rutin dapat menjadi awal yang baik, terutama bagi orang yang sebelumnya jarang bergerak. Dalam pengalamannya menangani pasien, dokter menyebut sekitar 90 persen pasien tidak berolahraga. Karena itu, aktivitas fisik perlu dimasukkan ke dalam rutinitas pencegahan, bukan dilakukan hanya ketika muncul keluhan.
Pola makan juga perlu diatur dengan memperhatikan keseimbangan dan kualitas bahan makanan. Konsumsi sayur, buah, sumber protein yang baik, serta makanan tinggi serat perlu diperbanyak, sementara garam, gula, lemak jenuh, dan makanan ultra-proses sebaiknya dibatasi. Penurunan berat badan dapat membantu, tetapi targetnya bukan sekadar angka pada timbangan. Komposisi tubuh yang lebih sehat, termasuk peningkatan massa otot dan pengurangan lemak berlebih, menjadi tujuan yang lebih penting.
Tidur sering diabaikan, padahal kekurangan waktu tidur dapat memengaruhi tekanan darah, metabolisme, nafsu makan, dan kemampuan tubuh menghadapi stres. Kebiasaan tidur dengan durasi serta jadwal yang teratur perlu dibangun bersama pengelolaan tekanan psikologis. Latihan pernapasan, kegiatan relaksasi, dan pembagian waktu yang lebih seimbang dapat membantu. Dengan memperhatikan tidur, pola makan, aktivitas fisik, dan stres secara terpadu, upaya menjaga kesehatan pembuluh darah menjadi lebih menyeluruh.
Kebiasaan merokok perlu mendapat perhatian serius karena dapat menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko gangguan pada pembuluh darah dan kesehatan jantung. Dampaknya tidak selalu langsung terasa, sehingga seseorang mungkin tetap merasa sehat meskipun proses kerusakan telah berlangsung secara perlahan. Kondisi inilah yang membuat pencegahan penting dilakukan sebelum terjadi penyempitan atau gangguan lain pada pembuluh darah. Mengenali kebiasaan dan faktor risiko sejak dini dapat membantu seseorang menilai kembali pilihan hidup yang berpotensi memengaruhi kesehatan dalam jangka panjang.
Berhenti merokok merupakan salah satu perubahan yang dapat dilakukan untuk mengurangi faktor risiko tersebut. Dokter menekankan bahwa berhenti merokok sangat baik bagi kesehatan, meskipun sebagian orang masih mengabaikan anjuran itu atau menundanya. Keputusan untuk berhenti dapat menjadi bagian dari upaya memperbaiki gaya hidup, terutama ketika seseorang mulai memahami bahwa gangguan pembuluh darah dapat berkembang secara diam-diam. Perubahan ini tidak hanya berkaitan dengan kebiasaan sehari-hari, tetapi juga dengan kesadaran untuk mencegah masalah sebelum dampaknya menjadi lebih berat.
Pesan utama yang perlu diingat adalah menjaga kesehatan jantung sebaiknya dimulai lebih awal, bukan setelah muncul kerusakan atau penyempitan pembuluh darah. Pengenalan terhadap faktor risiko, termasuk kebiasaan merokok, dapat menjadi langkah awal untuk memperhatikan kondisi tubuh dan meninjau kebiasaan hidup. Perbaikan gaya hidup perlu dipandang sebagai bagian dari pencegahan yang dilakukan secara sadar, bukan sekadar respons ketika masalah kesehatan telah terjadi. Dengan demikian, anjuran untuk berhenti merokok dan menjaga kebiasaan hidup sehat tetap relevan bagi siapa pun yang ingin mengurangi risiko gangguan pada jantung dan pembuluh darah.

