JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 6 October 2026, Defisiensi zat besi pada bayi bukan hanya berkaitan dengan rendahnya kadar hemoglobin. Prof. Dr. dr. Murti Andriastuti, Sp.A, Subsp.H.Onk.(K), dokter spesialis anak dari Unit Kerja Koordinasi Hematologi Onkologi Ikatan Dokter Anak Indonesia, menjelaskan bahwa kekurangan zat besi dapat memengaruhi perkembangan otak. Dampaknya pun berpotensi menetap, sehingga kondisi ini perlu dipahami sebagai persoalan yang melampaui hasil pemeriksaan darah semata.
Pada masa bayi, otak berkembang dengan sangat cepat dan membutuhkan berbagai zat gizi untuk mendukung proses tersebut. Ketika tubuh kekurangan besi, proses yang berhubungan dengan perkembangan dan fungsi otak dapat ikut terdampak. Karena itu, defisiensi besi pada periode ini perlu ditangani dan dipantau secara tepat, termasuk melalui penilaian kondisi anak serta pemeriksaan laboratorium sesuai kebutuhan.
Anemia akibat kekurangan besi pada dasarnya dapat ditangani dengan pemberian zat besi. Apabila kadar hemoglobin sangat rendah, dokter juga dapat mempertimbangkan transfusi darah sebagai bagian dari penanganan. Terapi tersebut bertujuan memperbaiki kondisi darah dan memenuhi kembali kebutuhan besi tubuh. Seiring pengobatan, hasil pemeriksaan laboratorium dapat menunjukkan perbaikan, termasuk kadar hemoglobin yang kembali ke rentang normal.
Meski demikian, normalnya hasil pemeriksaan setelah terapi tidak selalu berarti dampak yang telah terjadi pada perkembangan otak dapat dipulihkan sepenuhnya. Perbaikan angka laboratorium dan pemulihan seluruh dampak perkembangan merupakan hal yang berbeda. Dengan demikian, bayi yang pernah mengalami defisiensi zat besi tidak dapat disamakan begitu saja dengan anak yang tidak pernah mengalami kondisi tersebut. Penanganan tetap penting, tetapi perhatian terhadap pencegahan, deteksi dini, dan pemantauan perkembangan juga memiliki peran yang tidak kalah penting.
Masa bayi merupakan periode yang sangat penting bagi perkembangan otak karena pada awal kehidupan organ ini mengalami pertumbuhan yang berlangsung cepat. Dalam fase tersebut, perubahan pada struktur dan fungsi otak terjadi secara intensif, sehingga kebutuhan terhadap zat gizi pendukung juga menjadi lebih besar. Salah satu zat gizi penting ialah zat besi, yang berperan dalam mendukung proses perkembangan otak. Kecukupan zat besi pada masa ini karena itu tidak dapat dipandang terpisah dari proses pertumbuhan otak yang sedang berlangsung.
Menurut penjelasan dokter, zat besi dibutuhkan untuk mendukung berbagai proses perkembangan otak, termasuk plastisitas dan mielinisasi. Plastisitas berkaitan dengan kemampuan otak untuk membentuk serta menyesuaikan hubungan antarsel saraf, sedangkan mielinisasi mendukung penghantaran sinyal di dalam sistem saraf. Kedua proses tersebut berlangsung seiring dengan perkembangan otak yang pesat pada awal kehidupan. Karena volume otak berkembang cepat, kebutuhan zat besi pada tahun pertama kehidupan tergolong tinggi. Kebutuhan ini menunjukkan bahwa masa bayi merupakan periode yang perlu mendapat perhatian dalam pemenuhan zat besi.
Hubungan zat besi dan perkembangan otak menjadi semakin penting ketika dilihat dalam konteks 1.000 hari pertama kehidupan. Kekurangan zat besi pada periode tersebut tidak hanya berkaitan dengan otak, tetapi juga dapat memengaruhi tumbuh kembang anak. Sebabnya, zat besi diperlukan ketika tubuh dan otak sedang menjalani proses pertumbuhan yang intensif. Apabila kecukupannya tidak terpenuhi, proses perkembangan yang membutuhkan zat besi dapat terdampak. Oleh karena itu, pemenuhan zat besi sejak masa awal kehidupan berperan dalam mendukung berlangsungnya tumbuh kembang anak secara optimal.
Menurut penjelasan dokter Murti, kekurangan zat besi pada bayi dan anak tidak selalu muncul secara tiba-tiba. Kondisi ini berkembang melalui beberapa tahapan, dimulai dari berkurangnya cadangan besi di dalam tubuh. Pada tahap awal, perubahan tersebut dapat terlihat melalui penurunan kadar feritin, yaitu salah satu penanda cadangan besi. Meskipun demikian, kadar hemoglobin masih dapat berada dalam batas normal.
Tahap awal ini sering kali sulit dikenali melalui pengamatan sehari-hari. Anak dapat tampak sehat dan tetap aktif, sehingga orang tua mungkin tidak menyadari bahwa cadangan besinya mulai menurun. Keadaan tersebut menunjukkan bahwa penampilan dan aktivitas anak belum tentu menggambarkan kecukupan zat besi di dalam tubuh. Pemeriksaan yang sesuai diperlukan untuk mengetahui perubahan yang belum tampak secara kasatmata.
Apabila berkurangnya cadangan besi tidak diketahui, sementara asupan makanan juga kurang mengandung zat besi, kondisi dapat berkembang menjadi defisiensi besi. Pada tahap ini, tubuh semakin tidak memiliki persediaan zat besi yang memadai untuk menjalankan berbagai fungsi penting. Jika berlangsung lebih lanjut, defisiensi besi dapat berkembang menjadi anemia defisiensi besi, yang ditandai oleh penurunan kadar hemoglobin.
Urutan tersebut memperlihatkan bahwa kekurangan zat besi merupakan proses bertahap, bukan kondisi yang selalu langsung terlihat. Penurunan feritin dapat terjadi ketika hemoglobin masih normal dan anak belum menunjukkan perubahan yang mudah diamati. Karena itu, deteksi dini menjadi penting, terutama ketika asupan zat besi belum mencukupi. Mengenali perubahan sejak berkurangnya cadangan besi dapat membantu mencegah kondisi berlanjut ke tahap defisiensi besi dan anemia defisiensi besi.
Pencegahan defisiensi besi pada bayi perlu menjadi perhatian sejak masa awal kehidupan, khususnya sepanjang 1.000 hari pertama. Pada periode ini, asupan gizi berperan penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan, termasuk perkembangan otak. Perhatian terhadap kecukupan gizi tidak hanya diperlukan ketika tanda kekurangan sudah terlihat, tetapi juga sebagai bagian dari upaya menjaga kondisi anak sejak tahap paling dini.
Pemeriksaan untuk mendeteksi kekurangan zat besi sejak dini juga memiliki peran yang penting. Anak yang berada pada tahap awal defisiensi besi dapat tetap tampak sehat dalam keseharian. Tidak adanya tanda yang jelas bukan berarti cadangan besinya sudah memadai. Karena itu, pemeriksaan dapat membantu mengidentifikasi kondisi yang mungkin belum terlihat secara kasatmata, sehingga kekurangan tersebut tidak terlewatkan pada masa yang penting bagi perkembangan anak.
Perhatian terhadap asupan gizi dan pemeriksaan dini perlu dipandang sebagai dua upaya yang saling melengkapi. Asupan gizi membantu mendukung kebutuhan tubuh, sedangkan pemeriksaan memberikan gambaran mengenai kondisi zat besi yang mungkin tidak dapat diketahui hanya melalui pengamatan. Keduanya menjadi semakin bermakna ketika dilakukan dengan kesadaran bahwa dampak defisiensi besi pada awal kehidupan dapat berpengaruh terhadap proses perkembangan yang berlangsung pada tahap berikutnya.
Upaya pencegahan ini membutuhkan kepedulian dan kerja sama berbagai pihak. Dokter berharap pemerintah, tenaga kesehatan, dan para pemangku kepentingan terkait dapat bekerja bersama untuk mencegah defisiensi besi sejak masa awal kehidupan. Kolaborasi tersebut penting agar perhatian terhadap asupan gizi serta kebutuhan pemeriksaan dini dapat menjadi bagian dari perlindungan kesehatan dan perkembangan anak secara berkelanjutan.

