BANDUNG, JAWA BARAT — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 October 2026, Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution menanggapi secara santai keputusan mertuanya, Presiden ke-7 Republik Indonesia Joko Widodo, yang menjadi bagian dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Bobby tidak memperlihatkan sikap keberatan ataupun menganggap pilihan politik tersebut sebagai persoalan. Ia menyampaikan bahwa keputusan Joko Widodo merupakan pilihan pribadi yang perlu dihormati, tanpa harus memengaruhi sikap politiknya sendiri.
Perbedaan keanggotaan partai Bobby dan Joko Widodo juga tidak dipandang sebagai sesuatu yang perlu diperdebatkan. Dalam keterangannya pada Jumat, 9 Oktober 2026, Bobby menegaskan bahwa dirinya tetap merupakan kader Partai Gerindra. Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa ia masih berpegang pada posisi politik dan keanggotaan partai yang selama ini dijalaninya.
Bobby menempatkan keputusan Joko Widodo untuk bergabung dengan PSI sebagai hal yang berdiri sendiri. Ia tidak mengaitkannya dengan hubungan keluarga maupun tugasnya sebagai kepala daerah di Sumatera Utara. Sikap tersebut memperlihatkan bahwa pilihan partai dapat berbeda, sementara komunikasi dan hubungan antarkeluarga tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Penegasan Bobby mengenai statusnya sebagai kader Gerindra menjadi bagian penting dari respons tersebut. Di tengah perhatian publik terhadap langkah politik Joko Widodo, Bobby memilih menyampaikan posisi secara langsung dan tanpa nada konfrontatif. Ia tetap menghormati keputusan mertuanya, tetapi pada saat yang sama memastikan bahwa dirinya tidak berpindah haluan dan masih bersama Partai Gerindra.
Respons ini memberikan gambaran bahwa keputusan politik dua anggota keluarga tersebut tidak otomatis harus berada dalam jalur yang sama. Bobby dan Joko Widodo memiliki pilihan partai masing-masing, dan perbedaan itu disampaikan tanpa menunjukkan adanya konflik keluarga atau pertentangan politik. Dengan demikian, Bobby tetap menjalankan posisinya sebagai kader Gerindra, sedangkan keputusan Joko Widodo bergabung dengan PSI dipandang sebagai pilihan tersendiri.
Hubungan keluarga Bobby Nasution dengan Joko Widodo tidak serta-merta mengubah afiliasi politik yang dipilih Bobby. Meskipun Jokowi disebut telah bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Bobby menyatakan bahwa dirinya tetap berada di Partai Gerindra. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pilihan politik keduanya dapat berjalan secara berbeda, tanpa harus dipandang sebagai satu sikap politik yang sama.
Bobby menegaskan statusnya secara langsung sebagai kader partai tersebut. “Ini saya kader Gerindra,” ujarnya. Pernyataan singkat itu menjadi penanda bahwa Bobby masih mengidentifikasi dirinya sebagai bagian dari Gerindra, terlepas dari keputusan politik Jokowi yang memilih PSI. Penegasan ini juga menempatkan posisi Bobby sebagai sikap pribadi, bukan sebagai pernyataan mengenai arah, kebijakan, atau keputusan internal partai.
Dengan demikian, kedekatan keluarga tidak menjadi dasar untuk menyimpulkan adanya perpindahan atau perubahan afiliasi politik Bobby. Ia menyampaikan pilihannya berdasarkan status dan posisinya sendiri sebagai kader Gerindra. Pada saat yang sama, pilihan Jokowi untuk bergabung dengan PSI merupakan keputusan politik yang berbeda. Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa hubungan personal dalam keluarga tidak otomatis menentukan pilihan kepartaian setiap anggotanya.
Sikap Bobby dapat dipahami sebagai penegasan sederhana mengenai keanggotaannya di Gerindra di tengah sorotan terhadap afiliasi politik Jokowi. Ia tidak memperluas pernyataannya ke ranah lain, sehingga maknanya tetap terbatas pada pengakuan bahwa dirinya masih menjadi kader Gerindra. Fokus utama pernyataan itu adalah identitas politik Bobby sendiri, bukan penilaian terhadap pilihan partai Jokowi maupun gambaran mengenai sikap organisasi partai.
Bobby Nasution menyatakan bahwa kemungkinan Presiden Joko Widodo meminta dukungan untuk Partai Solidaritas Indonesia (PSI) pada masa mendatang bukan persoalan yang perlu dipermasalahkan. Menurut Bobby, dukungan politik tidak hanya ditujukan kepada satu partai atau dibatasi oleh status keanggotaan seseorang. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konteks perubahan posisi politik Jokowi, yang kini diketahui menjadi bagian dari PSI, sementara Bobby tetap menegaskan kedekatannya dengan Partai Gerindra.
Bobby menjelaskan bahwa seluruh partai yang selama ini memberikan dukungan tetap memiliki ruang untuk meminta dukungan, penguatan, atau support. Hal itu mencakup partai-partai pendukung Prabowo-Gibran, serta partai yang mendukung pasangan Bobby-Surya dalam kontestasi politik di Sumatera Utara. Dengan demikian, dukungan politik menurut Bobby tidak semata-mata melekat pada PSI, melainkan dapat berkaitan dengan hubungan yang telah terbangun bersama berbagai partai pendukung.
Ia juga menekankan bahwa perbedaan status kader tidak otomatis memutus hubungan dengan partai-partai yang sebelumnya memberikan dukungan. Seseorang yang berada dalam partai tertentu tetap dapat menjaga komunikasi dan hubungan politik dengan partai lain yang pernah mendukungnya. Dalam pandangan Bobby, keberadaan Jokowi di PSI tidak serta-merta menghapus peran maupun hubungan partai-partai pendukung lainnya. Karena itu, kemungkinan adanya permintaan dukungan dari Jokowi untuk PSI dipandang sebagai bagian dari dinamika dukungan politik, tanpa meniadakan dukungan kepada partai-partai lain.
Latar belakang keputusan Joko Widodo untuk bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) disampaikan melalui pernyataannya sendiri. Jokowi menyebut bahwa dirinya telah menjadi bagian dari keluarga besar PSI sejak 14 Oktober 2025. Keterangan tersebut menjadi penjelasan mengenai status keanggotaannya di tengah perhatian publik terhadap hubungan politiknya dengan berbagai partai.
Pernyataan itu disampaikan ketika Jokowi menghadiri Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) PSI di Bandung pada Sabtu, 26 September. Dalam kesempatan tersebut, ia memperlihatkan kartu tanda anggota (KTA) PSI yang dimilikinya. Kartu itu mencantumkan nomor anggota S337220257777777, sehingga keanggotaan Jokowi tidak hanya disampaikan secara lisan, tetapi juga ditunjukkan melalui dokumen keanggotaan partai.
Jokowi menjelaskan bahwa dirinya membuka status keanggotaan tersebut di Bandung agar diketahui oleh seluruh jajaran PSI. Ia menyebut informasi itu perlu diketahui mulai dari tingkat pusat hingga tingkat ranting. Struktur yang disebutnya mencakup Dewan Pimpinan Pusat (DPP), Dewan Pimpinan Wilayah (DPW), Dewan Pimpinan Daerah (DPD), Dewan Pimpinan Cabang (DPC), serta Dewan Pimpinan Ranting (DPRT).
Dengan demikian, pengungkapan KTA tersebut menjadi bagian dari penegasan terbuka mengenai posisi Jokowi sebagai anggota PSI. Pernyataan itu juga memberikan latar belakang atas langkahnya memperlihatkan kartu anggota di hadapan jajaran partai dalam Rakorda di Bandung. Adapun keterangan mengenai tanggal keanggotaan, waktu penyampaian, nomor KTA, dan alasan pengungkapan disampaikan sebagaimana terdapat dalam bahan sumber.

