GORONTALO, GORONTALO — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 October 2026, Perum Bulog menyiapkan rencana penambahan gudang jagung untuk memperkuat dukungan terhadap pemenuhan kebutuhan peternak ayam. Langkah ini diarahkan untuk meningkatkan kapasitas penyimpanan sekaligus membantu menjaga ketersediaan bahan baku pakan di berbagai wilayah. Dengan fasilitas yang lebih memadai, Bulog diharapkan dapat menampung jagung hasil produksi petani dan menyalurkannya secara lebih teratur kepada sektor peternakan.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menyampaikan bahwa sasaran pasokan jagung yang hendak didukung melalui rencana tersebut setidaknya mencapai 250 ribu ton setiap triwulan. Target itu mencerminkan kebutuhan pasokan dalam jumlah besar dan berkesinambungan, terutama untuk membantu peternak ayam menghadapi perubahan ketersediaan serta harga jagung sebagai salah satu komponen utama pakan. Pengelolaan stok yang lebih terencana juga diharapkan dapat memperkuat stabilitas rantai pasok dari tingkat produksi hingga pengguna akhir.
Rencana tersebut tidak hanya mencakup pembangunan gudang, tetapi juga fasilitas pengolahan jagung yang diperlukan sebelum komoditas disalurkan kepada peternak. Fasilitas pengolahan dapat mendukung proses penanganan dan penyesuaian mutu, sehingga jagung yang tersimpan lebih siap digunakan sesuai kebutuhan industri pakan dan peternakan. Penambahan infrastruktur ini menjadi bagian dari upaya Bulog memperluas perannya dalam pengelolaan pasokan pangan strategis.
Meski demikian, pembangunan gudang beserta fasilitas pengolahannya masih berada dalam tahap lelang. Oleh karena itu, fasilitas tersebut belum dapat disebut telah selesai dibangun atau sudah beroperasi. Tahapan pengadaan masih perlu diselesaikan sebelum pelaksanaan konstruksi dan pengoperasian dapat dilakukan. Perkembangan berikutnya akan bergantung pada proses lelang, penetapan pelaksana, serta kesiapan teknis dan anggaran. Pernyataan ini penting agar rencana penambahan kapasitas tidak dipahami sebagai infrastruktur yang telah tersedia, melainkan sebagai program yang sedang dipersiapkan untuk mendukung pasokan jagung bagi peternak ayam.
Pembangunan gudang jagung oleh Bulog akan terlebih dahulu diarahkan ke daerah-daerah yang dikenal sebagai sentra produksi. Penempatan fasilitas di wilayah tersebut dinilai penting untuk memperkuat penyerapan hasil panen sekaligus memastikan ketersediaan jagung bagi peternak ayam. Dengan berada lebih dekat ke sumber produksi, gudang dapat membantu memperpendek rantai distribusi, mengurangi tekanan biaya pengangkutan, dan menjaga pasokan tetap tersedia ketika kebutuhan meningkat.
Berdasarkan keterangan Rizal, sejumlah wilayah menjadi prioritas dalam rencana awal tersebut. Daerah yang disebut meliputi Gorontalo, Nusa Tenggara Barat, Lampung, dan Nusa Tenggara Timur. Keempat provinsi itu memiliki basis produksi jagung yang perlu didukung dengan infrastruktur penyimpanan memadai. Keberadaan gudang di sentra-sentra tersebut juga diharapkan dapat membantu mengelola hasil panen secara lebih teratur, terutama ketika produksi melimpah dan penyerapan pasar belum berlangsung secara serentak.
Prioritas pembangunan tidak berarti pengadaan gudang hanya akan dilakukan di empat provinsi tersebut. Bulog juga berencana menempatkan sebagian fasilitas di provinsi lain yang memiliki potensi produksi jagung. Jawa Timur termasuk wilayah yang turut dipertimbangkan dalam pengembangan jaringan penyimpanan, mengingat perannya sebagai salah satu daerah dengan aktivitas produksi dan distribusi pertanian yang besar. Penentuan lokasi berikutnya akan mengikuti pemetaan potensi produksi serta kebutuhan pasokan di masing-masing wilayah.
Urutan tersebut menunjukkan bahwa Bulog menempatkan kedekatan dengan sumber jagung sebagai pertimbangan utama. Setelah daerah prioritas memperoleh dukungan, pengembangan dapat diperluas ke wilayah lain yang dinilai strategis. Pendekatan ini diharapkan membuat kapasitas penyimpanan tumbuh secara bertahap, sekaligus membentuk jaringan distribusi yang lebih responsif terhadap kebutuhan industri peternakan ayam. Dengan demikian, pembangunan gudang tidak hanya berfungsi sebagai penambahan aset, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pasokan jagung secara regional.
Gudang jagung yang disiapkan Bulog akan dilengkapi fasilitas pengeringan untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas pengolahan komoditas tersebut. Sarana utama yang direncanakan ialah corn drying center atau CDC, yang berfungsi menerima, mengolah, dan menurunkan kadar air jagung secara lebih terukur. Selain itu, gudang juga akan memiliki mesin pengering atau dryer sebagai pendukung ketika volume jagung yang masuk meningkat atau kondisi cuaca kurang mendukung proses pengeringan alami.
Keberadaan CDC dan dryer diharapkan membuat penanganan jagung berlangsung lebih cepat, efisien, dan konsisten. Jagung dengan kadar air yang sesuai akan lebih mudah disimpan dalam waktu tertentu tanpa mengalami penurunan mutu secara signifikan. Pengolahan yang lebih baik juga membantu Bulog menjaga ketersediaan stok, sehingga penyaluran untuk kebutuhan industri pakan dan peternak ayam dapat dilakukan secara lebih terencana.
Rizal menjelaskan, penambahan fasilitas tersebut dilakukan untuk mendukung kebutuhan pengolahan jagung yang terus berkembang. Menurutnya, gudang tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan, tetapi juga harus mampu menangani komoditas sejak diterima hingga siap disalurkan. Dengan dukungan peralatan pengering, jagung dapat dipersiapkan sesuai standar kebutuhan pengguna, sekaligus mengurangi risiko gangguan pasokan akibat kualitas bahan yang tidak seragam.
Penguatan fasilitas ini diarahkan untuk memastikan kebutuhan peternak ayam dapat tercukupi secara berkelanjutan. Bulog menargetkan penyerapan dan penyediaan jagung sedikitnya 250 ribu ton setiap triwulan dari kalangan pengusaha peternakan ayam. Target tersebut membutuhkan dukungan infrastruktur yang memadai, terutama untuk menjaga kesinambungan stok dan mempercepat distribusi. Melalui penambahan CDC serta mesin pengering, kapasitas pengolahan diharapkan meningkat dan pasokan jagung bagi peternak menjadi lebih terjamin.
Rizal menjelaskan bahwa kebutuhan jagung bagi peternak ayam sebenarnya tidak terlalu besar apabila dibandingkan dengan keseluruhan potensi pasokan yang tersedia. Karena itu, persoalan utama dalam penyerapan jagung oleh Bulog bukan terletak pada keterbatasan kebutuhan peternak ataupun pembatasan jumlah pembelian. Tantangan yang masih dihadapi berkaitan dengan kondisi dan kualitas hasil panen yang diserahkan oleh petani.
Dalam pelaksanaannya, Bulog memiliki ketentuan mutu yang harus dipenuhi sebelum jagung dapat diserap. Persyaratan tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan jagung yang dibeli sesuai dengan kebutuhan penyaluran dan mendukung ketersediaan pasokan bagi peternak ayam. Apabila hasil panen belum memenuhi ketentuan yang berlaku, proses pembelian tidak dapat dilakukan secara langsung, meskipun kebutuhan terhadap komoditas tersebut tetap ada.
Penjelasan ini menegaskan bahwa Bulog tidak sedang mengurangi atau membatasi volume pembelian jagung dari petani. Jagung tetap dapat diserap selama hasil panen memenuhi persyaratan kualitas yang telah ditetapkan. Dengan demikian, perbedaan jumlah jagung yang tersedia di tingkat petani dan jagung yang berhasil dibeli lebih berkaitan dengan kesesuaian mutu, bukan semata-mata karena Bulog tidak memiliki kebutuhan atau kapasitas untuk melakukan pembelian.
Permasalahan kualitas panen tersebut menjadi aspek yang perlu diperhatikan dalam upaya memperkuat pasokan jagung bagi peternak ayam. Petani tetap memiliki peluang untuk menjual hasil panennya kepada Bulog sepanjang komoditas yang ditawarkan memenuhi ketentuan mutu yang berlaku. Bulog dapat membeli jagung dari petani tanpa pembatasan jumlah berdasarkan persoalan tersebut, selama hasil panen telah sesuai dengan persyaratan kualitas yang ditetapkan.

