UNM dan MGBK SMK Kota Bekasi Dorong Penguatan Kompetensi Guru BK di Tengah Perkembangan AI

KOTA BEKASI, JAWA BARAT — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 October 2026, Universitas Nusa Mandiri (UNM), yang dikenal sebagai kampus digital bisnis, menjalin kolaborasi dengan Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MGBK) SMK Kota Bekasi untuk memperkuat kompetensi guru BK. Kerja sama ini menjadi bagian dari upaya membangun sinergi perguruan tinggi dan lingkungan pendidikan kejuruan, khususnya dalam menghadapi perubahan kebutuhan peserta didik di tengah perkembangan teknologi kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI).

Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Seminar Pemuda Mandiri. Kegiatan ini menjadi ruang bersama untuk mempertemukan perspektif akademik, pengalaman pendidik, serta perhatian terhadap pembentukan karakter dan kemandirian generasi muda. Melalui seminar ini, UNM dan MGBK SMK Kota Bekasi menunjukkan komitmen untuk mendorong penguatan peran guru bimbingan dan konseling agar tetap relevan dengan dinamika pendidikan dan perkembangan teknologi.

Dalam konteks tersebut, guru BK memiliki posisi penting dalam mendampingi siswa, bukan hanya ketika menghadapi persoalan akademik atau personal, tetapi juga saat mempersiapkan diri menghadapi perubahan sosial dan dunia kerja. Kehadiran teknologi AI membuka peluang baru dalam pendidikan, sekaligus menuntut pemahaman yang cermat mengenai pemanfaatan, batasan, dan tanggung jawab penggunaannya. Karena itu, kerja sama UNM dan MGBK menjadi langkah strategis untuk memperluas wawasan serta memperkuat kesiapan pendidik.

Seminar Pemuda Mandiri juga menegaskan bahwa peningkatan kompetensi guru tidak dapat berlangsung secara terpisah. Diperlukan kolaborasi berkelanjutan yang menghubungkan institusi pendidikan tinggi dengan para praktisi di sekolah. Dengan semangat tersebut, UNM dan MGBK SMK Kota Bekasi berupaya menghadirkan kontribusi nyata bagi pengembangan layanan bimbingan dan konseling, sekaligus mendukung terbentuknya siswa yang adaptif, berkarakter, dan mampu menggunakan teknologi secara bijak.

Seminar yang diselenggarakan oleh UNM dan MGBK SMK Kota Bekasi mengangkat tema “Empowering Counselors” sebagai fokus utama kegiatan. Tema tersebut menempatkan guru bimbingan dan konseling sebagai pihak yang perlu terus memperkuat kapasitas profesionalnya di tengah perkembangan kecerdasan buatan. Perubahan yang berlangsung pada era AI menghadirkan konteks baru bagi pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling, sehingga kompetensi konselor menjadi perhatian penting.

Fokus kegiatan tetap berada pada pemberdayaan konselor atau guru BK. Artinya, seminar ini menegaskan pentingnya pengembangan kapasitas sumber daya manusia yang berperan dalam layanan bimbingan dan konseling. Guru BK dipandang perlu memiliki kesiapan untuk menghadapi perubahan zaman tanpa mengesampingkan kedudukan dan tanggung jawab profesionalnya di lingkungan sekolah.

Dalam konteks tersebut, tema “Empowering Counselors” menjadi penanda bahwa penguatan kompetensi guru BK merupakan kebutuhan yang relevan dengan kondisi pendidikan saat ini. Perkembangan AI diposisikan sebagai tantangan yang perlu dihadapi melalui peningkatan kapasitas konselor. Seminar ini, karena itu, berfokus pada penguatan guru BK agar mampu merespons dinamika era AI sebagai bagian dari perkembangan lingkungan pendidikan dan layanan bimbingan dan konseling.

Guru bimbingan dan konseling (BK) menjadi pihak yang mendapat perhatian dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Universitas Negeri Malang (UNM) bersama Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MGBK) SMK Kota Bekasi. Perhatian tersebut diwujudkan melalui penguatan kompetensi, sehingga guru BK ditempatkan sebagai peserta atau sasaran utama dari kegiatan pengembangan profesional tersebut. Penguatan ini berkaitan dengan kebutuhan untuk mendukung pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling di lingkungan sekolah.

Kegiatan tersebut berlangsung dalam konteks pendidikan yang terus mengalami perubahan. Salah satu perkembangan yang menjadi latar pembahasan seminar ialah kemunculan dan penggunaan kecerdasan artifisial (AI) dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan. Kehadiran AI menjadi bagian dari isu yang diperhatikan dalam pembahasan, tetapi informasi yang tersedia belum menjelaskan secara rinci bentuk pemanfaatannya dalam layanan bimbingan dan konseling.

Oleh karena itu, posisi guru BK dalam bagian ini perlu dipahami secara hati-hati. Guru BK merupakan kelompok pendidik yang menjadi sasaran penguatan kompetensi melalui kegiatan bersama UNM dan MGBK SMK Kota Bekasi. Namun, bahan yang tersedia belum memuat uraian mengenai peran baru yang harus dijalankan guru BK akibat perkembangan AI. Belum terdapat pula penjelasan terperinci tentang metode penerapan teknologi tersebut dalam pekerjaan atau layanan guru BK.

Selain itu, tidak tersedia keterangan yang cukup untuk menyimpulkan tantangan spesifik yang dibahas selama seminar. Informasi yang dapat ditegaskan sebatas bahwa perkembangan AI digunakan sebagai latar pembicaraan dalam kegiatan penguatan kompetensi guru BK. Dengan batasan tersebut, kegiatan ini dapat diposisikan sebagai ruang pembahasan yang menempatkan kompetensi guru BK dalam hubungan dengan perubahan di bidang pendidikan, tanpa menambahkan rincian mengenai materi, strategi, atau hasil seminar yang belum tercantum dalam sumber.

Kegiatan yang mempertemukan Universitas Nusa Mandiri (UNM) dan Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MGBK) SMK Kota Bekasi menempatkan pengembangan kompetensi guru BK sebagai perhatian utama. Melalui Seminar Pemuda Mandiri bertajuk “Empowering Counselors”, pembahasan diarahkan pada pentingnya kapasitas konselor dalam menjalankan peran profesional di lingkungan pendidikan yang terus mengalami perubahan. Penekanan tersebut menunjukkan bahwa guru BK tidak hanya berhadapan dengan kebutuhan pendampingan peserta didik, tetapi juga dituntut memahami perkembangan isu dan teknologi yang memengaruhi proses layanan bimbingan dan konseling.

Kerja sama UNM dan MGBK SMK Kota Bekasi menjadi landasan bagi penyelenggaraan kegiatan yang mengangkat penguatan peran konselor secara relevan dan kontekstual. Dalam konteks perkembangan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI), kebutuhan untuk memperbarui pengetahuan, keterampilan, serta cara pandang guru BK menjadi semakin penting. AI dapat memengaruhi pola belajar, komunikasi, pencarian informasi, dan pengambilan keputusan peserta didik. Karena itu, kapasitas konselor perlu terus dibicarakan dan dikembangkan dengan tetap mempertimbangkan etika, kerahasiaan, tanggung jawab profesional, serta kebutuhan manusiawi dalam layanan konseling.

Fokus pemberitaan mengenai kegiatan ini terletak pada upaya mendorong perhatian terhadap penguatan kompetensi konselor, bukan pada klaim mengenai hasil atau dampak yang belum tersedia. Seminar “Empowering Counselors” mencerminkan relevansi kolaborasi perguruan tinggi dan komunitas profesional guru BK dalam merespons tantangan pendidikan di era AI. Hubungan UNM dan MGBK SMK Kota Bekasi sekaligus menegaskan bahwa kesiapan konselor perlu dipandang sebagai bagian penting dari pengembangan layanan pendidikan. Dengan perspektif tersebut, penguatan kapasitas guru BK tetap menjadi kebutuhan yang perlu memperoleh perhatian berkelanjutan seiring perubahan teknologi dan dinamika peserta didik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *