KOTA SOLO, JAWA TENGAH — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 7 October 2026, Sehari setelah Mahkamah Konstitusi membacakan putusan terkait gugatan atas syarat pendidikan Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wakil presiden, Gibran kembali menjalankan aktivitasnya di Istana Wakil Presiden, Jakarta. Pada Rabu, 7 Oktober 2026, Gibran menerima pengurus Asosiasi Pendeta Indonesia (API) dalam sebuah pertemuan yang membahas pentingnya menjaga persatuan dan kerukunan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Pertemuan dengan pengurus API tersebut menjadi salah satu agenda Gibran setelah putusan Mahkamah Konstitusi dibacakan. Dalam pertemuan itu, perhatian diarahkan pada upaya merawat hubungan yang harmonis di masyarakat dengan latar belakang agama, suku, budaya, dan kelompok yang beragam. Persatuan dipandang sebagai unsur penting dalam menjaga kehidupan sosial yang damai serta mendukung kebersamaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Asosiasi Pendeta Indonesia merupakan organisasi yang menghimpun para pendeta dan memiliki perhatian terhadap isu-isu sosial serta kehidupan keagamaan. Kehadiran pengurus organisasi tersebut di Istana Wakil Presiden menjadi bagian dari agenda pertemuan yang mempertemukan pemerintah dengan unsur masyarakat keagamaan. Pembahasan mengenai kerukunan menunjukkan pentingnya komunikasi dan kerja sama pemerintah dan tokoh agama dalam mempertahankan suasana yang tenang di tengah perbedaan.
Melalui pertemuan itu, pesan mengenai persatuan kembali ditekankan sebagai landasan bersama dalam menghadapi keberagaman Indonesia. Gibran dan pengurus API membicarakan perlunya menjaga kerukunan agar perbedaan tidak menjadi sumber perpecahan. Agenda tersebut berlangsung ketika aktivitas Gibran di Istana Wakil Presiden kembali berjalan setelah putusan Mahkamah Konstitusi, dengan fokus pada pertemuan bersama elemen masyarakat serta pembahasan mengenai kehidupan yang rukun dan saling menghormati.
Ketua Umum DPP Asosiasi Pendeta Indonesia (API), Pendeta Harsanto Adi, menjelaskan bahwa pertemuan dengan Gibran Rakabuming Raka di Istana Wakil Presiden, Jakarta, pada Rabu, membahas pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman masyarakat. Dalam pertemuan tersebut, Gibran banyak membagikan pengalaman pribadinya ketika menjabat sebagai Wali Kota Solo serta saat menjalankan tugas sebagai wakil presiden.
Menurut Harsanto, pengalaman yang disampaikan Gibran berkaitan dengan berbagai upaya membangun hubungan yang harmonis di masyarakat dengan latar belakang budaya dan iman yang berbeda. Pengalaman itu dinilai penting karena memperlihatkan bahwa persatuan tidak hanya menjadi gagasan, tetapi juga diwujudkan melalui interaksi, kerja sama, dan penyelesaian persoalan secara langsung di tengah masyarakat.
Harsanto menuturkan, pihaknya meminta Gibran menceritakan kisah nyata dan kejadian yang pernah dialaminya ketika membangun persatuan serta kesatuan umat lintas budaya dan iman. “Kami meminta beliau untuk menceritakan pengalaman-pengalaman nyata, kejadian yang beliau alami ketika membangun persatuan dan kesatuan umat lintas budaya dan iman,” kata Harsanto, sebagaimana disampaikan dalam keterangannya mengenai pertemuan tersebut.
Ia menyebut Gibran merespons permintaan itu dengan berbagi cerita mengenai pengalaman selama memimpin Solo. Dalam kapasitas tersebut, Gibran berhadapan dengan masyarakat yang memiliki keragaman tradisi, keyakinan, dan identitas sosial. Pengalaman ketika menjadi wakil presiden juga turut dibagikan, terutama terkait pandangan tentang pentingnya merawat kebersamaan dalam kehidupan berbangsa.
Penjelasan Harsanto menunjukkan bahwa pertemuan itu tidak sekadar membahas kondisi politik setelah putusan Mahkamah Konstitusi, tetapi juga menekankan nilai persatuan. Cerita mengenai pengalaman Gibran dipandang dapat menjadi gambaran mengenai cara membangun komunikasi dan kepercayaan di kelompok-kelompok yang berbeda. Bagi API, pendekatan tersebut relevan untuk memperkuat kerukunan serta mendorong umat lintas budaya dan iman agar terus menjaga kesatuan Indonesia.
Pengalaman Gibran dinilai relevan bagi peserta Kongres Nasional V API karena dapat memberikan perspektif mengenai pentingnya persatuan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia. Menurut Harsanto, perjalanan dan pengalaman Gibran dalam menjalankan tugas publik dapat menjadi pembekalan bagi para pendeta dan hamba Tuhan yang akan mengikuti kongres. Pembekalan tersebut diharapkan memperkaya pemahaman peserta mengenai tantangan kebangsaan, relasi sosial, serta peran tokoh agama dalam merawat kehidupan bersama.
Dewan Pimpinan Pusat API juga menyampaikan permintaan agar Gibran bersedia hadir dan membuka Kongres Nasional V API yang akan diselenggarakan di Serpong. Kehadiran Gibran dipandang dapat memberikan makna khusus bagi agenda organisasi, sekaligus memperkuat pesan mengenai pentingnya membangun komunikasi pemerintah, pemimpin keagamaan, dan masyarakat. Permintaan itu disampaikan sebagai bagian dari upaya menghadirkan pembicara yang memiliki pengalaman dalam mengelola persoalan publik dan kemajemukan.
Selain membuka kongres, Gibran diharapkan dapat menyampaikan kata sambutan atau pembekalan kepada para pendeta dan hamba Tuhan yang hadir dari seluruh Indonesia, termasuk perwakilan dari luar negeri. Materi yang disampaikan dapat menjadi ruang refleksi bagi peserta dalam menjalankan pelayanan serta memperkuat kontribusi gereja bagi persatuan nasional. Dengan latar peserta yang berasal dari berbagai daerah dan negara, pesan tentang kebersamaan dinilai memiliki relevansi yang luas.
Harsanto menilai rekam jejak Gibran dalam membangun persatuan lintas budaya dan iman dapat dibagikan kepada peserta kongres. Pengalaman tersebut dianggap penting untuk menunjukkan bahwa perbedaan latar belakang tidak harus menjadi penghalang dalam membangun kerja sama. Melalui pertemuan itu, peserta diharapkan memperoleh inspirasi mengenai cara menjaga toleransi, memperluas dialog, dan memperkuat komitmen bersama untuk merawat persatuan Indonesia.
Dalam pertemuan dengan jajaran Asosiasi Pengusaha Indonesia (API), Gibran menyampaikan pesan agar organisasi tersebut terus mengambil peran dalam menjaga kerukunan antarumat beragama. Pesan itu menekankan pentingnya persatuan dan hubungan yang harmonis di tengah keberagaman masyarakat. Jajaran API diharapkan tidak hanya menjalankan peran dalam bidang usaha, tetapi juga ikut mendukung terciptanya suasana yang saling menghormati di pemeluk agama.
Pesan mengenai kerukunan tersebut disampaikan sehari setelah Mahkamah Konstitusi (MK) membacakan putusan perkara Nomor 01/PHPU.PRES-XXIV/2026 pada Selasa, 6 Oktober 2026. Perkara itu lain mempersoalkan pemenuhan syarat pendidikan Gibran sebagai calon wakil presiden pada Pemilihan Presiden 2024. Pembacaan putusan tersebut menjadi konteks hukum yang menyertai pertemuan Gibran dengan jajaran API.
Dalam persidangan perkara tersebut, MK menyatakan tidak menemukan bukti yang meyakinkan bahwa Gibran memiliki ijazah, sertifikat, atau diploma pendidikan luar negeri yang dapat dijadikan dasar penyetaraan dengan pendidikan paling rendah tamat sekolah menengah atas atau sederajat. Pernyataan itu merupakan bagian dari pertimbangan dalam putusan yang dibacakan MK. Di luar konteks tersebut, pesan Gibran dalam pertemuan berfokus pada ajakan agar jajaran API terus berkontribusi menjaga kerukunan antarumat beragama dan memperkuat persatuan.

