Budaya  

Pesta Cerita Menjadi Puncak Program Tutur Tumurun 2026 di Yogyakarta

Pesta Cerita Menjadi Puncak Program Tutur Tumurun 2026 di Yogyakarta

YOGYAKARTA, DI YOGYAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 7 October 2026, Taman Budaya Yogyakarta (TBY) bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan menggelar Pesta Cerita di kompleks Taman Budaya Yogyakarta pada 9 Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi puncak perayaan sastra sekaligus penutup rangkaian program Tutur Tumurun 2026, yang sejak awal dirancang untuk mempertemukan proses penulisan, penjelajahan kreatif, dan apresiasi terhadap karya berbasis cerita.

Pesta Cerita juga menjadi bagian dari rangkaian selebrasi sastra dan seni budaya tahun anggaran 2026. Pelaksanaannya mendapat dukungan Dana Alokasi Khusus Nonfisik-BOP Museum dan Taman Budaya. Dukungan tersebut memperkuat peran TBY sebagai ruang pengembangan, presentasi, dan pertemuan bagi pelaku seni, penulis, peserta program, serta masyarakat yang ingin mengenal lebih dekat proses kreatif dalam kebudayaan.

Melalui Tutur Tumurun 2026, para peserta menjalani proses sejak Juli 2026. Tahapan tersebut mencakup penulisan dan penjelajahan kreatif yang mendorong mereka mengolah gagasan, pengalaman, serta berbagai kemungkinan bentuk penyampaian cerita. Karena itu, Pesta Cerita tidak hanya menghadirkan hasil akhir kegiatan, tetapi juga memperlihatkan perjalanan kreatif yang telah dibangun secara bertahap oleh para peserta.

Kepala TBY Purwiati menyampaikan bahwa Pesta Cerita memiliki posisi penting sebagai bentuk pertanggungjawaban karya. Acara tersebut menjadi kesempatan bagi peserta untuk menyampaikan hasil proses mereka kepada publik sekaligus menerima penghargaan atas ketekunan yang telah ditunjukkan sejak program dimulai pada Juli 2026. Pertemuan di Yogyakarta ini menandai keberlanjutan komitmen TBY dan Kementerian Kebudayaan dalam mendukung sastra, seni, serta ruang kreatif yang tumbuh dari kerja bersama.

Proses seleksi dalam program Tutur Tumurun 2026 berlangsung melalui beberapa tahap untuk menemukan karya cerpen yang memiliki kekuatan cerita, pengolahan bahasa, serta relevansi dengan pengalaman penulis muda di Daerah Istimewa Yogyakarta. Program ini secara khusus membuka ruang bagi penulis berusia 17–35 tahun untuk mengirimkan karya mereka. Dari proses penerimaan tersebut, terkumpul sebanyak 75 naskah cerpen yang kemudian dibaca dan dinilai secara berjenjang.

Puluhan naskah itu tidak langsung ditetapkan sebagai karya terbaik. Setiap karya terlebih dahulu melalui tahap penilaian untuk melihat berbagai unsur penting dalam cerpen, termasuk gagasan, struktur cerita, karakterisasi, dan cara penulis membangun suasana. Seleksi tersebut menghasilkan 10 karya nominasi. Kesepuluh naskah ini menjadi representasi karya yang dinilai menonjol dari keseluruhan kiriman peserta.

Tahap berikutnya dilakukan dengan menyaring kembali 10 karya nominasi tersebut. Penilaian lanjutan diarahkan untuk menentukan lima cerpen terbaik dalam program Tutur Tumurun 2026. Dengan demikian, perjalanan seleksi berlangsung dari 75 naskah awal, menjadi 10 karya nominasi, lalu mengerucut menjadi lima karya terbaik. Tahapan berlapis ini memberikan kesempatan kepada setiap naskah untuk dinilai secara lebih mendalam sebelum hasil akhir diumumkan.

Lima karya terbaik tersebut akan menjadi bagian penting dalam malam puncak program. Acara itu akan diisi dengan penyerahan penghargaan bagi juara 1, juara 2, dan juara 3, serta juara harapan 1 dan juara harapan 2. Penghargaan tersebut menandai apresiasi terhadap proses kreatif dan pencapaian para penulis muda yang telah mengikuti rangkaian program. Malam puncak sekaligus menjadi momentum untuk mempertemukan karya, penulis, dan publik dalam perayaan sastra di Yogyakarta.

Tutur Tumurun 2026 mengusung gagasan untuk mempertemukan sains kebumian dengan khazanah kearifan lokal Daerah Istimewa Yogyakarta melalui perspektif geomitologi. Pendekatan ini melihat alam bukan semata sebagai ruang fisik, melainkan sebagai bagian dari ingatan, identitas, dan cara masyarakat memahami kehidupan. Bentang alam Yogyakarta, mulai dari kawasan pesisir, pegunungan, gua, hingga aliran sungai, menyimpan hubungan erat dengan kisah budaya serta praktik sosial yang diwariskan lintas generasi.

Direktur Program Tutur Tumurun, Latief S Nugraha, menjelaskan bahwa warisan budaya Yogyakarta berkaitan langsung dengan situs-situs kebumian yang membentuk karakter wilayah tersebut. Keterkaitan itu juga tampak dalam landasan filosofis berdirinya Nagari Ngayogyakarta. Dengan demikian, pembacaan terhadap lanskap tidak dapat dipisahkan dari sejarah, kosmologi, dan pandangan hidup masyarakatnya. Geomitologi dipahami sebagai kajian mengenai cara budaya masa lalu merekam lanskap dan fitur geologi melalui cerita, simbol, ritus, serta berbagai bentuk pengetahuan kolektif.

Dalam kerangka tersebut, mitos tentang fenomena alam tidak dipandang sekadar sebagai kisah yang bersifat magis atau hiburan. Mitos merupakan tempat tersimpannya pengetahuan mengenai lingkungan sekaligus alat komunikasi yang digunakan masyarakat lampau untuk menyampaikan pengalaman, peringatan, dan nilai tertentu. Sastra kemudian hadir sebagai bentuk penyampaian pengetahuan dengan bahasa yang berbeda, memungkinkan hubungan manusia, alam, dan sejarah dibaca kembali secara kritis serta kreatif. TBY menegaskan bahwa program ini juga berupaya menggali folklor lokal yang beragam, sembari membina regenerasi penulis muda DIY agar mampu mengolah warisan tersebut menjadi karya relevan bagi pembaca masa kini. Melalui pertemuan sastra dan sains, Tutur Tumurun 2026 membuka ruang dialog pengetahuan tradisional, riset kebumian, dan praktik penciptaan artistik.

Malam puncak Program Tutur Tumurun 2026 di Yogyakarta ditandai dengan peluncuran buku antologi Tutur Tumurun Jilid II. Publikasi ini merangkum lima karya pemenang serta 15 cerita pendek pilihan dewan juri yang dinilai merepresentasikan keberagaman cara generasi penulis hari ini memandang Yogyakarta. Kehadiran buku tersebut menjadi penanda penting bahwa rangkaian program tidak berhenti pada perayaan, melainkan berlanjut melalui karya yang dapat dibaca, dikaji, dan diwariskan kepada khalayak yang lebih luas.

Perwakilan dewan juri, Hasta Indriyana, menggambarkan proses membaca seluruh naskah sebagai penelusuran Yogyakarta melalui peta mitologis. Menurutnya, cerita-cerita yang terkumpul memperlihatkan kota dan wilayah sekitarnya bukan semata-mata sebagai ruang geografis, melainkan sebagai lanskap yang dibentuk oleh ingatan, kepercayaan, dan pengalaman kolektif. Sejumlah naskah menghidupkan kembali tempat-tempat yang selama ini dikenal melalui penanda fisiknya, lalu memberinya lapisan makna baru melalui kisah tentang batu, gunung, jalan, tanah, air, dan roh.

Dalam penilaian tersebut, kekuatan antologi tidak hanya terletak pada kemampuan para penulis membangun alur dan menghadirkan suasana. Beberapa karya juga menunjukkan keberanian dalam menafsirkan tema yang lebih luas, seperti identitas, kesenian, sejarah, gender, dan kekerasan. Berbagai persoalan itu hadir melalui hubungan tokoh dengan ruang, tradisi, serta perubahan sosial yang berlangsung di sekelilingnya. Dengan demikian, Tutur Tumurun Jilid II menawarkan dokumentasi sastra mengenai cara Yogyakarta dikenali dan dimaknai dari beragam sudut pandang. Peluncuran pada malam puncak sekaligus membuka kesempatan bagi pembaca untuk melanjutkan percakapan tentang ingatan, mitologi, dan pengalaman hidup yang terus tumbuh di kota tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *