Nasib Pustakawan di Tengah Laju Cepat Kecerdasan Buatan

Nasib Pustakawan di Tengah Laju Cepat Kecerdasan Buatan

SEMARANG, JAWA TENGAH — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 6 October 2026, Peserta berasal dari berbagai wilayah Indonesia, termasuk perwakilan dari 61 kabupaten/kota, serta berasal dari perguruan tinggi, dinas kearsipan dan perpustakaan, perpustakaan khusus, dan kalangan pegiat literasi. Pesan kunci tersebut disampaikan Aminudin saat membuka Rapat Kerja Nasional Ikatan Pustakawan Indonesia (Rakernas IPI) 2026 di Semarang, Jawa Tengah, Selasa (6/10/2026).

Keterangan yang tercatat menyebut Tapi untuk hal lainnya yang tidak bisa dilakukan oleh mesin, tetap menggunakan manusia," ujar Aminudin. Menurut Aminudin, katalogisasi, klasifikasi, pengolahan bahan pustaka, hingga pembuatan metadata merupakan pekerjaan yang kini dapat dilakukan dengan dukungan teknologi. Karena itu, pengembangan kompetensi pustakawan menurut Aminudin tidak lagi cukup hanya berfokus pada kemampuan teknis. Transformasi tersebut, kata Aminudin, juga harus disertai upaya mengikis stigma lama terhadap profesi pustakawan. Ketua Umum IPI Joko Santoso mengatakan perkembangan AI semakin menegaskan pentingnya dimensi manusia dalam pelayanan perpustakaan.

Data lain dalam laporan menunjukkan Dalam Rakernas yang berlangsung pada 6-8 Oktober 2026 dengan tema "Pustakawan Terlibat, Bersinergi, dan Berdampak", itu Aminudin mengatakan perkembangan teknologi telah mengubah cara manusia bekerja, berpikir, mencari informasi, hingga menyikapi dunia kerja. Dalam waktu yang sama, manusia bisa mengerjakan 25, sementara mesin bisa sampai 1.000. Artinya, satu mesin bisa menggantikan pekerjaan 40 manusia untuk pekerjaan teknis tersebut," katanya. Ketua Panitia sekaligus Ketua PD IPI Jawa Tengah Itmamudin melaporkan, Rakernas diikuti lebih dari 200 peserta, dengan 178 orang tercatat melalui sistem pendaftaran. Rangkaian Rakernas IPI 2026 mencakup workshop pengembangan kapabilitas pustakawan melalui Wiyata Kinarya, pembinaan pustakawan dan SKKNI bidang perpustakaan, sertifikasi profesi pustakawan, serta sertifikasi ISO.

Informasi lain yang berkaitan dengan peristiwa tersebut mencakup Perkembangan kecerdasan buatan (AI) menuntut pustakawan sedikit demi sedikit meninggalkan pekerjaan teknis. Mengingat tempat mereka bukan di situ. Pustakawan harusnya memperkuat kreativitas, meningkatkan kemampuan berpikir masyarakat, dan menanamkan nilai-nilai kemanusiaan yang tidak dapat digantikan mesin. Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) E. Aminudin Aziz dalam keterangan resminya menegaskan, perkembangan kecerdasan buatan menuntut perubahan cara kerja pustakawan.

Mereka tidak cukup bertumpu pada pekerjaan teknis yang semakin mampu dikerjakan mesin, tetapi perlu memperkuat kreativitas dan kemampuan yang memberi nilai tambah bagi masyarakat. Perubahan tersebut juga menyentuh pekerjaan di perpustakaan, termasuk sejumlah pekerjaan teknis yang selama ini menjadi bagian dari aktivitas pustakawan. Untuk hal-hal yang sangat teknis, kita ganti dengan mesin. Berdasarkan pengalaman pengolahan bahan pustaka di Perpusnas, ia menggambarkan perbedaan kapasitas pekerjaan manusia dan mesin. Kondisi itu, lanjut Aminudin, bukan berarti menghilangkan peran pustakawan. Sebaliknya, perkembangan teknologi menjadi momentum bagi pustakawan untuk bergerak melampaui pekerjaan yang semata-mata bersifat teknis menuju pekerjaan yang membutuhkan kreativitas dan kemampuan manusia. Yang harus dikerjakan oleh manusia, dalam hal ini pustakawan, adalah beyond technicalities, harus setelah hal-hal teknis itu," ujarnya. Aminudin menilai pustakawan memiliki kemampuan kreatif yang tidak dapat disamakan dengan cara kerja mesin. Algoritma bekerja berdasarkan data dan asupan yang diberikan, sementara manusia memiliki kemampuan untuk berkembang secara kreatif. Pustakawan punya pemikiran kreatif yang mesin tidak miliki. Sekreatif-kreatifnya mesin, kalau tidak ada asupan untuk mengembangkan algoritmanya, maka mesin tidak akan pernah bisa bekerja di luar algoritma yang sudah diberikan," tegasnya. Ia menekankan, Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), uji kompetensi, serta pembinaan dan pengembangan kompetensi pustakawan perlu diarahkan untuk memperkuat kreativitas. Ketika kita bicara tentang SKKNI, ketika kita bicara tentang uji kompetensi, ketika kita bicara tentang pembinaan dan pengembangan kompetensi pustakawan, maka yang dibicarakan bukan lagi hal-hal yang sangat teknis yang bisa dikerjakan oleh mesin. Kita berbicara tentang bagaimana kita mengembangkan kreativitas sebagai seorang pustakawan," jelasnya. Di tengah kemajuan AI, Aminudin juga menyoroti tiga hal yang menurutnya tidak dimiliki mesin, yakni rasa, nilai, dan moral. Ketiga dimensi tersebut menjadi pembeda manusia ketika teknologi semakin mampu mengambil alih pekerjaan teknis, sekaligus menegaskan pentingnya peran pustakawan dalam memberikan layanan yang berorientasi pada manusia. Perubahan citra profesi harus dibuktikan melalui kreativitas dan kontribusi nyata. Stigma tentang pustakawan harus kita kikis habis. Pembuktiannya adalah pembuktian nyata bahwa kita memang manusia-manusia yang kreatif," katanya. Selain transformasi profesi, Aminudin meminta IPI menjadikan Rakernas sebagai forum substantif untuk memperkuat organisasi. Kehadiran peserta dari berbagai daerah, menurutnya, harus menghasilkan pemikiran dan keputusan yang memberi nilai tambah bagi pustakawan. Karena itu, IPI mendorong pustakawan untuk dedikatif, kreatif, adaptif, dan tersertifikasi, sekaligus membangun organisasi yang advokatif, demokratis, efektif, dan mengayomi. Mesin mungkin bisa menemukan triliunan data, namun hanya manusia pustakawanlah yang memiliki empati untuk mendengarkan keluh kesah pemustaka dan memahami ruang batin mereka. Ruh pelayanan ada pada dedikasi kita dan itu tidak akan pernah bisa digantikan oleh kecerdasan buatan mana pun," kata Joko. Agenda dilanjutkan dengan gelar wicara, sidang Rakernas, rapat komisi AD/ART dan program kerja, pleno, serta paparan call for papers dan call for best practices.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *