JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 6 October 2026, Seorang pelajar berusia 15 tahun kehilangan satu tangan setelah sebuah granat polisi meledak ketika berada di tangannya dalam aksi protes pelajar di Lens, Prancis utara, pada Senin, 5 Oktober 2026. Insiden tersebut terjadi saat aparat antihuru-hara berupaya mengendalikan demonstrasi yang berlangsung di tengah ketegangan pengunjuk rasa dan polisi.
Menurut laporan mengenai kejadian itu, granat yang diambil korban merupakan jenis sting-ball, perangkat yang dirancang untuk membubarkan massa dengan menghasilkan ledakan, kilatan, serta serpihan atau proyektil karet. Granat tersebut ditembakkan oleh aparat dalam rangkaian tindakan pengamanan. Beberapa saat setelah pelajar itu mengambilnya, perangkat tersebut meledak di tangannya dan menyebabkan cedera yang sangat serius hingga memerlukan amputasi.
Korban segera dievakuasi dan kemudian dirawat di sebuah rumah sakit di Lille. Prefek Pas-de-Calais, Francois-Xavier Lauch, menyatakan bahwa kondisi pelajar tersebut sudah tidak berada dalam bahaya. Pernyataan itu disampaikan setelah tim medis memberikan penanganan terhadap luka yang dialami korban. Otoritas belum menguraikan secara rinci proses perawatan lanjutan maupun keadaan korban setelah menjalani tindakan medis.
Peristiwa di Lens berlangsung ketika demonstrasi pelajar terjadi di sejumlah wilayah Prancis. Aksi tersebut menyoroti buruknya kondisi ruang kelas, termasuk persoalan fasilitas dan lingkungan belajar yang dinilai tidak memadai. Para pelajar turun ke jalan untuk menyampaikan tuntutan terkait perbaikan sekolah dan peningkatan kualitas sarana pendidikan.
Cedera yang dialami pelajar itu menambah perhatian terhadap penggunaan perangkat pengendali massa dalam menghadapi demonstrasi yang melibatkan anak-anak dan remaja. Insiden tersebut juga diperkirakan akan memicu pertanyaan mengenai prosedur penggunaan granat sting-ball, cara aparat memberikan peringatan, serta langkah perlindungan bagi peserta aksi di bawah umur. Penyelidikan dan keterangan lebih lanjut diperlukan untuk menjelaskan rangkaian kejadian secara menyeluruh.
Aksi protes pelajar di Prancis berlangsung selama beberapa hari dan terus meluas dari satu sekolah ke berbagai wilayah. Kementerian Pendidikan Prancis menyatakan bahwa pada Senin, lebih dari 400 dari sekitar 3.700 sekolah menengah atau lycée ditutup sebagian maupun seluruhnya. Penutupan tersebut mengganggu kegiatan belajar mengajar dan memperlihatkan besarnya mobilisasi siswa di tengah meningkatnya ketegangan mengenai kondisi pendidikan.
Sejak akhir September, para pelajar telah memblokir akses masuk ke ratusan sekolah. Di sejumlah lokasi, aksi berlangsung dengan mendirikan barikade untuk menghambat aktivitas sekolah. Beberapa unjuk rasa juga memicu kebakaran, sehingga aparat harus dikerahkan untuk menjaga keamanan dan mengendalikan situasi. Perkembangan ini membuat protes tidak lagi terbatas pada lingkungan sekolah tertentu, melainkan menjadi gerakan yang menyebar ke sejumlah kota dan wilayah di Prancis.
Para pelajar menyampaikan berbagai tuntutan terkait persoalan yang mereka hadapi setiap hari. Mereka menyoroti kekurangan guru yang menyebabkan pelajaran tidak berlangsung secara normal, jadwal yang terlalu padat, serta ruang kelas yang rusak dan tidak memadai. Mereka juga mempersoalkan kondisi bangunan sekolah yang dinilai tidak sesuai dengan meningkatnya suhu, terutama ketika ruang belajar tidak memiliki fasilitas yang cukup untuk menghadapi cuaca panas. Alma, seorang pelajar Lycee Charlemagne, mengatakan bahwa sistem pendidikan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Pernyataan itu mencerminkan penilaian bahwa berbagai masalah tersebut bukan kejadian terpisah, melainkan tanda adanya kegagalan dalam mengelola dan memenuhi kebutuhan dasar sekolah serta siswa.
Di pusat Paris, puluhan pelajar sekolah menengah berkumpul di luar sejumlah sekolah untuk menyampaikan protes. Aksi tersebut berlangsung di tengah suasana yang beragam: beberapa kendaraan yang melintas membunyikan klakson sebagai tanda dukungan, sementara sebagian pelajar lain tetap mengikuti pelajaran di dalam gedung. Di luar Lycée Turgot, sebuah poster bertuliskan, “kami melewatkan pelajaran untuk memberi kalian satu pelajaran,” menjadi salah satu simbol pesan demonstran. Para pelajar menyoroti kemarahan terhadap kebijakan pemerintah dan kondisi sosial yang, menurut mereka, telah memicu keresahan selama bertahun-tahun.
Situasi di luar Lycée Gustave Eiffel sempat memanas ketika beberapa demonstran menyalakan kembang api ke arah polisi. Aparat kemudian membalas dengan menembakkan gas air mata untuk membubarkan atau menjauhkan massa. Namun, menurut reporter yang berada di lokasi, keadaan secara umum tetap relatif tenang dan tidak sepenuhnya berubah menjadi kerusuhan besar. Perkembangan tersebut menunjukkan adanya ketegangan kelompok pelajar dan aparat, terutama ketika aksi berlangsung di sekitar sekolah yang sebagian besar pesertanya masih berusia di bawah umur.
Liga Hak Asasi Manusia Prancis, atau LDH, menuduh polisi menggunakan metode yang tidak proporsional terhadap demonstran muda. Organisasi itu menilai tindakan aparat perlu diperiksa secara serius, khususnya ketika pengendalian massa melibatkan pelajar. Berdasarkan keterangan sumber anonim, sedikitnya enam penyelidikan internal telah dibuka terkait dugaan kekerasan polisi selama rangkaian protes tersebut. Simon, salah seorang pelajar, mengatakan bahwa kemarahan mereka bukanlah reaksi sesaat, melainkan akumulasi kekecewaan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Di sisi lain, pemerintah menuduh aktivis dari kelompok kiri garis keras telah mengambil alih gerakan protes dan mendorong eskalasi di lapangan.
Gerakan protes ini bermula pada 17 September di sebuah sekolah menengah di kawasan Créteil, pinggiran Paris. Aksi tersebut pada awalnya ditujukan untuk mendukung para guru yang melakukan mogok kerja karena menghadapi kekurangan tenaga pengajar dan terbatasnya sumber daya di sekolah. Tuntutan mengenai kondisi pendidikan kemudian menarik perhatian pelajar dari sejumlah sekolah lain, sehingga gelombang aksi meluas ke berbagai wilayah.
Seiring bertambahnya jumlah peserta, sebagian demonstrasi berubah menjadi tindakan vandalisme dan bentrokan dengan aparat keamanan. Sejumlah halte bus dirusak, sementara pintu masuk sebuah sekolah dibakar. Dalam beberapa kesempatan, demonstran terlibat konfrontasi dengan polisi ketika petugas berupaya mengendalikan kerumunan dan mencegah kerusakan lebih lanjut. Perkembangan tersebut membuat isu mengenai kekurangan staf dan sumber daya pendidikan bercampur dengan persoalan keamanan serta ketertiban umum.
Menteri Pendidikan Prancis menyatakan bahwa 24 sekolah telah dibakar atau mengalami kerusakan sejak gerakan dimulai. Lebih dari 5.000 orang juga telah ditangkap, dan 87 persen di antaranya merupakan anak di bawah umur. Angka tersebut menggambarkan besarnya keterlibatan pelajar dalam rangkaian aksi, sekaligus meningkatkan tekanan terhadap pemerintah untuk merespons tuntutan pendidikan tanpa mengabaikan dampak kerusuhan.
Insiden terbaru berlangsung sehari sebelum demonstrasi yang diperkirakan lebih besar pada Selasa. Serikat pelajar sekolah menengah menyebut rencana aksi itu sebagai “act iii”, sedangkan seruan di media sosial untuk menggelar “pekan hitam” terus bermunculan. Gejolak ini berlangsung beberapa bulan sebelum pemilu 2027, yang akan menentukan pengganti Presiden Prancis Emmanuel Macron, sehingga perkembangan protes turut menjadi bagian dari dinamika politik menjelang pergantian kepemimpinan nasional.

