BIFF 2026 Jadi Panggung Regenerasi Wastra dan Kriya Unggulan Kalimantan Timur

BIFF 2026 Jadi Panggung Regenerasi Wastra dan Kriya Unggulan Kalimantan Timur

SAMARINDA, KALIMANTAN TIMUR — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 5 October 2026, Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Kalimantan Timur mendorong keterlibatan generasi muda dan pelajar dalam Borneo International Fashion Festival (BIFF) 2026. Langkah tersebut menjadi bagian penting dari upaya membangun ekosistem wastra dan kriya unggulan daerah yang mampu berkembang secara berkelanjutan. Festival tidak hanya diposisikan sebagai ajang pameran atau peragaan karya, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran, pengenalan potensi lokal, serta penyiapan sumber daya manusia bagi industri kreatif di masa depan.

Ketua Harian Dekranasda Kaltim Heny Purwaningsih menyampaikan di Samarinda bahwa BIFF 2026 diarahkan untuk membentuk ekosistem pengembangan produk lokal sekaligus menciptakan penggerak ekonomi daerah. Menurutnya, keterlibatan pelajar dan anak muda dapat memperluas pemahaman mengenai nilai budaya, proses kreatif, serta peluang usaha yang terdapat dalam wastra dan kriya Kalimantan Timur. Kelompok muda juga diharapkan tidak hanya menjadi penonton, melainkan turut berperan sebagai perancang, pengrajin, pengelola merek, pemasaran, hingga pelaku usaha yang mampu membawa produk daerah ke pasar yang lebih luas.

Regenerasi pelaku industri kreatif menjadi alasan utama pelibatan generasi muda dalam agenda tersebut. Tanpa proses pewarisan pengetahuan dan keterampilan, kekayaan motif, teknik pengolahan, serta karakter bahan lokal berisiko kehilangan keberlanjutan. Melalui BIFF 2026, Dekranasda Kaltim berupaya mempertemukan pelaku usaha, perajin, desainer, lembaga pendidikan, dan calon talenta baru dalam satu lingkungan kolaboratif. Interaksi tersebut dapat membuka kesempatan untuk bertukar gagasan, mengembangkan inovasi, serta memperkenalkan pendekatan baru tanpa menghilangkan identitas budaya.

Pelibatan pelajar sejak dini juga dinilai penting untuk menumbuhkan kebanggaan terhadap karya daerah. Dengan dukungan pembinaan yang konsisten, generasi penerus dapat memahami bahwa wastra dan kriya bukan sekadar warisan budaya, tetapi sektor produktif yang memiliki nilai ekonomi dan prospek karier. Karena itu, BIFF 2026 diharapkan menjadi titik penguatan regenerasi sekaligus fondasi bagi pertumbuhan industri kreatif Kalimantan Timur yang inklusif, adaptif, dan berdaya saing.

Heny Purwaningsih menilai pelajar vokasi memiliki potensi besar untuk mengambil peran dalam pengembangan produk fesyen daerah. Penilaian tersebut terutama ditujukan kepada siswa SMK sederajat yang menekuni bidang fesyen, karena mereka tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai proses perancangan, tetapi juga menunjukkan keberanian dalam mengolah gagasan menjadi karya yang memiliki karakter. Potensi ini menjadi modal penting bagi keberlanjutan industri kreatif di Kalimantan Timur.

Menurut Heny, karya para siswa memperlihatkan bahwa generasi muda mampu menghasilkan desain yang layak diperhitungkan. Kualitas tersebut bahkan dinilai mampu bersaing dengan produk atau karya yang dibuat oleh perajin senior. Penilaian ini menunjukkan bahwa keterlibatan pelajar dalam fesyen bukan sekadar pelengkap kegiatan, melainkan cerminan tumbuhnya kemampuan baru yang dapat memperkaya ekosistem wastra dan kriya daerah.

Keberadaan sekolah dalam BIFF 2026 juga memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar keikutsertaan sebagai peserta acara. Sekolah menjadi ruang penting untuk mempertemukan proses pendidikan dengan kebutuhan pengembangan industri kreatif. Melalui karya yang ditampilkan, pelajar memperoleh kesempatan untuk menunjukkan gagasan, ketekunan, serta kualitas desain yang mereka miliki, sementara masyarakat dapat melihat secara langsung perkembangan kemampuan generasi penerus.

Pelibatan siswa vokasi dengan demikian menjadi bagian dari proses menyiapkan keberlanjutan wastra dan kriya Kalimantan Timur. Regenerasi tidak hanya bergantung pada pelestarian teknik dan produk yang telah ada, tetapi juga pada kemampuan generasi muda untuk menerjemahkan kekayaan daerah ke dalam rancangan yang relevan. Ketika karya siswa mendapat ruang dan apresiasi, kesinambungan industri kreatif dapat dibangun melalui hubungan pengalaman perajin senior dan kreativitas pelajar. Perspektif ini menempatkan sekolah sebagai salah satu fondasi penting bagi lahirnya talenta baru yang mampu menjaga sekaligus mengembangkan identitas fesyen daerah.

BIFF 2026 berlangsung pada 3–4 Oktober 2026 sebagai ruang pertemuan bagi beragam pelaku industri kreatif. Kegiatan ini melibatkan desainer, artisan, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta siswa sekolah menengah kejuruan (SMK). Keterlibatan tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan wastra dan kriya tidak hanya bertumpu pada perancang berpengalaman, tetapi juga membuka ruang bagi generasi muda untuk memperkenalkan kemampuan dan gagasan mereka. Seluruh rangkaian yang disebutkan berlangsung di Pendopo Odah Etam.

Peragaan busana dalam BIFF 2026 dibagi ke dalam dua sesi. Sesi pertama menampilkan karya siswa SMK tata busana bersama desainer undangan dari Bali. Kehadiran para siswa memberikan penekanan pada proses regenerasi, sekaligus menunjukkan potensi pendidikan vokasi dalam menghasilkan karya busana yang berangkat dari kreativitas dan kekayaan budaya. Pendampingan melalui panggung publik juga dapat membantu memperkenalkan karya pelajar kepada masyarakat serta memperluas apresiasi terhadap keterampilan tata busana.

Sesi kedua diselenggarakan pada malam hari dengan menghadirkan perancang dari Bali, Kalimantan Timur, hingga Melbourne, Australia. Keterlibatan perancang dari berbagai wilayah tersebut memperkaya perspektif dalam peragaan busana dan mempertemukan karya lokal dengan cakupan kreatif yang lebih luas. Kehadiran pelaku dari luar daerah dan luar negeri juga menegaskan bahwa wastra serta kriya Kalimantan Timur memiliki peluang untuk dikembangkan melalui jejaring kolaborasi.

Melalui BIFF 2026, Dekranasda menegaskan komitmennya untuk menyediakan panggung bagi produk kreatif lokal. Panggung tersebut tidak semata-mata berfungsi sebagai tempat menampilkan karya, tetapi juga menjadi sarana memperkenalkan produk kepada khalayak yang lebih luas. Dengan demikian, karya desainer, artisan, UMKM, dan siswa SMK berpeluang memperoleh perhatian, membangun jejaring, serta menjangkau pasar nasional dan internasional secara lebih terbuka.

Project Director BIFF 2026, Anas Maghfur, menjelaskan bahwa kolaborasi internasional dalam festival ini dirancang untuk memperkenalkan wastra Kalimantan Timur ke ranah yang lebih luas. Kehadiran perancang dari luar daerah dan Melbourne menjadi bagian dari upaya mempertemukan kekayaan tekstil tradisional Kaltim dengan perspektif kreatif serta jejaring fesyen lintas negara. Pertemuan tersebut diharapkan dapat memperkuat pemahaman terhadap karakter, teknik, dan nilai budaya yang melekat pada setiap produk wastra daerah.

Menurut Anas, Melbourne menjadi salah satu pasar yang dibidik melalui rangkaian kolaborasi tersebut. Perancang dan pelaku industri kreatif dari kota itu diharapkan dapat mengenali potensi wastra Kaltim, baik sebagai bahan busana maupun sebagai produk kriya yang memiliki identitas khas. Pengenalan ini penting untuk membuka ruang dialog mengenai selera konsumen, pengembangan desain, standar produk, dan kemungkinan promosi yang lebih sesuai dengan konteks pasar internasional. Dengan demikian, festival tidak hanya menjadi ruang pertunjukan, tetapi juga sarana untuk membangun hubungan kreatif yang berkelanjutan.

Harapan yang disampaikan Anas adalah agar produk industri kreatif Kalimantan Timur pada waktunya dapat dijual di Melbourne. Apabila peluang tersebut berkembang, terbuka kemungkinan bagi terciptanya kegiatan ekspor-impor serta kesinambungan kerja sama pelaku usaha, perancang, dan mitra dari kedua wilayah. Namun, arah tersebut tetap merupakan tujuan yang hendak dibangun melalui proses kolaborasi, pengenalan produk, dan penjajakan pasar. BIFF 2026 menempatkan langkah awal itu sebagai bagian penting dari upaya membawa wastra Kaltim lebih dekat ke panggung global, tanpa melepaskan akar budaya dan karakter lokal yang menjadi kekuatannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *