Rembuk Nasional Susun Tahapan Pengembangan Saka Amal Bhakti bagi Santri

Rembuk Nasional Susun Tahapan Pengembangan Saka Amal Bhakti bagi Santri

KABUPATEN MALANG, JAWA TIMUR — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 5 October 2026, Kementerian Agama melalui Direktorat Jenderal Pesantren menggelar seminar dan lokakarya bertajuk “Rembuk Nasional Prospek dan Proyeksi Pramuka Santri dalam Pengembangan Saka Amal Bhakti”. Kegiatan tersebut berlangsung di Pondok Pesantren An-Nur II, Bululawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, pada Senin, 5 Oktober 2026. Forum ini menjadi ruang strategis untuk membicarakan arah pengembangan kepramukaan yang relevan dengan kebutuhan santri dan lingkungan pendidikan keagamaan.

Pelaksanaan rembuk nasional itu berlangsung empat hari setelah Saka Amal Bhakti diluncurkan pada 1 Oktober 2026. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) VI. Penempatan forum dalam rangkaian PPSN VI memperkuat keterkaitan pengembangan organisasi, pembinaan karakter, dan pengalaman kepramukaan yang diperoleh peserta didik di lingkungan pesantren serta madrasah.

Peserta forum berasal dari unsur Kementerian Agama dan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka. Pertemuan ini mempertemukan pemangku kepentingan yang memiliki peran dalam perumusan kebijakan, pengelolaan organisasi, pembinaan anggota, dan pelaksanaan kegiatan kepramukaan. Keterlibatan kedua pihak diharapkan dapat membangun pemahaman bersama mengenai posisi Saka Amal Bhakti sebagai wadah pengembangan minat, keterampilan, kepemimpinan, dan pengabdian bagi generasi muda.

Pembahasan diarahkan pada sejumlah aspek utama, meliputi kelembagaan, pola pembinaan, serta tahapan pengembangan Saka Amal Bhakti. Wadah ini ditujukan bagi santri, pelajar madrasah, dan mahasiswa perguruan tinggi keagamaan. Melalui pembicaraan yang terarah, forum tersebut diharapkan menghasilkan dasar pengembangan yang terukur, termasuk pembagian peran, mekanisme pendampingan, dan penguatan jejaring satuan pendidikan keagamaan dengan Gerakan Pramuka. Dengan demikian, Saka Amal Bhakti dapat tumbuh secara bertahap sebagai sarana pendidikan karakter, keterampilan sosial, dan pengabdian masyarakat.

Sekretaris Direktorat Jenderal Pesantren, Arsad Hidayat, menyampaikan bahwa momentum nasional untuk mengembangkan Pramuka Santri kini telah terbuka. Peluang tersebut terlihat dari tingginya partisipasi dalam Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) VI yang diikuti 4.524 peserta. Jumlah ini menunjukkan bahwa gerakan kepanduan di lingkungan pesantren memiliki basis dukungan yang luas, sekaligus potensi besar untuk membentuk karakter, kepemimpinan, kemandirian, dan kepedulian sosial santri.

Penyelenggaraan PPSN juga bukan kegiatan yang muncul secara tiba-tiba. Tradisi tersebut telah berlangsung selama dua dekade, sejak 2006, sehingga memiliki pengalaman, jaringan, dan nilai-nilai yang dapat menjadi modal pengembangan lebih lanjut. Peluncuran Saka Amal Bhakti serta rangkaian kegiatan perkemahan menjadi penanda penting dalam perjalanan itu. Namun, kemeriahan agenda nasional tidak boleh berhenti sebagai pengalaman sesaat atau sekadar simbol kebersamaan antarpeserta.

Tantangan berikutnya adalah mengubah semangat tersebut menjadi sistem pembinaan yang berjalan secara berkelanjutan. Sistem itu perlu diterapkan di satuan pendidikan maupun masyarakat melalui program yang terencana, pembina yang kompeten, kegiatan rutin, serta pembagian peran yang jelas pesantren, madrasah, organisasi kepramukaan, dan pemangku kepentingan terkait. Saka Amal Bhakti diharapkan tidak hanya hadir ketika perkemahan diselenggarakan, tetapi menjadi wadah pembelajaran dan pengabdian yang terintegrasi dengan kehidupan santri. Pembinaan dapat diarahkan pada keterampilan sosial, pelayanan masyarakat, kesiapsiagaan, pelestarian lingkungan, serta penguatan nilai keagamaan. Dengan kesinambungan program, capaian PPSN dapat diteruskan dalam aktivitas sehari-hari dan memberi manfaat nyata bagi lingkungan sekitar. Langkah tersebut memerlukan evaluasi berkala agar setiap kegiatan memiliki indikator, sasaran, dan hasil yang dapat diukur.

Arsad menawarkan lima prinsip perencanaan sebagai landasan awal pengembangan Saka Amal Bhakti bagi santri. Prinsip pertama ialah perluasan secara bertahap, sehingga pengembangan tidak dilakukan secara serentak, melainkan dimulai dari wilayah, satuan pendidikan, atau kelompok yang memiliki kesiapan. Kedua, mutu perlu didahulukan melalui pembinaan, kurikulum, pendampingan, dan evaluasi yang memadai. Pertumbuhan jumlah anggota penting, tetapi tidak boleh mengurangi kualitas pengalaman belajar serta pengabdian santri.

Prinsip ketiga adalah penggunaan basis data. Setiap tahapan perlu didukung informasi yang jelas mengenai kebutuhan santri, kapasitas pembina, potensi daerah, serta hasil pelaksanaan program. Dengan demikian, keputusan dapat disusun berdasarkan kondisi nyata, bukan sekadar perkiraan. Keempat, pengembangan harus bersifat inklusif dengan membuka ruang partisipasi bagi santri dari berbagai latar belakang, sekaligus memperhatikan keterlibatan pembina, lembaga pendidikan, dan masyarakat. Kelima, seluruh proses harus dapat dipertanggungjawabkan melalui tata kelola, pelaporan, pemantauan, serta evaluasi yang transparan.

Dalam pembahasan awal, Arsad juga memaparkan enam opsi krida yang dapat menjadi arah pengembangan kegiatan. Opsi tersebut meliputi kerukunan dan dialog; ibadah dan literasi keagamaan; karakter dan kepemimpinan; ketahanan keluarga dan sosial; cinta alam atau ekoteologi; serta bakti dan kesiapsiagaan. Setiap tema memiliki keterkaitan dengan kebutuhan pembentukan santri yang berpengetahuan, berakhlak, mampu bekerja sama, dan tanggap terhadap persoalan sosial maupun lingkungan.

Keenam opsi itu belum merupakan daftar krida resmi. Seluruhnya masih berupa rancangan awal yang perlu dibahas secara mendalam oleh pemangku kepentingan terkait. Pembahasan lanjutan diperlukan untuk menilai relevansi, tujuan pembelajaran, bentuk kegiatan, kesiapan pelaksana, serta mekanisme evaluasinya sebelum ditetapkan dan diterapkan secara lebih luas.

Peta jalan pengembangan Saka Amal Bhakti untuk periode 2026–2030 disusun sebagai kerangka bertahap yang masih memerlukan validasi. Tahun 2026 diarahkan untuk konsolidasi, meliputi penataan kelembagaan, penyelarasan panduan, pemetaan pangkalan, serta pengumpulan data dasar mengenai pembina, peserta, dan kegiatan pengabdian. Tahap ini penting agar pelaksanaan berikutnya memiliki acuan yang seragam sekaligus mempertimbangkan kondisi masing-masing daerah.

Pada 2027, pengembangan direncanakan memasuki tahap uji coba terbatas di sejumlah wilayah dan pangkalan yang dinilai siap. Hasil uji coba akan digunakan untuk menilai kelayakan modul, pola pembinaan, mekanisme pendampingan, serta bentuk kegiatan yang sesuai bagi santri. Jika temuan lapangan mendukung, tahun 2028 menjadi momentum perluasan melalui penambahan pangkalan, penguatan jejaring, dan peningkatan keterlibatan mitra di tingkat daerah maupun nasional.

Tahun 2029 diarahkan sebagai fase penguatan mutu. Perhatian diberikan pada peningkatan kompetensi pembina, evaluasi berkala, standardisasi proses pembelajaran, dan dokumentasi proyek pengabdian. Selanjutnya, 2030 diposisikan sebagai tahap pemantapan, ketika tata kelola, pembinaan, kemitraan, dan pelaporan diharapkan berjalan lebih stabil. Dalam simulasi awal, sejumlah ilustrasi digunakan, yaitu 300 pangkalan aktif, 1.000 pembina terlatih, 900 proyek pengabdian, serta 15.000 peserta yang menuntaskan modul pada 2030.

Angka-angka tersebut belum merupakan target resmi. Seluruhnya masih harus divalidasi berdasarkan data dasar yang tersedia, kemampuan anggaran, kesiapan sumber daya manusia, serta kapasitas setiap daerah dalam menjalankan program secara berkelanjutan. Validasi juga diperlukan agar sasaran tidak hanya terlihat ambisius, tetapi dapat diukur dan dicapai melalui tahapan yang realistis. Arsad menegaskan bahwa pertumbuhan Saka Amal Bhakti membutuhkan pembinaan yang konsisten, keterampilan nyata, kemitraan yang kuat, dan pengabdian yang dapat dibuktikan melalui kegiatan serta dampak yang terdokumentasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *