JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 October 2026, Realisasi belanja negara hingga akhir September 2026 mencapai Rp2.660,5 triliun. Nilai tersebut setara dengan 69,2 persen dari target yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, yakni sebesar Rp3.842,7 triliun. Capaian ini menunjukkan bahwa sebagian besar alokasi belanja pemerintah telah tersalurkan selama sembilan bulan pertama tahun anggaran berjalan.
Realisasi tersebut juga mencatat pertumbuhan tahunan sebesar 19 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Kinerja ini menandai perubahan arah yang cukup signifikan, mengingat belanja negara pada periode yang sama tahun sebelumnya masih mengalami kontraksi sebesar 0,8 persen. Dengan demikian, peningkatan belanja hingga September 2026 mencerminkan akselerasi penyaluran anggaran sekaligus penguatan pelaksanaan program pemerintah.
Informasi mengenai perkembangan belanja negara itu disampaikan oleh Kementerian Keuangan dalam konferensi pers APBN yang berlangsung di Jakarta pada Jumat, 9 Oktober 2026. Pemerintah menjadikan realisasi anggaran sebagai salah satu indikator penting untuk memantau pelaksanaan kebijakan fiskal, pembiayaan program pembangunan, serta dukungan terhadap aktivitas ekonomi nasional. Capaian sebesar Rp2.660,5 triliun tersebut menjadi dasar untuk menilai ruang penyaluran anggaran pada kuartal terakhir tahun ini. Dengan masih tersedianya porsi anggaran yang belum terealisasi, pemerintah perlu memastikan pelaksanaan belanja berlangsung tepat waktu, tepat sasaran, dan tetap memperhatikan kualitas penggunaan anggaran. Perkembangan pada tiga bulan terakhir akan turut menentukan posisi akhir realisasi APBN 2026 serta kemampuan pemerintah memenuhi target belanja negara yang telah ditetapkan.
Realisasi belanja negara menunjukkan peningkatan cukup besar dalam rentang satu bulan. Hingga akhir Agustus 2026, belanja negara tercatat mencapai Rp2.295,7 triliun atau sekitar 59,7 persen dari pagu Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Angka tersebut kemudian bertambah sekitar Rp364,8 triliun selama September, sehingga total realisasi hingga akhir bulan itu mencapai Rp2.660,5 triliun.
Kenaikan tersebut menggambarkan adanya aktivitas penyerapan anggaran yang lebih tinggi pada September dibandingkan bulan sebelumnya. Tambahan realisasi senilai ratusan triliun rupiah turut memperkuat capaian belanja negara sepanjang tahun berjalan. Perkembangan ini juga menjadi bagian dari pelaksanaan program dan kegiatan pemerintah yang pembiayaannya telah dialokasikan dalam APBN 2026.
Besarnya tambahan belanja dalam satu bulan menunjukkan bahwa penyerapan anggaran berlangsung secara bertahap dan dapat meningkat menjelang periode akhir tahun. Sejumlah kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, serta pelaksana program terkait terus merealisasikan anggaran sesuai dengan rencana kerja dan kebutuhan pelaksanaan kegiatan. Dengan demikian, posisi realisasi pada akhir September menjadi dasar bagi perkembangan belanja pada bulan-bulan berikutnya.
Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara memandang belanja negara diperkirakan terus meningkat menjelang akhir tahun. Perkiraan tersebut berkaitan dengan adanya percepatan penyerapan anggaran pada periode mendatang. Dalam perkembangannya, terdapat sedikit peningkatan menuju November hingga Desember, sejalan dengan pola realisasi belanja yang biasanya menguat pada penghujung tahun. Namun, peningkatan itu tetap merefleksikan proses penyerapan anggaran sesuai pelaksanaan program yang telah direncanakan.
Belanja pemerintah pusat menunjukkan penyerapan anggaran yang semakin kuat melalui dua komponen utama, yakni belanja kementerian/lembaga serta belanja non-kementerian/lembaga. Keduanya mencatat pertumbuhan tahunan dua digit, yang menandakan peningkatan aktivitas pelaksanaan program pemerintah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Belanja kementerian/lembaga terealisasi sebesar Rp1.069,4 triliun hingga September 2026. Nilai tersebut setara dengan 70,8 persen dari target yang telah ditetapkan. Secara tahunan, realisasi ini tumbuh 33,5 persen. Capaian tersebut mencerminkan peningkatan penyerapan anggaran oleh kementerian dan lembaga untuk mendukung pelaksanaan berbagai program serta kegiatan pemerintah pusat.
Peningkatan realisasi belanja kementerian/lembaga menunjukkan bahwa anggaran yang tersedia semakin banyak digunakan untuk menjalankan fungsi pemerintahan dan mencapai sasaran kebijakan. Penyerapan tersebut dapat mencakup pembiayaan kegiatan operasional, pelayanan publik, pembangunan, serta program prioritas yang dilaksanakan oleh masing-masing instansi sesuai dengan pagu dan rencana kerja yang telah ditetapkan.
Sementara itu, belanja non-kementerian/lembaga mencapai Rp991,9 triliun. Realisasi tersebut setara dengan 60,5 persen dari target dan tumbuh 25,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Komponen ini turut memberikan kontribusi penting terhadap pelaksanaan kebijakan pemerintah pusat melalui berbagai pembayaran dan program yang tidak diklasifikasikan sebagai belanja kementerian/lembaga.
Pertumbuhan pada kedua komponen tersebut memperlihatkan bahwa penyerapan anggaran berjalan lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Perbedaan karakteristik belanja kementerian/lembaga dan non-kementerian/lembaga tetap mencerminkan peran masing-masing dalam mendukung pelaksanaan fungsi negara. Dengan realisasi yang meningkat, anggaran pemerintah pusat terus diarahkan untuk membiayai program dan kegiatan yang telah direncanakan, sekaligus memastikan pelaksanaan kebijakan berlangsung sesuai dengan prioritas yang ditetapkan.
Realisasi Transfer ke Daerah (TKD) hingga September 2026 mencapai Rp599,2 triliun. Angka tersebut setara dengan 86,5 persen dari pagu anggaran yang telah ditetapkan. Berdasarkan tingkat penyerapan, TKD menjadi komponen belanja dengan capaian tertinggi di komponen-komponen belanja negara yang disebutkan. Persentase tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar alokasi TKD telah terealisasi hingga akhir September.
Capaian penyerapan yang tinggi itu tidak serta-merta diikuti oleh pertumbuhan tahunan yang positif. Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, realisasi TKD pada September 2026 mengalami kontraksi sebesar 7,1 persen. Dengan demikian, nilai realisasi pada tahun berjalan berada dalam tren penurunan secara tahunan, meskipun tingkat pencapaiannya terhadap pagu tetap menjadi yang paling tinggi di komponen yang dibahas.
Perubahan ini juga berbalik dari kondisi pada September 2025, ketika realisasi TKD masih mencatat pertumbuhan sebesar 1,5 persen secara tahunan. Perbandingan tersebut memperlihatkan perbedaan dua ukuran kinerja belanja. Dari sisi penyerapan terhadap pagu, TKD mencatat capaian 86,5 persen dan menempati posisi tertinggi. Namun, dari sisi perubahan tahunan, realisasinya justru turun 7,1 persen, berlawanan dengan pertumbuhan 1,5 persen yang tercatat pada September 2025.

