KOTA BATAM, KEPULAUAN RIAU — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 October 2026, Transisi menuju sistem energi rendah karbon perlu dijalankan secara bertahap dan seimbang. Dalam pendekatan Pertamina, keandalan pasokan serta keterjangkauan energi bagi masyarakat tetap menjadi prioritas yang tidak dapat diabaikan. Kebutuhan energi harus terus dipenuhi secara konsisten, sementara perubahan menuju sumber energi yang lebih rendah emisi berlangsung dengan perencanaan yang matang. Dengan demikian, agenda pengurangan emisi tidak diposisikan sebagai pengganti langsung terhadap sistem energi yang berjalan, melainkan sebagai proses transformasi yang memperkuat fondasi ketahanan energi nasional.
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, menegaskan bahwa keandalan pasokan merupakan fondasi transisi energi. Pernyataan tersebut disampaikan dalam panel session 1 bertajuk “Powering Growth: Energy Security in the Low-Carbon Era” pada Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026. Dalam forum itu, ia menyampaikan, “Reliability and decarbonization are a sequence, not a trade-off.” Pesan tersebut menekankan bahwa keandalan dan dekarbonisasi perlu ditempatkan dalam urutan serta kerangka kerja yang saling mendukung, bukan dipandang sebagai dua kepentingan yang harus dipertentangkan.
Sejalan dengan prinsip tersebut, pengembangan teknologi, infrastruktur, dan sumber energi rendah karbon dilakukan secara paralel dengan penguatan sistem pasokan yang sudah ada. Pendekatan bertahap memberi ruang bagi Pertamina untuk menjaga kesinambungan layanan energi sekaligus membangun kapasitas yang diperlukan dalam proses dekarbonisasi. Keseimbangan ini penting bagi masyarakat, karena energi yang tersedia harus tetap dapat diakses dan terjangkau. Pada tingkat nasional, pasokan yang andal dan pengembangan energi rendah karbon bersama-sama mendukung ketahanan energi, sekaligus menciptakan dasar yang lebih kuat bagi pertumbuhan ekonomi. Transisi energi, dengan demikian, diarahkan sebagai proses yang menjaga kebutuhan saat ini sambil menyiapkan sistem energi untuk masa depan.
Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Pulau Sembur di Kota Batam, Kepulauan Riau, menunjukkan bagaimana energi terbarukan dapat menjawab kebutuhan listrik di wilayah kepulauan. Sebelum proyek ini hadir, masyarakat setempat mengandalkan pembangkit listrik berbahan bakar diesel. Ketergantungan tersebut tidak hanya berkaitan dengan biaya dan ketersediaan bahan bakar, tetapi juga dengan emisi yang dihasilkan selama proses pembangkitan. Kehadiran PLTS memperkenalkan sumber listrik yang lebih bersih dan sesuai dengan potensi sinar matahari yang melimpah di kawasan tersebut.
Fasilitas ini memiliki kapasitas pembangkitan sebesar 1 megawatt peak (MWp), dilengkapi sistem penyimpanan baterai berkapasitas 1 megawatt hour (MWh). Kombinasi panel surya dan baterai memungkinkan listrik tersedia secara lebih stabil, termasuk ketika intensitas cahaya matahari menurun. Pasokan tersebut dapat memenuhi kebutuhan listrik lebih dari 200 rumah tangga, sehingga manfaat proyek tidak terbatas pada pengurangan penggunaan diesel. Masyarakat memperoleh dukungan energi yang lebih andal untuk kegiatan sehari-hari, layanan dasar, dan aktivitas produktif di pulau.
Dampaknya juga terlihat pada sektor perikanan. Listrik dari PLTS digunakan untuk mengoperasikan fasilitas penyimpanan dingin (cold storage) dan mesin pembuat es (ice maker). Kedua fasilitas ini membantu nelayan mempertahankan kesegaran hasil tangkapan setelah melaut, mengurangi risiko kerusakan, serta memberi waktu yang lebih leluasa untuk mengatur penjualan. Dengan kualitas yang terjaga, hasil tangkapan berpeluang memperoleh harga lebih baik. Artinya, penyediaan listrik tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan rumah tangga, melainkan terhubung langsung dengan keberlangsungan usaha dan peningkatan pendapatan masyarakat.
PLTS Pulau Sembur menjadi contoh bahwa transisi energi dapat dirancang sekaligus untuk memperluas akses listrik dan memperkuat ekonomi lokal. Model ini berpotensi direplikasi di pulau-pulau lain yang menghadapi ketergantungan pada diesel, keterbatasan jaringan, dan kebutuhan pengembangan usaha berbasis sumber daya setempat. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa energi bersih dapat menciptakan nilai tambah ekonomi apabila dipadukan dengan fasilitas yang mendukung kegiatan masyarakat.
Pengembangan energi alternatif menjadi salah satu langkah Pertamina untuk menjaga pasokan energi sekaligus mendukung agenda penurunan emisi. Pendekatan ini memanfaatkan sumber daya domestik yang tersedia, sehingga transisi energi tidak hanya dipandang dari sisi lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan diversifikasi sumber energi dan ketahanan nasional.
Dalam sektor bahan bakar nabati, Pertamina mendorong pengembangan biodiesel B50, yaitu formulasi bahan bakar dengan kandungan biodiesel yang lebih tinggi. Pengembangan tersebut diarahkan untuk memperluas pemanfaatan bahan baku domestik dan mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar minyak. Dengan memperbesar peran energi berbasis sumber daya dalam negeri, pasokan energi diharapkan menjadi lebih beragam dan tidak terlalu rentan terhadap perubahan pasar energi global.
Selain biodiesel, Pertamina juga mengembangkan bioetanol berbasis tebu untuk digunakan sebagai campuran bensin. Pemanfaatan tebu sebagai bahan baku energi memperluas pilihan sumber energi terbarukan sekaligus mendukung penggunaan komoditas domestik. Kehadiran biodiesel dan bioetanol dalam bauran bahan bakar menunjukkan upaya membangun sistem energi yang lebih beragam, dengan tetap memperhatikan kebutuhan pasokan dan proses pengurangan emisi.
Di sisi teknologi, Pertamina mengembangkan carbon capture and storage (CCS), atau penangkapan dan penyimpanan karbon. Pengembangan ini dilakukan melalui kerja sama dengan Jepang, Korea, serta negara-negara ASEAN lainnya. CCS ditempatkan sebagai bagian dari strategi dekarbonisasi karena berfokus pada pengurangan emisi karbon dari kegiatan energi dan industri. Kerja sama lintas negara tersebut juga mencerminkan pentingnya kolaborasi dalam membangun kapasitas dan solusi untuk mendukung transisi menuju sistem energi rendah karbon. Dengan menggabungkan bahan bakar nabati dan teknologi pengurangan emisi, Pertamina berupaya menyeimbangkan kebutuhan menjaga pasokan energi dengan tuntutan menekan emisi.
Pertamina menerjemahkan kebijakan pemerintah ke dalam agenda korporasi melalui strategi dual growth, yaitu pertumbuhan yang berjalan pada dua jalur secara bersamaan. Menurut VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, pendekatan ini diperlukan agar upaya menurunkan emisi tidak mengabaikan kebutuhan energi masyarakat maupun tuntutan ketahanan energi nasional. Dengan demikian, transformasi berlangsung secara bertahap, terukur, dan tetap mempertimbangkan kondisi pasokan serta keterjangkauan harga energi.
Arah pertama strategi tersebut adalah memperkuat bisnis minyak dan gas. Penguatan ini mencakup pemeliharaan kapasitas produksi, pengembangan infrastruktur, serta peningkatan keandalan rantai pasok. Minyak dan gas masih berperan penting dalam memenuhi kebutuhan energi dan mendukung aktivitas ekonomi, sehingga keberadaannya perlu dikelola secara efisien sembari menekan dampak lingkungan. Langkah ini menjadi fondasi untuk menjaga ketersediaan energi nasional selama proses transisi berlangsung.
Arah kedua adalah memperbesar bisnis rendah karbon dan energi terbarukan. Pertamina mendorong pengembangan energi surya, panas bumi, serta sumber energi bersih lainnya, sekaligus memperluas pemanfaatan bahan bakar nabati dan teknologi carbon capture and storage (CCS). Kedua jalur tersebut tidak ditempatkan sebagai pilihan yang saling meniadakan. Sebaliknya, bisnis konvensional menopang kebutuhan saat ini, sedangkan investasi rendah karbon membangun kapasitas energi masa depan menuju target net zero emission (NZE) 2060.
Dukungan kebijakan dan investasi pemerintah menjadi unsur penting dalam pelaksanaan strategi itu. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM RI Rosan Perkasa Roeslani menyampaikan bahwa pemerintah mendorong penanaman modal di sektor strategis, termasuk energi, melalui penyederhanaan perizinan dan berbagai fasilitas investasi. Ia juga menyoroti peluang proyek pengolahan sampah menjadi energi atau waste-to-energy di sejumlah wilayah. Selain membantu menangani persoalan sampah, proyek tersebut dapat menghasilkan energi dan membuka ruang investasi berkelanjutan. Menurut Baron, energi terbarukan, bahan bakar nabati, dan CCS merupakan bagian terpadu dari upaya membangun sistem energi rendah karbon sekaligus memenuhi kebutuhan energi nasional.

