KABUPATEN SERANG, BANTEN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 6 September 2026, Ratusan aktivis pro-Palestina menggelar aksi die-in di pusat Kota Seoul, Korea Selatan, pada Sabtu, 3 Oktober 2026. Aksi tersebut berlangsung di jalan sekitar Kedutaan Besar Israel dan menyoroti korban konflik di Gaza. Para peserta menyampaikan pesan solidaritas melalui bentuk protes yang menempatkan tubuh mereka sebagai gambaran penderitaan warga yang terdampak konflik.
Dalam aksi itu, para demonstran berbaring berjajar di jalan. Mereka mempertahankan posisi tersebut sebagai simbol untuk mengenang korban sekaligus menggambarkan banyaknya nyawa yang hilang dalam konflik Gaza. Barisan tubuh para aktivis menjadi pusat perhatian di kawasan sekitar kedutaan, dengan suasana aksi yang secara langsung mengarahkan perhatian publik kepada korban konflik.
Kehadiran ratusan peserta membuat aksi tersebut menjadi sorotan di pusat Seoul. Para aktivis berkumpul di sekitar Kedutaan Besar Israel dan menggunakan ruang jalan sebagai tempat untuk menyampaikan pesan pro-Palestina. Dengan berbaring secara serentak, mereka menampilkan gambaran visual mengenai korban konflik yang terbaring dan tidak berdaya.
Aksi die-in itu dilakukan pada Sabtu dan berpusat di kawasan kedutaan, salah satu titik utama dalam penyampaian pesan para demonstran. Jumlah peserta, lokasi, serta bentuk aksi tersebut menegaskan fokus kegiatan pada situasi kemanusiaan di Gaza. Para aktivis menjadikan aksi berbaring sebagai simbol penghormatan dan pengingat terhadap korban yang disebut terdampak konflik.
Di tengah kawasan pusat Seoul, barisan demonstran yang terbaring menyampaikan pesan secara simbolis tanpa mengubah inti tuntutan solidaritas mereka terhadap Palestina. Aksi tersebut memperlihatkan cara para aktivis menggunakan demonstrasi publik untuk mengangkat perhatian terhadap korban konflik Gaza. Dengan mengambil posisi di jalan sekitar Kedutaan Besar Israel, ratusan peserta menghadirkan gambaran langsung mengenai dampak konflik melalui aksi die-in.
Aksi aktivis pro-Palestina di Seoul tidak berhenti pada bentuk die-in, ketika peserta membaringkan diri sebagai simbol kepedulian terhadap para korban konflik Gaza. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari unjuk rasa yang juga diisi dengan long march. Perpindahan massa memperlihatkan bahwa pesan solidaritas disampaikan melalui rangkaian aksi di ruang-ruang publik, bukan hanya melalui satu adegan simbolis di satu lokasi.
Setelah berkumpul di titik aksi, rombongan bergerak bersama menuju kawasan lain di pusat kota Seoul. Barisan peserta membawa semangat protes yang sama sepanjang perpindahan tersebut. Die-in menjadi salah satu bentuk penyampaian pesan, sedangkan long march memperluas kehadiran aksi ke sejumlah area yang menjadi bagian penting dari lanskap ibu kota Korea Selatan.
Dalam perjalanan itu, massa melewati beberapa kawasan di pusat kota, termasuk Paviliun Lonceng Bosingak. Kehadiran rombongan di sekitar bangunan ikonik tersebut menempatkan isu konflik Gaza di tengah ruang kota yang dikenal luas oleh masyarakat Seoul. Pergerakan dari satu titik ke titik berikutnya juga memberikan gambaran mengenai kesinambungan aksi, dengan peserta tetap berada dalam satu rangkaian unjuk rasa.
Urutan perpindahan massa menjadi unsur penting dalam penyampaian pesan demonstrasi. Rombongan tidak sekadar hadir untuk memperagakan die-in, tetapi juga bergerak melewati kawasan-kawasan kota sebagai bagian dari ekspresi solidaritas kepada warga Palestina. Dengan demikian, aksi tersebut memadukan simbol keheningan dan kepedihan melalui tubuh yang terbaring dengan langkah kolektif dalam long march. Perpaduan itu menjadikan unjuk rasa lebih dari sekadar kegiatan di satu titik, karena pesan mengenai korban konflik Gaza dibawa bersama rombongan ketika mereka melintasi pusat kota Seoul.
Setelah aksi die-in di lokasi sebelumnya, para peserta bergerak dan berkumpul di sekitar Kedutaan Besar Amerika Serikat di Seoul. Perpindahan tersebut menandai tahap lanjutan dalam rangkaian demonstrasi, bukan berarti aksi rebah dilakukan di area yang sama. Di dekat kompleks kedutaan, massa menyampaikan sikap politik mereka melalui orasi, poster, dan seruan yang ditujukan kepada pemerintah Amerika Serikat.
Isu utama yang mereka soroti adalah dukungan militer Amerika Serikat kepada Israel dalam konflik Gaza. Para demonstran menolak bantuan, persenjataan, serta bentuk dukungan keamanan yang menurut mereka dapat memperpanjang kekerasan dan meningkatkan jumlah korban sipil. Mereka juga mempersoalkan dukungan diplomatik Washington terhadap Israel, termasuk posisi dan kebijakan yang dinilai belum cukup mendorong penghentian serangan serta perlindungan bagi warga Palestina.
Pesan tersebut disampaikan sebagai tuntutan dan sikap para peserta aksi, bukan sebagai pernyataan resmi pemerintah Amerika Serikat, pemerintah Israel, atau lembaga negara lainnya. Dengan berkumpul di dekat kedutaan, mereka berupaya mengarahkan perhatian publik pada tanggung jawab yang mereka kaitkan dengan kebijakan luar negeri Washington. Para peserta menyerukan penghentian dukungan terhadap operasi militer Israel, penghentian kekerasan di Gaza, dan langkah diplomatik yang lebih tegas untuk mendorong gencatan senjata serta bantuan kemanusiaan.
Lokasi berkumpul di sekitar Kedutaan Besar Amerika Serikat juga memiliki makna simbolis bagi demonstran karena menjadi ruang untuk menyampaikan kritik langsung terhadap negara yang mereka anggap berpengaruh dalam konflik tersebut. Namun, makna itu tetap merupakan penafsiran dan sikap yang disampaikan oleh massa aksi. Rangkaian kegiatan ini memperlihatkan perubahan bentuk protes, dari menampilkan gambaran korban melalui die-in menjadi penyampaian tuntutan politik secara terbuka di dekat kantor perwakilan diplomatik Amerika Serikat.
Para aktivis pro-Palestina menutup aksi dengan menyampaikan sejumlah tuntutan yang berkaitan langsung dengan situasi konflik di Gaza. Tuntutan tersebut disuarakan sebagai sikap peserta aksi terhadap kekerasan dan korban yang terus menjadi perhatian mereka. Mereka meminta adanya langkah segera untuk menghentikan kekerasan, sekaligus menyerukan agar pemerintah Korea Selatan meninjau kembali keterlibatan finansial dan militernya dalam isu yang berkaitan dengan Israel serta operasi Amerika Serikat di kawasan.
Tuntutan utama yang disampaikan adalah gencatan senjata segera di Gaza. Bagi para peserta aksi, penghentian pertempuran dipandang sebagai langkah yang harus segera dilakukan untuk menghentikan jatuhnya korban. Seruan itu menjadi bagian penting dari aksi, termasuk melalui pesan-pesan yang dibawa dalam kegiatan die-in. Dengan menyerukan gencatan senjata, aktivis menempatkan perlindungan warga sipil dan penghentian kekerasan sebagai prioritas utama.
Selain itu, para aktivis mendesak pemerintah Korea Selatan menghentikan investasi pada obligasi Israel. Desakan tersebut diarahkan pada hubungan finansial yang menurut mereka perlu dihentikan dalam konteks konflik Gaza. Mereka meminta agar pemerintah tidak menempatkan dana publik atau dukungan investasi pada instrumen yang mereka kaitkan dengan Israel. Tuntutan penghentian investasi itu disampaikan sebagai bentuk penolakan terhadap dukungan finansial yang dinilai berhubungan dengan pihak dalam konflik.
Peserta aksi juga meminta agar aset militer Korea Selatan tidak dikerahkan untuk membantu operasi Amerika Serikat di kawasan. Permintaan ini mencakup penolakan terhadap penggunaan atau pengerahan aset militer Korea Selatan dalam operasi tersebut. Dengan demikian, tuntutan para aktivis meliputi gencatan senjata segera, penghentian investasi pada obligasi Israel, serta tidak digunakannya aset militer Korea Selatan untuk membantu operasi Amerika Serikat di kawasan.

