Manado — Di tengah derasnya arus informasi digital yang serba cepat dan cenderung dangkal, kehadiran sosok seperti Alvines Brusly George Ratag menjadi semakin relevan. Ia bukan hanya penulis, melainkan penjaga memori kolektif—merekam perjalanan tokoh-tokoh daerah agar tidak hilang ditelan zaman.
Dalam perspektif opini publik, kiprah Alvines menunjukkan bahwa literasi tidak sekadar soal menulis, tetapi juga tentang merawat sejarah dan identitas lokal. Ketika banyak narasi nasional mendominasi ruang publik, upaya mengangkat tokoh-tokoh Sulawesi Utara melalui biografi menjadi langkah strategis dalam menjaga keseimbangan informasi.
Antara Jurnalisme, Kekuasaan, dan Narasi Sejarah
Perjalanan karier Alvines yang melintasi dunia jurnalistik, pemerintahan, hingga bisnis memberi warna tersendiri dalam setiap karyanya. Pengalamannya sebagai Staf Ketua DPRD Sulut di bawah kepemimpinan Andrei Angouw misalnya, memperkaya sudut pandangnya dalam membaca dinamika kekuasaan.
Hal ini penting. Sebab biografi bukan sekadar cerita hidup, tetapi juga interpretasi terhadap peran seseorang dalam struktur sosial dan politik. Dalam konteks ini, Alvines tidak hanya menulis—ia membingkai realitas.
Namun di sisi lain, publik juga perlu kritis. Kedekatan dengan tokoh atau lingkungan kekuasaan berpotensi mempengaruhi objektivitas narasi. Di sinilah tantangan terbesar seorang penulis biografi: menjaga keseimbangan antara kedekatan emosional dan integritas fakta.
Mengangkat Tokoh Daerah, Melawan Lupa
Karya-karya Alvines yang mengangkat figur seperti Sinyo Harry Sarundajang, Johny Lumintang, hingga Bernard Kent Sondakh menunjukkan satu benang merah: upaya mendokumentasikan tokoh daerah yang memiliki kontribusi besar namun kerap luput dari sorotan nasional.
Dalam opini publik, ini adalah langkah penting. Indonesia bukan hanya Jakarta, dan sejarah bangsa tidak hanya ditulis oleh tokoh pusat. Daerah memiliki pahlawannya sendiri—dan mereka layak dikenang.
Kehadiran karya seperti “Ir. NH. Eman dan Sepeda Ontel” menjadi contoh bagaimana kisah sederhana dapat diangkat menjadi simbol perjuangan dan nilai kehidupan.
Dimensi Emosional dalam Biografi
Penulisan biografi Vebri Jacob Paruntu yang bertepatan dengan wafatnya sang tokoh pada 21 April 2025 menghadirkan dimensi berbeda. Ini bukan sekadar proyek literasi, tetapi juga bentuk penghormatan terakhir.
Dalam sudut pandang publik, momen seperti ini memperlihatkan bahwa biografi bukan hanya produk intelektual, tetapi juga karya emosional. Penulis tidak hanya mencatat, tetapi juga merasakan.
Dari Penulis ke Pengusaha: Diversifikasi Peran
Langkah Alvines mendirikan CV Art Media Fine pada tahun 2020 menunjukkan adaptasi terhadap perubahan zaman. Di era digital, industri percetakan memang menghadapi tantangan, namun justru di situlah peluang bagi mereka yang mampu berinovasi.
Opini publik melihat ini sebagai bentuk kemandirian. Seorang penulis tidak hanya bergantung pada karya, tetapi juga membangun ekosistem pendukungnya sendiri.
Peran Sosial dan Akar Komunitas
Di luar dunia profesional, kiprah Alvines dalam komunitas keagamaan—sebagai Komandan Panji Yosua di GMIM—menunjukkan bahwa ia tetap berpijak pada nilai sosial. Keterlibatan ini memperkuat legitimasi moralnya di tengah masyarakat.
Lebih jauh, pembangunan “De Luna Villas” di kampung halamannya di Desa Senduk mencerminkan filosofi pulang—bahwa sejauh apa pun seseorang melangkah, akar tetap menjadi tempat kembali.
Catatan Kritis untuk Publik
Meski kiprah Alvines patut diapresiasi, opini publik juga perlu menempatkan karya biografi secara proporsional. Biografi bukanlah kebenaran absolut, melainkan interpretasi yang dipengaruhi sudut pandang penulis.
Karena itu, penting bagi pembaca untuk:
- Membandingkan dengan sumber lain
- Memahami konteks penulisan
- Tidak menelan narasi secara mentah
Dengan demikian, literasi publik tidak hanya tumbuh, tetapi juga matang.
Penutup: Menulis Sejarah, Membangun Masa Depan
Alvines Ratag adalah contoh nyata bahwa satu individu dapat berkontribusi besar dalam menjaga identitas daerah. Ia tidak hanya menulis tentang tokoh—ia membantu membangun ingatan kolektif masyarakat Sulawesi Utara.
Di tengah era disinformasi, sosok seperti ini menjadi penting. Karena pada akhirnya, bangsa yang besar bukan hanya yang menciptakan sejarah, tetapi juga yang mampu merawatnya.

