PALANGKA RAYA, KALIMANTAN TENGAH — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 October 2026, Asap kebakaran hutan dan lahan semakin pekat menyelimuti wilayah Palangka Raya, Kalimantan Tengah, hingga Jumat, 9 Oktober. Kondisi ini membuat jarak pandang menurun dan mengganggu aktivitas warga, terutama pada pagi hingga siang hari. Masyarakat mulai membatasi kegiatan di luar rumah karena khawatir kualitas udara yang buruk dapat memicu gangguan pernapasan.
Suteja, warga Kelurahan Sei Gohong, Kecamatan Bukit Batu, mengatakan udara di sekitar tempat tinggalnya terasa sangat kotor. Menurut dia, pemandangan yang biasanya terlihat jelas kini berubah menguning akibat lapisan asap yang menggantung di udara. Kondisi tersebut semakin terasa ketika warga harus bepergian atau melakukan pekerjaan di luar ruangan.
Suteja juga mengambil foto kondisi jalan di Jalan Tjilik Riwut pada pukul 09.55 WITA. Dalam foto tersebut, asap tampak hampir menutupi masjid dan pepohonan yang berada di seberang jalan. Bangunan serta vegetasi di sekitar ruas jalan terlihat samar, seolah tertutup selimut putih kekuningan.
Langit menguning, menurut Suteja, telah terlihat sekitar tujuh hari terakhir. Sementara itu, kabut asap pekat di Palangka Raya disebut sudah memasuki bulan ketiga. Lamanya kondisi tersebut membuat warga semakin berharap hujan segera turun untuk membantu membersihkan udara dan meredakan dampak kebakaran hutan serta lahan. Sebagian warga memilih mengenakan masker, mengurangi perjalanan, dan menunda aktivitas luar ruangan sampai keadaan membaik.
Buruknya kualitas udara mulai mengubah rutinitas warga Palangka Raya. Suteja mengatakan, aktivitas yang biasanya dilakukan di luar rumah kini harus dibatasi karena kabut asap membuat jarak pandang berkurang dan udara terasa tidak nyaman untuk dihirup. Warga memilih menunda keperluan di luar, menutup pintu serta jendela, dan mengurangi waktu berkendara apabila tidak benar-benar diperlukan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak hanya dirasakan melalui gangguan pernapasan, tetapi juga memengaruhi cara masyarakat mengatur kegiatan sehari-hari.
Hujan sempat turun di sejumlah wilayah kota. Warga menduga turunnya hujan berkaitan dengan operasi modifikasi cuaca yang dilakukan untuk membantu mengatasi kabut asap. Namun, hujan itu berlangsung singkat, sekitar 30 menit atau kurang dari satu jam. Suteja menyebut hujan yang diharapkan dapat membersihkan udara belum memberikan perubahan berarti. Setelah hujan berhenti, asap justru disebut semakin tebal sehingga kondisi lingkungan kembali memburuk. Harapan warga agar hujan turun lebih lama pun belum sepenuhnya terwujud.
Gangguan juga dirasakan dalam kegiatan pendidikan dan pekerjaan. Anak-anak sekolah harus mengikuti pembelajaran jarak jauh karena kondisi udara dinilai tidak mendukung kegiatan belajar di luar rumah. Orang tua pun perlu menyesuaikan jadwal, mendampingi anak, serta memastikan perangkat dan jaringan internet dapat digunakan. Di sisi lain, pekerjaan warga ikut terganggu, terutama bagi mereka yang mengandalkan aktivitas lapangan, perdagangan, transportasi, atau pekerjaan harian di ruang terbuka.
Suteja mengeluhkan bahwa terlalu lama berada di luar ruangan ketika udara tampak menguning dapat menyebabkan sakit kepala. Keluhan tersebut membuat warga semakin berhati-hati saat harus beraktivitas. Masker, pembatasan mobilitas, dan pilihan untuk tetap berada di dalam rumah menjadi bagian dari kebiasaan baru selama kabut asap belum mereda. Bagi masyarakat, hujan singkat belum cukup untuk mengembalikan kegiatan ke kondisi normal.
Kabut asap yang memburuk mulai menekan berbagai kegiatan ekonomi di Palangka Raya, termasuk pekerjaan Suteja sebagai tenaga pemasaran di sebuah resort setempat. Aktivitas yang sebelumnya dapat dilakukan dengan leluasa kini harus menyesuaikan jarak pandang dan kualitas udara. Promosi, kunjungan calon pelanggan, serta kegiatan di area terbuka menjadi lebih terbatas karena kondisi lingkungan tidak lagi mendukung. Asap juga membuat suasana kerja terasa lebih berat, terutama ketika pekerja perlu berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain atau berinteraksi dengan tamu di luar ruangan.
Perubahan kondisi resort terlihat jelas melalui foto yang dibagikan Suteja. Sebelum terdampak asap, lokasi tersebut tampak asri, terang, dan memiliki latar langit biru yang memperkuat kesan nyaman bagi pengunjung. Setelah kabut asap menyelimuti kawasan, pemandangan berubah menjadi gersang dan gelap. Warna lingkungan tampak kusam, sementara jarak pandang berkurang. Perbandingan itu menggambarkan bagaimana kebakaran hutan dan lahan tidak hanya mengganggu kesehatan, tetapi juga mengubah wajah tempat usaha serta berpotensi mengurangi minat masyarakat untuk beraktivitas di luar rumah.
Warga kini melakukan penyesuaian di rumah maupun saat harus bepergian. Sebagian menyediakan ruangan khusus yang ditutup rapat menggunakan plastik untuk mengurangi masuknya asap. Ketika perlu keluar, mereka memakai masker sebagai perlindungan tambahan dan berusaha membatasi durasi aktivitas luar ruang. Langkah tersebut dilakukan bersamaan dengan upaya menjaga kondisi rumah tetap tertutup, terutama ketika kabut asap semakin pekat.
Di sisi lain, bantuan logistik untuk masyarakat dan relawan mengalami keterlambatan. Bandara Tjilik Riwut disebut telah ditutup sekitar dua minggu, sehingga pengiriman harus dialihkan melalui jalur laut dan darat. Kebutuhan yang dinilai penting meliputi masker N95 atau KN95, vitamin C, obat-obatan, serta kacamata bagi tim pemadam kebakaran. Perlengkapan itu diperlukan untuk membantu warga bernapas lebih aman, menjaga daya tahan tubuh, menangani keluhan kesehatan, dan melindungi mata relawan selama bertugas memadamkan api.
Kekhawatiran terhadap memburuknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Palangka Raya kembali menguat. Suteja menilai kondisi pada 2026 berpotensi menjadi separah 2015, ketika wilayah tersebut pernah menghadapi karhutla dengan tingkat keparahan yang sangat tinggi. Palangka Raya juga terdampak kejadian serupa pada 2019, sehingga perubahan kondisi udara saat ini segera mengingatkan warga pada pengalaman sebelumnya. Langit yang tampak menguning memperkuat kekhawatiran bahwa situasi dapat berkembang seperti pada tahun-tahun tersebut.
Menurut Suteja, upaya menangani karhutla tidak mudah, terutama ketika informasi mengenai kebakaran lahan di sekitar wilayah tempat tinggalnya masih terus muncul. Asap yang semakin pekat mendorong warga membatasi aktivitas di luar rumah dan menunggu perubahan cuaca. Meski demikian, ia mengakui bahwa pemerintah telah bekerja keras dalam menangani kebakaran serta mengurangi dampaknya bagi masyarakat. Harapan terbesar saat ini tertuju pada hujan lebat yang turun semalaman. Curah hujan yang cukup lama diharapkan dapat membasahi lahan, membantu memadamkan titik api, dan memperbaiki kualitas udara. Namun, hujan juga menjadi faktor yang berada di luar kendali langsung warga maupun petugas, sehingga kewaspadaan tetap diperlukan selama kondisi kering dan kemunculan titik panas masih berlangsung.
Pemantauan hingga Kamis, 8 Oktober pukul 21.10 WIB mencatat 86 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di Kalimantan Tengah. Angka tersebut menjadikan provinsi ini sebagai salah satu wilayah yang mendapat perhatian dalam pemantauan karhutla. Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan masih termasuk provinsi dengan jumlah titik panas tertinggi di enam provinsi prioritas. Data itu menunjukkan bahwa risiko kebakaran belum mereda dan membutuhkan pemantauan berkelanjutan, koordinasi penanganan, serta kewaspadaan masyarakat, khususnya di daerah yang mulai terdampak asap. Bagi warga Palangka Raya, munculnya kembali tanda-tanda tersebut menambah kecemasan, sekaligus memperkuat harapan agar hujan segera turun dan mencegah kondisi berkembang menjadi krisis yang lebih luas.

