Ia menangis saat menceritakan kondisi peternak yang disebutnya terus mengalami kerugian

Ia menangis saat menceritakan kondisi peternak yang disebutnya terus mengalami kerugian

KABUPATEN BLITAR, JAWA TIMUR — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 7 October 2026, Keluhan itu juga disampaikan seorang peternak perempuan dari Kabupaten Blitar yang hadir dalam pertemuan tersebut. Ia menangis saat menceritakan kondisi peternak yang disebutnya terus mengalami kerugian. Karena beliau ingin swasembada telur, swasembada segala macam, swasembada telur, daging, jagung dan sebagainya," ujar Titiek dalam Rapat Dengar Pendapat Umum dengan Pinsar Petelur Nasional (PPN), Rabu (7/10).

Keterangan yang tercatat menyebut Titiek mengatakan keluhan peternak akan disampaikan kepada kementerian terkait dan Sang Kepala Negara. Ia mengatakan pemerintah perlu memastikan produksi telur dapat terserap sehingga tidak terbuang ketika harga di tingkat peternak jatuh. Terutama untuk para peternak-peternak ini," kata Titiek. Ia juga mengatakan akan membawa persoalan tersebut ke tingkat pemerintah pusat. Titiek mengatakan langkah tersebut diperlukan agar peternak tidak terus mengalami kerugian di tengah upaya pemerintah mencapai swasembada telur, daging, dan jagung.

Data lain dalam laporan menunjukkan Ia mengatakan harga telur di tingkat peternak sejak April hingga saat ini berada jauh di bawah harga acuan pembelian (HAP) sebagaimana Peraturan Badan Pangan Nasional (Bapanas) Nomor 6 Tahun 2024, yakni Rp26.500 per kilogram (kg). Menurut Suwardi, harga telur rata-rata hanya berada di kisaran Rp19 ribu-Rp20 ribu per kg. Bahkan pada Juni lalu, harga telur di tingkat peternak sempat menyentuh titik terendah Rp17.100 per kg. Dalam enam bulan terakhir, kata dia, harga telur rata-rata hanya sekitar Rp20 ribu-Rp21 ribu per kg, sementara biaya produksi, terutama pakan, meningkat. Kondisi tersebut membuat peternak diperkirakan mengalami kerugian Rp5.000-Rp7.000 per kg setiap hari berdasarkan perhitungan produksi.

Informasi lain yang berkaitan dengan peristiwa tersebut mencakup Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto berjanji membawa keluhan peternak ayam petelur terkait harga telur yang anjlok kepada Presiden Prabowo Subianto. Ia juga akan meminta pemerintah mengupayakan penyerapan telur melalui program pemerintah serta menstabilkan harga jagung yang menjadi pakan utama peternak. Menurutnya, swasembada telur tak hanya diukur dari kemampuan memenuhi kebutuhan konsumsi, tetapi juga dari kondisi harga yang memungkinkan peternak tetap menjalankan usahanya. Ini sudah kami tampung, nanti kami akan perjuangkan di kementerian, dan insya Allah sampaikan ke Pak Presiden (Prabowo) ini. Titiek menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena keberhasilan swasembada tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan pangan, tetapi juga keberlangsungan usaha peternak.

Kita harus buat peternaknya juga sejahtera. Ini akan kami sampaikan terutama harganya yang anjlok ini supaya bisa diserap oleh program-program pemerintah, ya. Jadi tidak terus mubazir," ujarnya. Selain itu, Titiek juga akan berkoordinasi dengan pemerintah, termasuk meminta Bulog ikut menangani persoalan harga jagung untuk peternak. Kami akan berusaha sekeras mungkin. Nanti habis ini saya telepon Pak Menteri (Pertanian Andi Amran Sulaiman) dan minta juga dikoordinasikan Bulog supaya harga jagungnya ini bisa distabilkan. Menurutnya, apabila masalah itu disampaikan kepada Presiden, pembahasan dapat dilanjutkan melalui rapat terbatas (ratas) dengan kementerian dan lembaga terkait agar persoalan harga telur dan pakan dapat dikoordinasikan. Keluhan itu disampaikan Pengurus PPN Suwardi dalam rapat dengan Komisi IV DPR. Suwardi mengatakan kondisi peternak semakin berat karena harga jagung sebagai bahan pakan juga meningkat ketika pasokannya berkurang. Ia menyebut harga jagung di Lampung telah mencapai Rp8.400 per kg dan di Nusa Tenggara Barat (NTB) sekitar Rp7.700 per kg. Ayam kami sudah tidak bisa makan, karena ketersediaan berkurang, harganya terus melambung. Sudah sampai ada di Lampung, salah satu sektor sentra jagung, Rp8.400 di Lampung. Di NTB, ini teman NTB juga hadir, sentra jagung di sana sudah Rp7.700," ujar Suwardi. Ia meminta pemerintah membantu menyediakan jagung dengan harga yang lebih terjangkau. Peternak, kata dia, tidak meminta jagung secara gratis, melainkan ingin dapat membelinya dengan harga yang seimbang dengan kemampuan usaha mereka. Di tengah kondisi tersebut, sejumlah peternak bahkan mengaku tidak lagi mampu mempertahankan usahanya. Suwardi mengatakan sebagian kandang peternak sudah kosong karena mereka tidak sanggup membeli pakan untuk mempertahankan ayam. Ia mengatakan para peternak sebelumnya telah menyampaikan persoalan tersebut kepada Kementerian Pertanian (Kementan) dan Bapanas. Menurutnya, pertemuan dengan Komisi IV menjadi salah satu upaya terakhir untuk meminta bantuan karena pasokan jagung dari Perum Bulog juga disebut masih tersendat. Kami memang berterima kasih, Bu (Titiek), sudah dapat jagung. Itu sangat membantu kami menahan kematian kami. Artinya kami seharusnya mati kemarin masih hidup saat ini. Tapi enggak tahu sampai kapan kami akan hidup, dikarenakan juga jagung dari Bulog juga tersendat," ujarnya sambil menangis. Suwardi kemudian menyampaikan kebutuhan jagung peternak hingga beberapa bulan ke depan. Ia memperkirakan peternak ayam petelur membutuhkan sekitar 223 ribu ton jagung selama lima bulan ke depan, atau hingga Februari, terutama dengan adanya kemarau panjang dan fenomena El Nino. Dalam lima bulan ke depan dengan adanya kemarau yang panjang, adanya El Nino, kami estimasi butuh jagung 223 ribu ton, estimasi akan digunakan sampai dengan bulan Februari. Kalau ini tidak ada jagung, kami harus bagaimana? Sudah rugi usaha, sudah berdosa kalau ayam tidak bisa kasih makan," ujar Suwardi. Adapun kebutuhan jagung peternak ayam petelur hingga Februari mencapai sekitar 250 ribu ton, lebih tinggi dibandingkan pasokan yang tersedia. Pemerintah sebelumnya disebut telah menggelar rapat koordinasi terbatas (rakortas) dan menyetujui alokasi 150 ribu ton hingga Desember untuk 7.612 peternak. Namun, Suwardi kemudian memberikan klarifikasi mengenai kondisi stok jagung di Bulog. Menurut dia, dari penugasan awal 500 ribu ton untuk Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), izin yang diberikan hanya 250 ribu ton. Dari jumlah tersebut, persetujuan impor dari Kementerian Perdagangan (Kemendag) kembali ditetapkan sebesar 241 ribu ton. Sebanyak 213 ribu ton kemudian digunakan untuk SPHP tahap I dan II. Dengan demikian, Suwardi memperkirakan sisa jagung di Bulog setelah program tersebut selesai hanya sekitar 30 ribu ton. Rakortas memutuskan 150 ribu ton, belum ada jagungnya. Dan kami SK 1 maupun 2, Bu, dari target peternak mikro tiga bulan, peternak kecil dua bulan, peternak menengah satu bulan, peternak yang besar tidak dapat, sudah enam bulan hanya untuk kebutuhan itu saja belum cukup," ujar Suwardi. Ia mengatakan masih terdapat jagung yang berada di luar pulau, tetapi berdasarkan catatan yang mereka terima, stok sisa SPHP tahap I dan II di Bulog hanya sekitar 30 ribu ton.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *