JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 6 October 2026, Jasa joki baca buku mulai muncul sebagai bentuk layanan baru yang ditawarkan melalui media sosial. Salah satu penawaran tersebut terlihat dari akun Threads @inilin***, yang membuka jasa untuk membaca buku atas nama pengguna. Praktik ini memperluas pemahaman mengenai istilah joki, yang selama ini lebih sering dikenal sebagai layanan untuk mengerjakan tugas atau kewajiban tertentu. Kini, aktivitas membaca buku juga ditawarkan sebagai pekerjaan yang dapat dialihkan kepada penyedia jasa.
Penawaran itu mencakup buku berbahasa Indonesia maupun Inggris. Jenis buku yang dapat dibaca juga tidak dibatasi pada kategori tertentu, melainkan meliputi karya fiksi dan nonfiksi dari berbagai genre. Dalam unggahannya, akun tersebut menuliskan, “Open jasa joki baca buku. English, Indonesia. Fiksi, non fiksi, siap semua genre.” Kutipan tersebut menunjukkan bahwa layanan itu dipasarkan untuk menjangkau pengguna dengan kebutuhan bacaan yang beragam, termasuk mereka yang memiliki buku untuk dibaca tetapi tidak ingin atau tidak sempat melakukannya sendiri.
Munculnya layanan semacam ini dapat ditempatkan dalam konteks adanya permintaan terhadap jalan pintas. Sebagian pengguna mungkin mencari bantuan untuk menyelesaikan aktivitas membaca, sementara penyedia jasa melihatnya sebagai peluang ekonomi tertentu. Dengan demikian, praktik joki tidak hanya berkaitan dengan pengerjaan tugas, tetapi dapat berkembang mengikuti jenis kebutuhan yang muncul di tengah pengguna. Penawaran jasa joki baca buku dari akun tersebut dikutip di Jakarta pada Selasa (6/10/2026), ketika layanan membaca buku dalam bahasa Indonesia dan Inggris itu ditawarkan untuk berbagai genre, baik fiksi maupun nonfiksi.
Layanan ghost reader yang ditawarkan akun tersebut memiliki tarif berdasarkan ketebalan buku. Untuk buku dengan jumlah halaman sekitar 100 hingga 800 halaman, biaya yang dicantumkan berada pada kisaran Rp700 ribu sampai Rp1,6 juta. Perbedaan harga tersebut menunjukkan bahwa beban pekerjaan disesuaikan dengan panjang bacaan yang harus diselesaikan. Dengan demikian, klien dapat memilih layanan berdasarkan jumlah halaman buku yang ingin diproses, bukan sekadar jenis atau harga buku.
Dalam paketnya, penyedia jasa menyertakan beberapa fasilitas pendukung. Klien memperoleh crochet bookmark atau pembatas buku rajut, satu set sticky note transparan, serta page marker untuk menandai halaman-halaman tertentu. Perlengkapan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap, tetapi juga memperkuat tampilan buku yang telah diberi berbagai penanda. Apabila klien membutuhkan materi untuk diunggah ke media sosial, penyedia jasa juga menawarkan pemotretan buku. Fasilitas ini memungkinkan buku ditampilkan dalam bentuk konten visual tanpa klien harus membaca atau menyiapkannya sendiri.
Cara kerja layanan tersebut kemudian dijelaskan kepada warganet dengan cukup sederhana. Klien mengirimkan buku yang tidak ingin dibaca sendiri kepada penyedia jasa. Setelah buku diterima, penyedia jasa membacanya, memberikan highlight dan penanda pada sejumlah halaman, kemudian mengirimkan buku itu kembali kepada klien. Pemilik akun menyebut layanan ini sebagai “ghost reader”, yakni jasa membaca buku untuk orang lain, lalu membuat buku tersebut tampak telah dibaca berkali-kali. Kesan itu dibangun melalui highlight, sticky note, page marker, dan posisi pembatas buku yang menunjukkan adanya aktivitas membaca. Setelah dikembalikan, buku dapat langsung digunakan sebagai properti foto, koleksi pribadi, atau materi unggahan media sosial. Model layanan ini pada dasarnya menjual pengalaman visual dan hasil penandaan buku, bukan hanya waktu untuk menyelesaikan bacaan.
Setelah unggahannya ramai diperbincangkan di Threads, pemilik akun tersebut memberikan tanggapan mengenai tawaran jasa ghost reader yang ia bagikan. Ia mengaku tidak menyangka unggahan itu mendapat perhatian besar dari pengguna media sosial. Dalam responsnya, ia juga meminta agar dirinya tidak dihujat karena menawarkan layanan tersebut. Ia mempersilakan calon pengguna yang tertarik untuk menghubunginya melalui pesan langsung.
Berdasarkan pengakuannya, layanan ini ditujukan kepada orang-orang yang ingin terlihat sebagai pencinta buku di media sosial. Sasaran tersebut mencakup pengguna yang ingin membangun citra sebagai bookworm atau bookstagram, meskipun buku yang ditampilkan belum tentu telah mereka baca. Dengan bantuan penyedia jasa, tampilan akun dapat dibuat seolah-olah pemiliknya memiliki kebiasaan membaca dan ketertarikan besar terhadap buku.
Pengalaman menawarkan jasa serupa juga bukan hal yang sepenuhnya baru bagi pemilik akun tersebut. Ia menyebut pernah menjalankan layanan itu ketika masih duduk di bangku SMA. Pada masa tersebut, jasa yang ditawarkan berkaitan dengan novel bergenre teenlit dan chicklit. Pengakuan ini menunjukkan bahwa layanan ghost reader yang kembali dibicarakan di Threads memiliki kaitan dengan pengalaman yang pernah ia jalankan sebelumnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa dirinya baru memulai kembali jasa tersebut. Ia juga meluruskan anggapan mengenai nominal yang tercantum dalam unggahan viral. Menurut pengakuannya, tarif hingga Rp1,6 juta yang disebutkan bukanlah daftar harga resmi atau rate card yang sebenarnya. “Aku baru mulai lagi jasa ini,” ujarnya, seraya menjelaskan bahwa unggahan tersebut dibuat untuk menarik klien. Ia juga menegaskan, “Itu bukan rate card sebenarnya, melainkan unggahan untuk menarik klien.”
Dengan demikian, perhatian terhadap tawaran tersebut tidak hanya berkaitan dengan nominal tarif, tetapi juga dengan sasaran pengguna dan pengalaman penyedianya. Klarifikasi melalui Threads menjadi penjelasan bahwa layanan itu ditujukan bagi mereka yang ingin menampilkan identitas sebagai pencinta buku di media sosial, sementara harga yang beredar belum dapat dianggap sebagai tarif resmi.
Kemunculan jasa ghost reader tersebut memicu beragam reaksi di Threads. Sebagian pengguna melihatnya sebagai peluang bisnis yang unik, terutama karena penyedia layanan dapat memperoleh keuntungan ganda. Mereka menerima bayaran dari klien, sekaligus memiliki kesempatan membaca buku dan menambah pengetahuan dari isi yang dipelajari. Dari sudut pandang ini, pekerjaan tersebut dianggap tidak berbeda jauh dari layanan membaca, merangkum, atau memberikan catatan atas suatu bacaan.
Namun, sejumlah warganet mempertanyakan tujuan utama layanan itu. Buku yang telah diberi highlight, catatan, atau penanda halaman dapat menciptakan kesan bahwa pemiliknya telah membaca sendiri. Persoalan etika muncul ketika hasil pekerjaan tersebut hanya digunakan untuk membangun citra, sementara pemilik buku tidak benar-benar memahami isinya. Ada pula komentar yang mempertanyakan apakah penyedia jasa memedulikan kenyataan bahwa kliennya berpura-pura telah membaca buku tersebut di hadapan orang lain.
Sebagian pengguna masih dapat memahami layanan itu apabila tujuannya membantu seseorang memahami buku, memperoleh ringkasan, atau menentukan bagian penting yang perlu dipelajari. Layanan semacam itu dinilai memiliki manfaat praktis, khususnya bagi orang yang memiliki keterbatasan waktu atau membutuhkan pendampingan untuk memahami bacaan yang kompleks. Akan tetapi, penilaian berubah apabila jasa tersebut semata-mata dipakai agar buku tampak sudah dibaca dan kemudian dipamerkan di media sosial.
Diskusi itu akhirnya kembali pada manfaat membaca secara langsung. Membaca sendiri memungkinkan seseorang memperoleh informasi, wawasan, dan pemahaman yang lebih personal, bukan sekadar memiliki tampilan buku yang penuh penanda. Fenomena ini juga memperlihatkan hubungan budaya membaca dan kebutuhan membangun citra di media sosial. Ketika penampilan pengetahuan dianggap penting, kebiasaan pengguna internet dapat melahirkan layanan baru yang mengubah aktivitas membaca menjadi peluang bisnis. Perdebatan tersebut menunjukkan bahwa nilai sebuah buku tidak hanya terletak pada tampilannya, tetapi juga pada proses memahami dan menerapkan gagasan di dalamnya.

