JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 5 October 2026, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meyakini Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih memiliki peluang untuk pulih setelah mengalami tekanan selama tiga kuartal 2026. Keyakinan tersebut disampaikan dengan mempertimbangkan dinamika pasar modal yang dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global dan domestik. Tekanan dari kedua sumber tersebut membuat pergerakan indeks berada dalam tren melemah hingga memasuki awal Oktober.
Berdasarkan data hingga 5 Oktober 2026, IHSG tercatat berada di level 6.118,86. Posisi itu menunjukkan penurunan sebesar 2.528,08 poin atau 29,24 persen secara year to date. Sebagai pembanding, pada 30 Desember 2025, IHSG masih berada di level 8.646,94. Dengan demikian, indeks telah kehilangan hampir sepertiga nilainya sejak akhir tahun sebelumnya.
Pergerakan tersebut mencerminkan besarnya tekanan yang dihadapi pasar saham sepanjang tahun berjalan. Sentimen global turut memengaruhi arah investasi dan meningkatkan kehati-hatian pelaku pasar, sementara faktor domestik menambah tekanan terhadap kinerja indeks. Kombinasi kedua faktor itu menjadi latar belakang pelemahan IHSG dalam tiga kuartal pertama 2026.
Meski mencatat penurunan yang signifikan, OJK melihat masih terdapat ruang bagi IHSG untuk berbalik arah. Pandangan tersebut menempatkan prospek pemulihan pasar sebagai perhatian penting di tengah kondisi indeks yang belum sepenuhnya stabil. Perkembangan sentimen global dan domestik akan menjadi bagian dari dinamika yang memengaruhi pergerakan IHSG berikutnya.
Dengan level 6.118,86 pada 5 Oktober 2026, IHSG memasuki kuartal terakhir tahun ini setelah melewati periode tekanan yang panjang. OJK tetap menilai indeks berpeluang mengalami pemulihan, meskipun secara year to date kinerjanya masih jauh lebih rendah dibandingkan posisi penutupan pada akhir 2025. Pernyataan itu menjadi dasar untuk melihat arah pasar saham selanjutnya secara lebih cermat.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi menyampaikan pandangan mengenai peluang pemulihan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK September 2026 di Jakarta, Senin. Menurutnya, perkembangan indeks menunjukkan tanda-tanda yang lebih konstruktif setelah pasar sebelumnya menghadapi tekanan dari sentimen global maupun domestik.
Optimisme OJK tersebut tercermin dari pergerakan IHSG yang mulai berbalik arah setelah menyentuh titik terendah tahun ini, yaitu 5.342,14 pada 8 Juni 2026. Level tersebut menjadi gambaran kuatnya tekanan yang sempat membebani pasar saham Indonesia. Namun, indeks yang kemudian bergerak naik menunjukkan bahwa pelaku pasar mulai merespons sejumlah perkembangan dengan lebih positif.
Hasan memaknai pembalikan IHSG dari titik terendah itu sebagai indikasi bahwa masih terdapat ruang bagi pemulihan pasar ke depan. Pergerakan tersebut belum berarti seluruh risiko telah berakhir, tetapi memberikan sinyal bahwa pasar memiliki kemampuan untuk kembali menguat apabila didukung kondisi yang lebih stabil. Perbaikan sentimen dan meningkatnya keyakinan investor dapat menjadi faktor penting dalam menjaga momentum tersebut.
Meski demikian, OJK menilai proses pemulihan tetap akan sangat dipengaruhi dinamika kondisi global. Perubahan arah kebijakan moneter negara maju, perkembangan geopolitik, pergerakan pasar keuangan internasional, serta kondisi ekonomi dunia dapat kembali memengaruhi arus modal dan persepsi risiko investor terhadap aset domestik.
Selain faktor eksternal, kinerja fundamental emiten di Bursa Efek Indonesia juga akan menentukan keberlanjutan penguatan IHSG. Kemampuan perusahaan mencatatkan pertumbuhan pendapatan, menjaga profitabilitas, dan menghadapi tekanan biaya menjadi dasar bagi investor dalam menilai prospek saham. Karena itu, peluang pemulihan perlu dipandang secara bertahap, dengan tetap memperhatikan kualitas fundamental serta perubahan risiko yang berkembang di pasar.
Menurut Hasan, tekanan terhadap IHSG tidak terlepas dari perkembangan ekonomi dan geopolitik global. Ketidakpastian geopolitik yang meningkat dapat memengaruhi kepercayaan pelaku pasar, sekaligus mengganggu jalur perdagangan dan distribusi komoditas. Gangguan tersebut berpotensi membatasi pasokan di sejumlah negara, sehingga mendorong kenaikan harga komoditas. Perubahan harga energi, pangan, dan bahan baku kemudian dapat meningkatkan biaya produksi serta memperbesar tekanan inflasi di berbagai perekonomian.
Peningkatan inflasi membuat bank sentral utama cenderung mempertahankan suku bunga acuan pada level tinggi dalam waktu lebih lama. Ekspektasi tersebut dikenal sebagai higher for longer dan menjadi salah satu faktor yang membatasi aliran dana ke aset berisiko, termasuk saham di negara berkembang. Pada saat yang sama, perlambatan pertumbuhan ekonomi global memperkuat sikap hati-hati investor karena prospek pendapatan perusahaan dan permintaan komoditas menjadi lebih terbatas. Kombinasi tekanan inflasi, suku bunga tinggi, dan pertumbuhan yang melambat turut menekan nilai tukar rupiah. Kondisi ini mendorong investor, terutama investor asing, untuk menyesuaikan strategi, mengelola risiko valuta, serta meninjau kembali komposisi portofolio mereka di pasar modal Indonesia.
Dari sisi domestik, investor global juga mencermati arah reformasi kebijakan pasar modal Indonesia dan pelaksanaannya sepanjang 2026. Konsistensi penerapan kebijakan, penguatan tata kelola, peningkatan transparansi, serta perlindungan investor menjadi aspek penting dalam menilai daya tarik pasar. Selain itu, keputusan penyedia indeks global dapat memengaruhi alokasi dana institusional, khususnya dana yang mengikuti acuan indeks tertentu. Perubahan penilaian terhadap aksesibilitas pasar, likuiditas, keterwakilan emiten, atau kualitas regulasi dapat mendorong penyesuaian bobot Indonesia dalam indeks. Karena itu, kebijakan domestik dan persepsi lembaga global berjalan beriringan dalam memengaruhi keputusan investasi serta pergerakan IHSG.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memperkuat pengawasan pasar modal melalui koordinasi dengan self-regulatory organization (SRO), pelaku industri, emiten, perusahaan efek, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya. Langkah ini diarahkan untuk memastikan tersedianya informasi yang transparan, akurat, dan tepat waktu bagi seluruh investor. Kualitas keterbukaan informasi menjadi landasan penting agar keputusan investasi dapat dilakukan secara rasional, terutama ketika pasar menghadapi tekanan dari sentimen global maupun domestik.
Selain transparansi, OJK mendorong peningkatan tata kelola perusahaan dan penerapan manajemen risiko yang lebih konsisten. Pengawasan terhadap perilaku pelaku pasar juga diperkuat untuk mencegah praktik yang berpotensi merugikan investor, termasuk manipulasi transaksi dan penyalahgunaan informasi. Upaya perlindungan investor mencakup penguatan edukasi, peningkatan mekanisme pengaduan, serta penyempurnaan sistem pengawasan berbasis teknologi. Dengan demikian, investor lokal, asing, ritel, dan institusi dapat memperoleh rasa aman serta kepastian yang lebih baik dalam beraktivitas di pasar modal.
OJK bersama SRO juga terus mendorong pendalaman pasar melalui pengembangan produk, perluasan basis investor, peningkatan likuiditas, dan penguatan infrastruktur perdagangan. Pasar yang semakin dalam dan beragam diharapkan mampu menyerap lebih banyak dana jangka panjang sekaligus mengurangi ketergantungan pada sentimen jangka pendek. Konsistensi pengawasan, tata kelola, dan perlindungan investor menjadi faktor utama untuk menjaga integritas serta meningkatkan investabilitas pasar modal. Fondasi tersebut diperlukan agar pertumbuhan pasar berlangsung berkelanjutan dan kepercayaan investor tetap terpelihara.
Perkembangan perdagangan pada Senin sore menunjukkan respons positif. IHSG naik 81,97 poin atau 1,36 persen ke level 6.118,86, sedangkan indeks LQ45 menguat 7,77 poin atau 1,30 persen menjadi 603,23. Frekuensi transaksi tercatat 1,64 juta kali, dengan volume perdagangan 40,24 miliar saham dan nilai transaksi mencapai Rp9,96 triliun. Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 547 saham naik, 164 saham turun, dan 252 saham tidak berubah.

