KABUPATEN MALANG, JAWA TIMUR — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 4 October 2026, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) VI 2026 memperoleh pengalaman belajar yang melampaui kegiatan perkemahan dan pelatihan kepramukaan. Di sela rangkaian agenda tersebut, para santri mengikuti kunjungan edukatif ke Ekowisata Boon Pring, Turen, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Kunjungan ini menjadi bagian penting dari proses pembelajaran yang memperkenalkan lingkungan hidup, energi terbarukan, serta pengelolaan sumber daya alam secara langsung.
Ekowisata Boon Pring dipilih sebagai ruang belajar karena kawasan tersebut memperlihatkan hubungan erat potensi alam, pemanfaatan sumber daya, dan upaya pelestarian lingkungan. Para peserta tidak hanya menerima penjelasan secara teori, tetapi juga mengamati kondisi kawasan, mengenali fungsi bambu bagi ekosistem, serta memahami bagaimana sumber daya lokal dapat dikelola untuk mendukung kehidupan masyarakat. Pendekatan ini membuat materi kepramukaan terasa lebih dekat dengan persoalan lingkungan yang dihadapi sehari-hari.
Melalui kegiatan tersebut, santri diajak melihat bahwa energi terbarukan dan keberlanjutan bukan sekadar konsep dalam pembelajaran, melainkan bagian dari praktik pengelolaan alam. Mereka memperoleh gambaran mengenai pentingnya menggunakan sumber daya secara bijak, menjaga keseimbangan ekosistem, dan mengembangkan pemanfaatan potensi alam tanpa mengabaikan kelestariannya. Pengalaman di lapangan juga mendorong peserta untuk menghubungkan pengetahuan yang diperoleh dengan nilai tanggung jawab, kemandirian, dan kepedulian sosial.
Pembelajaran berbasis pengalaman ini dirancang agar para santri dapat mengamati, bertanya, dan menarik pemahaman dari lingkungan secara langsung. Dengan demikian, PPSN VI 2026 tidak hanya membentuk keterampilan kepramukaan dan semangat kebersamaan, tetapi juga menanamkan kesadaran ekologis. Kunjungan ke Boon Pring diharapkan menjadi pengalaman yang memperkuat komitmen peserta untuk menjaga alam serta menerapkan perilaku berkelanjutan di lingkungan sekolah, pesantren, keluarga, dan masyarakat.
Selama berada di Boon Pring, para santri memperoleh kesempatan untuk mengamati secara langsung hubungan masyarakat, lingkungan, dan sumber daya alam di sekitarnya. Pengalaman tersebut memperkenalkan mereka pada cara pengelolaan wilayah yang tidak hanya memperhatikan pemanfaatan potensi alam, tetapi juga menjaga keberlangsungannya. Lingkungan dipahami sebagai bagian penting dari kehidupan bersama yang memerlukan perhatian, tanggung jawab, dan keterlibatan berbagai pihak.
Pengelolaan alam berbasis masyarakat menunjukkan bahwa pelestarian dapat berjalan berdampingan dengan pemanfaatan sumber daya secara bijaksana. Masyarakat memiliki peran dalam merawat lingkungan karena mereka berinteraksi secara langsung dengan wilayah dan potensi yang tersedia. Melalui pemahaman ini, para santri melihat bahwa upaya menjaga alam tidak semata-mata bergantung pada aturan atau lembaga tertentu, melainkan juga pada kesadaran kolektif dan kebiasaan yang dibangun dalam kehidupan sehari-hari.
Pengamatan di Boon Pring menjadi ruang pembelajaran kontekstual bagi para santri. Mereka dapat memahami bahwa keberlanjutan bukan hanya gagasan yang dibahas secara teoritis, tetapi juga prinsip yang diterapkan dalam pengelolaan lingkungan. Pemanfaatan sumber daya alam perlu dilakukan dengan mempertimbangkan keseimbangan ekologis, kepentingan masyarakat, serta kebutuhan generasi mendatang. Perspektif tersebut membantu peserta menghubungkan pengetahuan tentang energi terbarukan dan pelestarian alam dengan kondisi nyata di wilayah yang mereka kunjungi.
Pengalaman ini juga menanamkan kesadaran bahwa potensi daerah dapat dikelola secara produktif tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan. Ketika masyarakat terlibat dalam menjaga alam, pemanfaatan wilayah dapat berlangsung secara lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan. Bagi para santri, pembelajaran tersebut memperluas cara pandang mengenai pentingnya kepedulian ekologis, kerja sama, dan tanggung jawab sosial. Boon Pring menjadi contoh bahwa pelestarian alam dapat tumbuh dari keterlibatan masyarakat serta penghargaan terhadap sumber daya yang dimiliki bersama.
Kunjungan Pramuka Santri PPSN VI 2026 ke kawasan Boon Pring memberikan kesempatan bagi peserta untuk memahami pemanfaatan aliran air melalui pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH). Teknologi ini menggunakan energi dari gerakan atau aliran air untuk menggerakkan turbin, kemudian menghasilkan listrik melalui generator. Dari pengamatan tersebut, para santri melihat bahwa sumber daya air tidak hanya memiliki nilai ekologis, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan yang mendukung kehidupan masyarakat.
Di lokasi, peserta dapat memperhatikan hubungan kondisi lingkungan, aliran air, dan proses pengelolaan energi. Air yang mengalir diarahkan melalui bagian tertentu menuju turbin. Pergerakan turbin selanjutnya dimanfaatkan untuk menghasilkan tenaga listrik sesuai kapasitas pembangkit. Penjelasan mengenai tahapan tersebut membantu peserta menghubungkan konsep energi terbarukan yang dipelajari secara teori dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pengamatan langsung memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan menerima pengetahuan hanya melalui buku, ceramah, atau materi pembelajaran. Para santri dapat menyaksikan bentuk peralatan, memahami fungsi setiap bagian secara lebih nyata, serta mengamati bagaimana teknologi mikrohidro dioperasikan dan dikelola. Pengalaman ini juga memperlihatkan bahwa pemanfaatan energi membutuhkan kesesuaian teknologi, potensi alam, dan kebutuhan masyarakat di sekitarnya.
Keberadaan PLTMH menunjukkan bahwa aliran air dapat berperan dalam membantu memenuhi kebutuhan energi masyarakat tanpa bergantung sepenuhnya pada sumber energi konvensional. Pada saat yang sama, pengelolaannya perlu memperhatikan kelestarian lingkungan dan keberlanjutan sumber air. Melalui kunjungan ini, peserta memperoleh gambaran nyata mengenai praktik pengelolaan energi dan lingkungan, sekaligus memahami pentingnya menjaga ekosistem agar manfaat sumber daya air dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat.
Kepala Desa Sanankerto, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, H. Subur, menjelaskan bahwa bambu menjadi salah satu potensi penting di kawasan Boon Pring. Tanaman ini tidak hanya mendukung karakter ekowisata, tetapi juga memiliki manfaat ekologis dan ekonomi yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan. Keberadaan bambu memperlihatkan bahwa sumber daya alam di desa dapat memberikan manfaat bagi lingkungan sekaligus membuka peluang pemanfaatan bagi masyarakat.
Secara ekologis, bambu berperan dalam membantu menjaga keseimbangan lingkungan. Sistem perakarannya yang kuat dan menyebar mampu menahan partikel tanah, sehingga membantu mengurangi risiko erosi, terutama pada area yang memiliki kemiringan atau berada di sekitar aliran air. Bambu juga membantu memperkuat struktur tanah karena akar dan rimpangnya mengikat lapisan tanah secara alami. Pertumbuhan rumpun bambu dapat mendukung kestabilan lahan, menjaga kelembapan, serta membantu kawasan tetap memiliki vegetasi yang berfungsi dalam menjaga kondisi lingkungan.
Selain fungsi ekologis tersebut, bambu mempunyai nilai ekonomi yang luas. Batangnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari struktur sederhana hingga elemen pendukung pada bangunan yang mengusung konsep alami. Karakter bambu yang kuat, ringan, dan mudah diolah menjadikannya material yang dapat digunakan sesuai kebutuhan masyarakat. Pemanfaatan ini juga dapat mengurangi ketergantungan pada bahan tertentu, sekaligus mempertahankan penggunaan material yang tersedia di lingkungan sekitar.
Bambu juga dapat diolah menjadi beragam kerajinan, seperti anyaman, hiasan, perabot, dan cendera mata. Dalam kehidupan sehari-hari, bahan tersebut dapat digunakan untuk membuat perlengkapan rumah tangga, termasuk wadah, tempat penyimpanan, peralatan dapur, dan berbagai kebutuhan lainnya. Produk olahan bambu memiliki nilai tambah ketika dirancang dengan baik dan disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Pengembangan keterampilan pengolahan bambu dapat mendorong lahirnya produk bernilai ekonomi serta memperkuat pemanfaatan potensi lokal Boon Pring sebagaimana dijelaskan H. Subur.






