Forum Investasi Jawa Timur Menghasilkan Komitmen Bisnis Senilai Rp2,4 Triliun

Forum Investasi Jawa Timur Menghasilkan Komitmen Bisnis Senilai Rp2,4 Triliun

SURABAYA, JAWA TIMUR — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 4 October 2026, East Java Investment Forum (EJIF) 2026 mencatat capaian penting dengan terbentuknya 12 komitmen bisnis yang memiliki nilai keseluruhan mencapai Rp2,4 triliun. Kesepakatan tersebut menunjukkan bahwa Jawa Timur tetap menjadi salah satu wilayah yang menarik bagi pelaku usaha dan investor, baik dari dalam negeri maupun dari luar daerah. Forum ini menjadi ruang pertemuan strategis untuk mempertemukan pemerintah, perbankan, dunia usaha, serta calon investor dalam membahas peluang kerja sama dan pengembangan sektor-sektor unggulan.

Nilai komitmen yang dihasilkan melalui forum investasi tersebut berpotensi memperkuat pertumbuhan ekonomi Jawa Timur. Realisasi berbagai rencana bisnis diharapkan dapat mendorong peningkatan kapasitas produksi, memperluas aktivitas usaha, dan menciptakan rantai pasok baru di sejumlah daerah. Selain memberikan dampak terhadap kinerja ekonomi regional, masuknya investasi juga membuka peluang penyerapan tenaga kerja, khususnya apabila diarahkan pada sektor-sektor yang memiliki keterkaitan kuat dengan masyarakat dan usaha mikro, kecil, serta menengah.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur Ibrahim menyampaikan bahwa momentum investasi di Jawa Timur perlu terus didukung melalui sinergi dan kolaborasi. Menurutnya, investasi tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja dan pengentasan kemiskinan. Karena itu, tindak lanjut atas 12 komitmen bisnis tersebut menjadi hal penting agar kesepakatan tidak berhenti pada forum, melainkan berlanjut menjadi proyek dan kegiatan usaha yang memberikan manfaat luas.

Pernyataan itu disampaikan Ibrahim di Surabaya, Jawa Timur, pada Minggu (4/10). Ia menegaskan bahwa keberlanjutan investasi membutuhkan koordinasi pemangku kepentingan, kepastian kebijakan, serta dukungan terhadap kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia. Dengan pendekatan tersebut, capaian EJIF 2026 dapat menjadi pijakan untuk memperluas kerja sama ekonomi dan memperkuat daya saing Jawa Timur secara berkelanjutan.

Ibrahim menilai bahwa perkembangan investasi yang sehat tidak cukup diukur dari besarnya modal yang masuk atau banyaknya komitmen bisnis yang tercatat. Investasi perlu tumbuh dalam lingkungan ekonomi yang mampu menjaga kesinambungan dan memberikan kepastian bagi pelaku usaha. Karena itu, kondisi investasi yang baik harus ditopang oleh tiga fondasi utama, yaitu keberlanjutan fiskal, stabilitas sistem keuangan, dan sistem pembayaran yang andal. Ketiganya saling berkaitan dalam membentuk ekosistem ekonomi yang mendukung pertumbuhan jangka panjang.

Keberlanjutan fiskal menjadi unsur penting karena mencerminkan kemampuan perekonomian dalam menjaga keseimbangan dan memenuhi kebutuhan pembangunan secara konsisten. Stabilitas tersebut membantu menciptakan keyakinan bagi investor bahwa kegiatan ekonomi dapat berlangsung dalam kerangka yang terkelola. Pada saat yang sama, stabilitas sistem keuangan diperlukan untuk memastikan aktivitas pembiayaan dan intermediasi tetap berjalan secara baik. Sistem keuangan yang stabil dapat memperkuat kepercayaan, menjaga kelancaran kegiatan usaha, serta mendukung hubungan yang sehat kebutuhan investasi dan kapasitas pembiayaan.

Sistem pembayaran juga memiliki peran mendasar dalam menunjang aktivitas ekonomi. Kelancaran transaksi memungkinkan kegiatan usaha dan investasi berjalan lebih efektif, sekaligus memperkuat keterhubungan antar pelaku ekonomi. Dalam pandangan Ibrahim, ketiga aspek tersebut tidak dapat dipisahkan. Keberlanjutan fiskal, stabilitas sistem keuangan, dan sistem pembayaran yang baik harus bergerak secara sinergis sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Dukungan terhadap investasi dengan demikian bukan hanya berkaitan dengan masuknya modal, melainkan juga dengan kemampuan berbagai lembaga untuk menjaga kestabilan ekosistem ekonomi. Sinergi antarlembaga diperlukan agar iklim investasi tetap terjaga, sehingga komitmen bisnis dapat berkembang menjadi kegiatan ekonomi yang berkelanjutan dan memberikan dasar yang kuat bagi pertumbuhan di masa mendatang.

East Java Investment Forum (EJIF) 2026 yang diselenggarakan pada 1–2 Oktober 2026 menghadirkan rangkaian penawaran proyek kepada investor domestik dan global. Forum ini menawarkan 28 proyek Investment Project Ready to Offer (IPRO) dengan total potensi investasi mencapai Rp73,7 triliun. Seluruh proyek tersebut telah dipersiapkan untuk mempertemukan kebutuhan pembangunan daerah dengan minat investasi yang memiliki kapasitas pendanaan dan keahlian teknis.

Portofolio proyek mencakup sejumlah sektor strategis, yaitu manufaktur, pariwisata, infrastruktur, dan agroindustri. Keragaman sektor tersebut memberikan pilihan bagi investor dengan berbagai profil, mulai dari perusahaan yang mencari peluang pengembangan fasilitas produksi hingga pihak yang berminat pada pengelolaan destinasi wisata, pembangunan konektivitas, serta pengolahan komoditas pertanian. Penawaran IPRO juga diharapkan memperkuat nilai tambah ekonomi dan membuka peluang kemitraan jangka panjang di Jawa Timur.

EJIF 2026 mempertemukan pelaku usaha, calon investor, pemilik proyek, pemerintah daerah, serta lembaga keuangan dalam satu forum bisnis. Keterlibatan berbagai pihak memungkinkan pembahasan proyek dilakukan secara lebih terarah, termasuk mengenai model kerja sama, kebutuhan pembiayaan, perizinan, dan kesiapan pelaksanaan. Dari sisi internasional, forum ini melibatkan investor atau perwakilan bisnis dari Inggris, Belanda, Australia, Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, Arab Saudi, Singapura, dan Malaysia. Kehadiran mereka memperluas jejaring promosi investasi sekaligus membuka peluang masuknya modal dan teknologi dari berbagai negara.

Selain 28 proyek IPRO, forum tersebut menawarkan tujuh kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus sebagai lokasi potensial untuk kegiatan usaha baru maupun perluasan bisnis. Pemerintah daerah juga membawa 80 aset potensial yang dapat dikembangkan melalui skema kerja sama investasi. Penawaran tambahan datang dari sektor perbankan, berupa sejumlah proyek potensial yang dapat mendukung penguatan layanan keuangan dan pembiayaan kegiatan ekonomi. Dengan variasi penawaran tersebut, EJIF 2026 menjadi ruang untuk menyelaraskan proyek siap investasi, aset daerah, dan dukungan pembiayaan dengan kebutuhan investor.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyampaikan bahwa pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten dan kota terus memperkuat dukungan untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif. Dukungan tersebut diarahkan untuk memberikan kepastian, kemudahan, serta ruang pengembangan bagi investor dan pelaku usaha yang ingin menanamkan modal di Jawa Timur. Menurutnya, sinergi berbagai tingkatan pemerintahan menjadi unsur penting dalam menjaga kepercayaan dunia usaha sekaligus mendorong realisasi investasi di daerah.

Emil menyebut sektor manufaktur dan pertanian sebagai modal dasar sekaligus daya tarik bagi investor untuk mengembangkan usaha di Jawa Timur. Manufaktur memiliki peran dalam memperkuat kegiatan produksi, meningkatkan nilai tambah, dan membuka peluang kerja, sedangkan pertanian menyediakan basis ekonomi yang berkaitan dengan ketersediaan sumber daya serta kebutuhan rantai pasok. Penguatan kedua sektor tersebut diharapkan dapat memperluas kesempatan investasi dan mendukung pertumbuhan usaha yang berkelanjutan di berbagai wilayah.

Agenda EJIF 2026 turut diisi diskusi panel yang menghadirkan Danantara Indonesia, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, serta Kamar Dagang dan Industri Jawa Timur. Forum ini membahas prospek investasi di Jawa Timur, termasuk peluang pengembangan sektor strategis dan faktor yang perlu diperhatikan oleh calon investor. Para pembicara juga menguraikan dukungan pemerintah terhadap dunia usaha, baik melalui kebijakan, fasilitasi, maupun penguatan koordinasi pemangku kepentingan.

Pembahasan tersebut menempatkan forum investasi sebagai ruang untuk mempertemukan kepentingan pemerintah dengan kebutuhan investor dan pelaku usaha. Pertukaran pandangan bersama lembaga keuangan juga diperlukan agar peluang bisnis dapat ditindaklanjuti melalui skema pembiayaan yang sesuai. Dengan demikian, rangkaian agenda EJIF 2026 memperkuat kolaborasi pemerintah, investor, pelaku usaha, dan lembaga keuangan dalam mendukung pengembangan kegiatan ekonomi di Jawa Timur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *