News  

Setengah Abad Menapaki Kehidupan, Sehan Ambaru: Umur Bukan Sekadar Angka, Waktu Adalah Amanah.

SULAWESI UTARA — Momentum ulang tahun ke-50 tidak dimaknai Sehan Ambaru sekadar sebagai perayaan bertambahnya usia. Tepat pada 22 Agustus, ia memilih menjadikan setengah abad perjalanan hidup sebagai momentum perenungan tentang umur, waktu, keluarga, pengabdian, serta arti menjadi manusia yang bermanfaat.

Di tengah kehidupan yang terus bergerak cepat, refleksi Sehan mengingatkan bahwa manusia sesungguhnya tidak pernah memiliki waktu. Manusia hanya diberi kesempatan untuk menjalaninya.

Setiap detik yang berlalu menjadi bagian dari perjalanan yang tidak dapat diulang. Uang yang hilang masih mungkin dicari, kesempatan yang terlewat terkadang masih dapat diperoleh kembali, tetapi waktu yang telah pergi tidak akan pernah kembali.

Bagi Sehan, usia bukan hanya tentang bertambahnya angka pada kalender. Umur adalah catatan perjalanan tentang bagaimana seseorang menggunakan kesempatan hidup yang diberikan Tuhan.

Ada orang yang masih muda tetapi telah kehilangan semangat, sementara ada pula yang telah memasuki usia senja namun tetap memiliki energi, optimisme dan kepedulian yang luar biasa.

Karena itu, menurutnya, pertanyaan terpenting dalam kehidupan bukan sekadar “berapa lama kita hidup?”, melainkan “untuk apa kita hidup selama itu?”

Setengah Abad, Saatnya Melihat Kembali Perjalanan

Memasuki usia 50 tahun menjadi titik refleksi tersendiri bagi Sehan Ambaru.

Ia menggambarkan perjalanan hidup seperti menaiki sebuah tangga. Setiap anak tangga menyimpan pengalaman, perjuangan, keberhasilan, kegagalan, pertemuan, kehilangan dan pelajaran.

Ketika seseorang telah mencapai usia setengah abad, maka semakin kuat pula kesadaran bahwa perjalanan kehidupan di dunia memiliki batas.

Jarum jam terus bergerak. Tidak ada tombol untuk menghentikannya, apalagi mengembalikannya ke masa lalu.

Kesadaran tersebut membuat Sehan memilih untuk lebih menghargai waktu yang masih dimiliki.

“Umur terus berjalan, namun tidak semua orang benar-benar bertumbuh. Sebagian hanya sekadar menambah angka,” menjadi salah satu pesan reflektif yang disampaikannya.

Menurutnya, panjang umur tidak otomatis berarti panjang pula manfaat yang diberikan kepada orang lain. Sebab kehidupan akan memiliki nilai ketika keberadaan seseorang mampu memberikan arti bagi keluarga, lingkungan dan masyarakat.

Waktu, Kekayaan yang Tidak Bisa Dibeli

Dalam refleksinya, Sehan juga mengangkat kedudukan waktu dalam perspektif Islam.

Allah SWT memberikan perhatian besar terhadap waktu dalam Al-Qur’an, antara lain melalui Surah Al-Fajr, Ad-Dhuha, Al-Lail dan Al-‘Ashr.

Surah Al-‘Ashr secara khusus menjadi pengingat bahwa manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menguatkan dalam kesabaran.

Pesan tersebut menjadi relevan dalam kehidupan modern ketika manusia sering kali sibuk mengejar materi, jabatan, popularitas dan pengakuan, tetapi lupa bahwa seluruh pencapaian tersebut tetap berada dalam batas waktu.

“Waktu bukanlah uang. Jika uang habis, masih dapat dicari lagi. Namun waktu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali,” demikian refleksi Sehan.

Karena itu, menurutnya, manusia yang benar-benar memahami arti kehidupan akan lebih selektif dalam menggunakan waktunya.

Sebab ketika seseorang memberikan waktunya kepada orang lain, sesungguhnya ia sedang memberikan sebagian dari hidupnya.

Menjadi Manusia yang Meninggalkan Jejak Kebaikan

Sehan memandang waktu sebagai guru yang tidak pernah berbicara, tetapi selalu memberikan pelajaran.

Waktu memperlihatkan siapa yang benar-benar tulus dan siapa yang hanya datang ketika membutuhkan. Waktu juga mengajarkan kesabaran, mendewasakan hati, menyembuhkan luka dan memperlihatkan nilai sebuah kebersamaan.

Memasuki usia setengah abad, ia berharap sisa perjalanan hidupnya tidak hanya diisi dengan mengejar kepentingan pribadi.

Sebaliknya, ia ingin menjadikan setiap kesempatan yang masih diberikan sebagai ruang untuk memberikan manfaat.

Pertanyaan tentang sisa umur pun menjadi renungan penting: untuk siapa waktu yang masih tersisa akan digunakan?
Untuk orang tua? Untuk saudara? Untuk pasangan dan anak-anak? Untuk sahabat? Untuk masyarakat? Atau untuk sebanyak mungkin kebaikan?

Bagi Sehan, jawabannya sudah jelas.

“Pilihanku sudah bulat: aku ingin bermanfaat bagi siapa saja, di mana saja, dan kapan saja.”

Pernyataan tersebut menjadi pesan utama dalam refleksi ulang tahunnya.

Setengah abad bukan sekadar angka. Ia adalah perjalanan panjang yang seharusnya melahirkan kebijaksanaan.

Di usia yang semakin matang, manusia semestinya tidak lagi sibuk membuktikan dirinya kepada semua orang. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa keberadaannya membawa ketenangan, manfaat dan kebaikan bagi orang-orang di sekitarnya.

Sebab pada akhirnya, ketika seluruh gelar, jabatan, harta dan popularitas ditinggalkan, yang akan tetap dikenang adalah jejak kebaikan yang pernah ditanamkan.

Dari momentum 22 Agustus, Sehan Ambaru menyampaikan sebuah pesan sederhana untuk siapa saja yang masih diberikan kesempatan menikmati kehidupan:

Hargai umur. Jangan sia-siakan waktu. Jaga orang-orang yang tulus. Perbanyak kebaikan. Dan gunakan sisa perjalanan hidup untuk menjadi manusia yang bermanfaat.

Karena waktu akan terus berjalan tanpa menunggu siapa pun.

Dan ketika perjalanan itu akhirnya sampai pada batasnya, tidak ada yang dapat dibawa selain amal, kenangan dan jejak kebaikan yang pernah ditinggalkan.

✍️ Penulis: Sehan Ambaru
📅 22 Agustus — Mengenang perjalanan masa: 1926 & 1976

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *