JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 October 2026, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) resmi membuka pendaftaran program riset sosial humaniora bertajuk Ruang Uji Pemikiran Alternatif (Rupa) Future Society 2026. Program ini ditujukan bagi tim peneliti yang ingin mengembangkan kajian mengenai dinamika masyarakat Indonesia serta merumuskan gagasan alternatif untuk menghadapi perubahan sosial pada masa mendatang. Melalui skema pendanaan yang disediakan, setiap tim berkesempatan memperoleh dukungan riset hingga Rp250 juta.
Rupa Future Society 2026 merupakan bagian dari Program Riset dan Inovasi Strategis (PRIS) yang dijalankan oleh Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial Humaniora (OR IPSH) BRIN melalui Pusat Riset Kependudukan. Penyelenggaraan program ini menegaskan upaya BRIN dalam memperkuat penelitian lintas disiplin yang relevan dengan kebutuhan pembangunan nasional. Pendaftaran tersebut juga membuka ruang bagi peneliti untuk menyampaikan perspektif baru, menguji asumsi yang berkembang, serta menghasilkan rekomendasi berbasis bukti.
Fokus utama kajian diarahkan pada perubahan masyarakat Indonesia menuju 2045. Peneliti dapat menelaah isu kependudukan, transformasi sosial, kebudayaan, tata kelola, ketimpangan, maupun tantangan lain yang berpotensi memengaruhi masa depan bangsa. Analisis diharapkan memanfaatkan pendekatan ilmu humaniora dan ilmu sosial secara terpadu, dengan dukungan big data, citizen social science, serta strategic foresight. Kombinasi pendekatan tersebut memungkinkan penelitian membaca pola perubahan secara lebih luas, melibatkan masyarakat sebagai sumber pengetahuan, dan menyusun berbagai kemungkinan masa depan. Hasilnya diharapkan tidak hanya memperkaya khazanah akademik, tetapi juga membantu pemangku kepentingan merancang kebijakan yang adaptif, inklusif, dan berorientasi pada kepentingan publik.
Program riset sosial dan humaniora BRIN 2026 menyiapkan skema pendanaan bagi sepuluh tim peneliti terpilih. Masing-masing tim berpeluang memperoleh dukungan anggaran maksimal Rp250 juta untuk melaksanakan penelitian selama delapan bulan pada tahun pertama. Skema ini dirancang untuk membantu tim menjalankan tahapan riset secara terarah, mulai dari penyusunan rancangan, pengumpulan data, analisis, hingga penyusunan keluaran penelitian yang relevan bagi pengembangan pengetahuan dan kebijakan.
Dana tersebut akan dialokasikan kepada sepuluh tim yang melakukan kajian di sepuluh provinsi lokus. Penetapan wilayah penelitian dimaksudkan agar kajian dapat menangkap keragaman kondisi sosial, demografi, budaya, serta dinamika ekonomi masyarakat di berbagai daerah. Dengan cakupan lokasi yang tersebar, program ini diharapkan mampu menghasilkan gambaran yang lebih menyeluruh mengenai trajektori perubahan masyarakat Indonesia, termasuk faktor yang mendorong perubahan, bentuk adaptasi yang muncul, dan tantangan yang mungkin berkembang di masa mendatang.
Ali Yansyah Abdurrahim, koordinator tim Rupa Future Society sekaligus Kepala Pusat Riset Kependudukan BRIN, menjelaskan bahwa arah kajian berfokus pada upaya memahami perubahan masyarakat secara lebih mendalam dan berbasis bukti. Menurutnya, penelitian tidak hanya perlu mencatat kondisi sosial yang berlangsung, tetapi juga membaca kecenderungan perubahan serta implikasinya bagi masa depan Indonesia. Dukungan hingga Rp250 juta per tim untuk periode pelaksanaan delapan bulan pada tahun pertama menjadi bagian penting dari upaya menyediakan ruang kerja riset yang memadai. Melalui pendanaan tersebut, setiap tim diharapkan dapat mengembangkan kajian sesuai karakteristik provinsi lokus, membangun pemahaman kontekstual, dan menyampaikan temuan yang dapat memperkaya diskusi mengenai arah perkembangan masyarakat Indonesia. Hasil penelitian dari sepuluh tim nantinya juga dapat menjadi dasar untuk mengidentifikasi pola perubahan antardaerah serta merumuskan agenda riset lanjutan.
Peserta program riset sosial humaniora BRIN 2026 tidak mendaftar secara perseorangan, melainkan wajib membentuk tim kolaborasi. Setiap tim harus terdiri atas paling sedikit tiga orang dan paling banyak delapan orang. Komposisi ini dirancang agar penelitian memiliki pembagian peran yang jelas, mulai dari perumusan metodologi, pengumpulan data, analisis, hingga penyusunan rekomendasi. Dengan jumlah anggota yang proporsional, tim diharapkan mampu menggabungkan keahlian yang relevan tanpa mengurangi efektivitas koordinasi selama pelaksanaan riset.
Salah satu ketentuan utama ialah setiap tim wajib menyertakan sekurang-kurangnya satu periset yang berafiliasi dengan Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora (OR IPSH) BRIN. Keterlibatan periset tersebut menjadi unsur penting untuk mendukung mutu akademik, kesesuaian rancangan penelitian, serta keterhubungan proposal dengan agenda riset BRIN. Selain memenuhi persyaratan administratif, proposal juga didorong untuk melibatkan akademisi dari perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan organisasi masyarakat sipil yang berada atau bekerja di wilayah penelitian. Kolaborasi lintas institusi ini diharapkan memperkaya perspektif, memperkuat akses terhadap data lapangan, dan meningkatkan kemungkinan hasil riset dimanfaatkan oleh pemangku kepentingan.
Adapun wilayah kajian telah ditentukan pada sepuluh provinsi yang merepresentasikan beragam konteks sosial, budaya, ekonomi, dan tata kelola. Provinsi tersebut meliputi Aceh, Lampung, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Maluku. Peneliti perlu memastikan bahwa fokus, metode, serta rencana kerja dalam proposal sesuai dengan karakteristik wilayah yang dipilih. Penetapan lokus ini juga membuka ruang bagi kajian komparatif antardaerah, terutama untuk mengidentifikasi persamaan, perbedaan, serta praktik yang dapat direplikasi. Melalui susunan tim yang inklusif dan pemilihan lokasi yang terarah, program diharapkan menghasilkan temuan yang kuat secara ilmiah sekaligus relevan bagi kebutuhan masyarakat dan kebijakan daerah.
Pengusul program riset sosial dan humaniora BRIN 2026 perlu memenuhi kualifikasi yang telah ditetapkan sebelum mengajukan proposal. Ketua tim sekurang-kurangnya berpendidikan magister atau S2. Selain kualifikasi akademik, ketua tim juga harus memiliki rekam jejak penelitian yang relevan dengan topik atau bidang kajian yang diusulkan. Rekam jejak tersebut menjadi salah satu pertimbangan penting untuk menunjukkan kapasitas pengusul dalam merancang, melaksanakan, dan mempertanggungjawabkan kegiatan riset secara ilmiah.
Anggota tim sekurang-kurangnya harus memiliki pendidikan sarjana atau S1. Komposisi tersebut diharapkan dapat mendukung pembagian tugas penelitian secara proporsional, sesuai kompetensi dan pengalaman setiap anggota. Seluruh anggota tim, termasuk ketua, juga diwajibkan memiliki asuransi kesehatan yang masih aktif. Kepesertaan BPJS Kesehatan dapat digunakan sebagai salah satu bentuk perlindungan kesehatan, sepanjang status kepesertaannya dapat dibuktikan dan tetap berlaku selama proses pelaksanaan penelitian. Calon pengusul sebaiknya memeriksa kembali kelengkapan data pribadi, bukti pendidikan, rekam jejak penelitian, serta dokumen pendukung lain sebelum mengunggah proposal.
Pendaftaran dan pengunggahan dokumen proposal dibuka hingga 15 Oktober 2026. Setelah masa pengajuan berakhir, proposal akan melalui tahapan seleksi administrasi dan penilaian substansi. Karena itu, tim perlu memastikan seluruh persyaratan telah terpenuhi dan dokumen diunggah sesuai ketentuan sebelum batas waktu tersebut. Proposal yang lolos seluruh tahapan seleksi akan diumumkan pada 30 Oktober 2026. Informasi lebih lanjut mengenai persyaratan, mekanisme pendaftaran, format dokumen, serta tahapan seleksi dapat diakses melalui tautan resmi program di https://s.brin.go.id/i/rupa-futuresociety.

