Tiga Fondasi yang Disiapkan Indonesia untuk Menjadi Basis Data Center AI

Airlangga Ungkap Kesan terhadap Maung sebagai Kendaraan Dinas Baru

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 6 October 2026, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa Indonesia memiliki peluang untuk menjadi basis atau markas industri data center di tengah pesatnya perkembangan artificial intelligence (AI). Peluang tersebut dapat dikembangkan apabila Indonesia menyiapkan sejumlah kebutuhan utama yang mendukung pembangunan dan operasional pusat data.

Dalam keynote speech pada acara Big Indonesia Insight 2026 di Jakarta, Selasa, 6 Oktober, Airlangga menyebut terdapat tiga kebutuhan utama yang harus dipenuhi. Ketiganya adalah ketersediaan lahan, listrik, dan air. Menurut dia, tiga fondasi tersebut menjadi syarat penting bagi pengembangan data center yang menopang kebutuhan industri AI.

Ketersediaan lahan diperlukan untuk membangun fasilitas data center, sedangkan listrik menjadi kebutuhan utama untuk menjalankan berbagai perangkat dan sistem di dalamnya. Adapun air juga dibutuhkan sebagai bagian dari kebutuhan operasional pusat data. Karena itu, kesiapan ketiga aspek tersebut menjadi perhatian dalam melihat peluang Indonesia sebagai basis industri data center.

Pernyataan Airlangga menempatkan lahan, listrik, dan air sebagai tiga fondasi yang perlu disiapkan secara bersamaan. Perkembangan AI yang berlangsung pesat meningkatkan kebutuhan terhadap infrastruktur data center. Dengan memenuhi tiga kebutuhan tersebut, Indonesia memiliki dasar untuk mengembangkan peran sebagai basis atau markas industri data center.

Airlangga menegaskan bahwa pembahasan mengenai peluang tersebut tidak terlepas dari kesiapan infrastruktur pendukung. Data center AI membutuhkan dukungan yang memadai agar dapat dibangun dan beroperasi. Oleh sebab itu, penyediaan lahan, pasokan listrik, serta ketersediaan air menjadi syarat utama yang harus diperhatikan Indonesia dalam mengembangkan industri tersebut.

Perkembangan kecerdasan artifisial (AI) telah memicu perlombaan baru di berbagai negara. Pemerintah dan pelaku industri berlomba membangun kemampuan komputasi, mengembangkan model AI, serta menciptakan ekosistem yang mampu mendukung pemanfaatannya di sektor ekonomi. Persaingan tersebut tidak hanya berlangsung dalam penguasaan teknologi dan sumber daya manusia, tetapi juga mendorong kebutuhan terhadap infrastruktur digital dengan kapasitas yang jauh lebih besar.

Airlangga Hartarto memandang AI sebagai game changer yang berpotensi mengubah cara industri beroperasi dan masyarakat memanfaatkan layanan digital. Menurut pandangan tersebut, AI juga akan melahirkan berbagai industri baru, salah satunya industri pusat data. Pusat data menjadi komponen penting karena pengembangan dan pengoperasian sistem AI memerlukan kapasitas penyimpanan, pemrosesan, serta konektivitas yang andal. Meningkatnya penggunaan model AI, layanan komputasi awan, dan aplikasi berbasis data akan memperbesar permintaan terhadap fasilitas tersebut.

Pembangunan pusat data dalam skala besar tidak dapat dilakukan hanya dengan menyediakan bangunan dan perangkat teknologi. Ketersediaan lahan yang sesuai menjadi faktor awal, terutama untuk memastikan ruang ekspansi dan keamanan operasional dalam jangka panjang. Selain itu, pasokan listrik yang stabil dan berkelanjutan sangat diperlukan karena server serta perangkat pendingin beroperasi sepanjang waktu. Kebutuhan air juga perlu diperhatikan, khususnya dalam sistem pendinginan tertentu, sehingga pengelolaannya harus mempertimbangkan efisiensi dan keberlanjutan lingkungan.

Besarnya kebutuhan infrastruktur itu sekaligus membuka peluang bagi Indonesia. Airlangga menilai Indonesia memiliki sejumlah modal untuk menangkap peluang sebagai basis pusat data AI, lain luas wilayah, potensi energi, pasar digital yang besar, serta posisi strategis di kawasan. Apabila didukung kebijakan yang konsisten, kepastian investasi, jaringan telekomunikasi, dan pengembangan energi yang memadai, modal tersebut dapat memperkuat daya saing Indonesia dalam menarik investasi pusat data. Dengan demikian, pembangunan infrastruktur perlu dipandang sebagai bagian dari strategi industri nasional, bukan sekadar proyek teknologi.

Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Digital di Bintan, Kepulauan Riau, menjadi salah satu fondasi yang disiapkan Indonesia untuk memperkuat industri digital dan menarik investasi pusat data. Lokasinya memiliki nilai strategis karena berada dekat dengan Singapura serta terhubung dengan jalur perdagangan regional. Kedekatan tersebut dapat mendukung kebutuhan perusahaan teknologi yang melayani pasar Asia Tenggara, sekaligus membuka peluang pengembangan ekosistem digital di dalam negeri.

Pemerintah menyampaikan bahwa kawasan digital di Bintan telah dipenuhi investor atau disebut sold out. Kondisi ini menunjukkan adanya permintaan yang kuat terhadap lahan dan fasilitas untuk kegiatan berbasis teknologi, termasuk pembangunan pusat data. Status tersebut juga mencerminkan bahwa pengembangan kawasan tidak berhenti pada tahap perencanaan, melainkan telah menarik minat usaha secara nyata.

Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, terpenuhinya kawasan Bintan berkaitan dengan terpenuhinya persyaratan yang dibutuhkan untuk pengembangan data center. Persyaratan itu mencakup dukungan lahan, infrastruktur, konektivitas, serta lingkungan investasi yang memungkinkan operasional pusat data berjalan secara andal. Pernyataan tersebut tidak berarti seluruh kebutuhan nasional telah tercukupi, tetapi menegaskan bahwa Bintan telah memenuhi prasyarat penting untuk menjadi lokasi pengembangan industri ini.

Karena kapasitas kawasan yang tersedia disebut telah penuh, pemerintah menyiapkan ekspansi KEK Digital Bintan. Perluasan ini diarahkan untuk menampung tambahan investasi dan menjawab kebutuhan ruang bagi pembangunan pusat data berikut fasilitas pendukungnya. Ekspansi juga dapat memperkuat kepastian bagi investor, karena pertumbuhan industri digital membutuhkan ketersediaan lahan, pasokan energi, jaringan telekomunikasi, dan layanan pendukung dalam skala besar.

Dengan demikian, Bintan berperan sebagai contoh kesiapan kawasan khusus yang dirancang untuk mendukung transformasi digital Indonesia. Pengembangan lanjutan tetap perlu memperhatikan keberlanjutan energi, efisiensi penggunaan air, keamanan data, serta integrasi dengan tenaga kerja dan pelaku usaha lokal agar manfaat ekonominya dapat dirasakan secara lebih luas.

Pemerintah menyiapkan pengembangan kawasan data center di Karawang, Jawa Barat, sebagai bagian dari upaya membangun fondasi industri digital dan kecerdasan artifisial di Indonesia. Kawasan ini dinilai strategis karena berada relatif dekat dengan pusat aktivitas ekonomi serta pasar domestik yang besar. Kedekatan tersebut dapat mendukung kebutuhan perusahaan dan pengguna layanan digital terhadap infrastruktur komputasi, penyimpanan data, serta pemrosesan informasi dalam skala tinggi.

Pengembangan kawasan data center juga berkaitan erat dengan kesiapan infrastruktur pendukung, terutama pasokan listrik. Pusat data memerlukan daya yang stabil dan berkelanjutan agar berbagai sistem digital dapat beroperasi tanpa gangguan. Karena itu, pemerintah berupaya memperkuat kapasitas kelistrikan nasional untuk menopang pertumbuhan industri digital dan pembangunan data center di sejumlah wilayah, termasuk kawasan yang disiapkan di Karawang.

Dalam dua hingga tiga tahun ke depan, tambahan kapasitas listrik nasional disebut dapat mencapai sekitar 500 megawatt. Kapasitas tersebut diharapkan menjadi bagian dari dukungan infrastruktur bagi kebutuhan pusat data dan aktivitas digital yang terus berkembang. Ketersediaan listrik bukan hanya berkaitan dengan jumlah daya, melainkan juga dengan kemampuan menyediakan pasokan yang andal bagi fasilitas yang menjalankan layanan penting secara terus-menerus.

Airlangga juga menekankan bahwa pengembangan AI tidak cukup hanya mengandalkan infrastruktur komputasi dan listrik. Digitalisasi membutuhkan data yang berkualitas serta kredibel sebagai bahan utama untuk mengembangkan dan melatih sistem AI. Data yang dapat dipercaya diperlukan agar proses pengolahan informasi menghasilkan keluaran yang relevan dan dapat dipertanggungjawabkan.

Menurut penjelasan tersebut, tanpa data yang kredibel, AI tidak mampu melakukan crawling data dengan baik. Kualitas sumber dan keandalan informasi menjadi unsur penting dalam proses pengumpulan data. Oleh sebab itu, penguatan ekosistem data perlu berjalan bersama dengan pembangunan kawasan data center dan peningkatan kapasitas listrik, sehingga kebutuhan dasar bagi pengembangan AI dapat dipenuhi secara lebih terstruktur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *