News  

Disebut “Seperti Anak SLB”, Siswa SDN 24 Pangkalpinang Diduga Dikucilkan—Guru Akui Ucapan, Kepsek Minta Maaf

PangkalpinangSeorang siswa kelas III di SD Negeri 24 Pangkalpinang berinisial ATy diduga mengalami perlakuan yang dinilai tidak semestinya. Kondisi tersebut membuat pihak keluarga mempertanyakan sikap seorang guru yang juga merupakan wali kelasnya.

Menurut keterangan narasumber dan orang tua siswa, peristiwa tersebut terjadi pada Juli 2026. Persoalan bermula ketika ATy diduga menerima perlakuan yang dinilai tidak mengenakkan di lingkungan sekolah.

Menurut keterangan orang tua kepada media, pihak sekolah kemudian memanggil orang tua ATy untuk datang ke sekolah. Dalam pertemuan tersebut, orang tua mengaku terkejut atas pernyataan guru yang mengajar di kelas III terkait kondisi anak mereka.

Menurut keterangan orang tua, guru tersebut diduga mengatakan bahwa ATy “seperti anak SLB” dan menyarankan agar anak tersebut menjalani pemeriksaan oleh pihak yang berkompeten untuk menilai kondisi perkembangannya.

Merasa khawatir terhadap kondisi anaknya, orang tua kemudian mengikuti saran tersebut dengan membawa ATy untuk menjalani pemeriksaan.

Namun, menurut keterangan orang tua, hasil pemeriksaan yang diterima keluarga menyatakan bahwa kondisi ATy dinilai normal dan tidak ditemukan keluhan sebagaimana yang dikhawatirkan sebelumnya.

Orang tua kemudian kembali mendatangi pihak sekolah untuk menyampaikan hasil pemeriksaan tersebut.

Namun, menurut keterangan keluarga, persoalan belum berhenti. Pihak keluarga mengaku masih menerima perlakuan dari guru yang mereka nilai tidak semestinya terhadap anak mereka.

Diduga Diminta Tidak Berkawan dengan ATy

Persoalan yang paling membuat keluarga keberatan adalah dugaan adanya pernyataan kepada siswa lain agar tidak berteman atau bergaul dengan ATy.

Apabila keterangan tersebut benar, tindakan demikian menimbulkan pertanyaan serius karena setiap anak di lingkungan pendidikan seharusnya memperoleh rasa aman, kesempatan berinteraksi, serta perlakuan yang tidak diskriminatif.

Orang tua ATy mempertanyakan bagaimana mungkin seorang guru yang seharusnya mendidik dan membimbing siswa justru diduga mengeluarkan pernyataan yang berpotensi menyebabkan seorang anak dikucilkan dari lingkungan pertemanannya.

“Anak kami sudah diperlakukan tidak semestinya di sekolah,” demikian inti keberatan pihak keluarga sebagaimana disampaikan kepada media.

Keluarga juga mempertanyakan apakah persoalan tersebut telah ditangani secara objektif oleh pihak sekolah atau justru dianggap sebagai persoalan biasa.

Orang Tua Mempertanyakan Respons Kepala Sekolah

Orang tua juga disebut telah meminta klarifikasi kepada kepala sekolah terkait persoalan yang dialami anak mereka.

Namun, menurut keterangan keluarga, respons kepala sekolah dinilai belum memberikan jawaban yang memuaskan.

Keluarga mempertanyakan apakah laporan mengenai dugaan perlakuan terhadap ATy telah diperiksa secara menyeluruh, termasuk dengan meminta keterangan dari guru, siswa yang berada di kelas tersebut, serta orang tua.

Sebab, apabila benar terdapat siswa yang diminta menjauhi ATy, persoalan tersebut bukan sekadar masalah komunikasi antara guru dan orang tua.

Hal tersebut berpotensi berkaitan dengan kondisi psikologis serta hak anak untuk memperoleh lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman.

Bukan Sekadar Persoalan Biasa

Dalam dunia pendidikan, guru memiliki peran penting dalam membentuk karakter peserta didik. Oleh karena itu, setiap ucapan dan tindakan guru terhadap murid harus dilakukan secara hati-hati, terutama ketika menyangkut kondisi pribadi, perkembangan, maupun kemampuan seorang anak.

Jika benar terdapat ucapan yang melabeli seorang siswa dengan kondisi tertentu tanpa dasar pemeriksaan yang memadai, hal tersebut perlu diklarifikasi secara terbuka agar tidak menimbulkan stigma terhadap anak.

Terlebih apabila benar terdapat arahan kepada siswa lain untuk tidak berkawan dengan anak tersebut.

Perundungan tidak selalu berbentuk kekerasan fisik. Kekerasan verbal, pengucilan, diskriminasi, dan tekanan psikologis juga merupakan persoalan

Sumber : Tim Investigasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *